เข้าสู่ระบบหลินชิงเหยียนแต่งงานกับซ่งเหยียนจินมาได้สามปี แต่ระหว่างที่กำลังวางแผนฉลองครบรอบแต่งงานปีที่สาม เธอกลับค้นพบว่าใบทะเบียนสมรสที่อยู่ในมือนั้นเป็นของปลอม... คุณนายซ่งตัวจริงกลับกลายเป็นเพื่อนสนิทที่สุดของเธอ! ตลอดสามปีที่ผ่านมา พวกเขาและคนตระกูลซ่งทั้งหมดต่างก็หลอกเธอเหมือนคนโง่มาตลอดสามปีเต็ม สาเหตุกลับกลายเป็นเพราะเธอประสบอุบัติเหตุทางรถจนมดลูกได้รับความเสียหาย ทำให้ไม่สามารถมีลูกได้ แต่ตอนนั้นเหตุที่เธอบาดเจ็บสาหัสขนาดนั้น ก็เพราะเธอช่วยชีวิตซ่งเหยียนจินไว้นี่นา! ซ่งเหยียนจิน: ฉันรักเธอนะ แต่ฉันก็แค่อยากได้ลูกสักคนเท่านั้น! เวินรั่วอัน: ฉันไม่ได้อยากทำลายความสัมพันธ์ของพวกเธอ ฉันแค่อยากเข้ามาเป็นส่วนหนึ่งด้วยเท่านั้น! หลินชิงเหยียน: บ้าไปแล้วหรือไง! ...... ในเมื่อพวกเขาคิดว่าสนุกนัก งั้นเธอก็จะเล่นกับพวกเขาให้สนุกไปเลยเหมือนกัน แย่งโครงการในมือของเธอเหรอ? ได้สิ เธอก็หันไปแต่งกับทายาทตระกูลมหาเศรษฐี กลายเป็นฝ่ายลูกค้าเจ้าของโครงการซะเลย ไม่ยอมให้เธอมีงานแต่งเหรอ? ตระกูลมหาเศรษฐีทุ่มสินสอดมูลค่าหลายแสนล้าน งานแต่งจัดอย่างยิ่งใหญ่สะเทือนทั้งเมือง ดูถูกเธอเพราะเธอมีลูกไม่ได้เหรอ? เธอตั้งท้องแฝดในครรภ์เดียว ยิ้มมองพวกเขาอย่างสะใจที่อิจฉาจนแทบคลั่ง ...... ข่าวการแต่งงานของทายาทตระกูลมหาเศรษฐีแพร่สะพัดไปอย่างรวดเร็ว แต่ผู้คนกลับพากันรู้สึกเสียดายให้กับคุณนายตระกูลมหาเศรษฐีคนนี้ ในวงสังคมต่างก็รู้กันดีว่า คุณชายทายาทมหาเศรษฐีนั้นมีคนที่รักฝังใจอยู่ ถึงแม้หญิงคนนั้นจะแต่งงานไปแล้ว แต่เขาก็ยังลืมเธอไม่ได้อยู่ดี ว่ากันว่าตอนวันแต่งงานของหญิงคนที่เขารัก เขาเสียใจจนสุดจะทน ถึงขั้นพยายามฆ่าตัวตาย ยิ่งไปกว่านั้น ยังมีคนเห็นเขานั่งดูหนังที่รักแรกแสดงซ้ำไปซ้ำมา แล้วร้องไห้จนควบคุมตัวเองไม่ได้ พอหลินชิงเหยียนคลอดลูก และคิดว่าควรหลีกทางให้ทายาทกับรักแรกของเขา ทายาทหนุ่มก็อุ้มเธอไว้พร้อมตะโกนบอกว่าเขาถูกใส่ร้าย “ใครเป็นคนปล่อยข่าวลือเรื่องฉันนี่! ที่รัก เธอต้องเชื่อฉันนะ!”
ดูเพิ่มเติมMatahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.
Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan, dan tas kanvas yang disampirkan di bahu dengan gaya yang penting kuliah.
Di ujung parkiran, dua makhluk ajaib sudah menunggunya sambil kipas-kipas pakai buku panduan akademik.
Risti, yang dandanannya selalu siap buat kondangan, dan Leon, yang megenakan kemeja flanel namun kancing atasnya sudah menyerah karena gerah.
"Lama bener lo, Ra! Gue udah matang medium rare nunggu di sini!" semprot Leon begitu Maura sampai di hadapan mereka.
Maura nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Macet, Cuy! Biasalah, drama perempatan depan. Yuk, kantin! Seblak Bu Ida sudah memanggil jiwaku yang haus akan micin."
Ketiganya berjalan beriringan. Geng yang dikenal seantero fakultas sebagai 'Trio Bar-bar' itu memang punya aura sendiri. Bukan aura prestasi yang menyilaukan, melainkan aura keberisikan yang konsisten. Mereka tertawa lepas, membicarakan drama selebgram yang baru saja viral, sampai tiba-tiba langkah Risti melambat.
"Eh, eh... bentar. Oksigen gue mendadak tipis," bisik Risti sambil menahan lengan Maura.
Mata mereka bertiga kompak tertuju ke ujung koridor panjang yang menghubungkan gedung dekanat dengan gedung perkuliahan. Dari sana, seorang pria berjalan dengan langkah tegap. Kemeja putih slim-fit yang digulung sampai siku, celana kain berwarna arang yang disetrika licin, dan sebuah tas kulit di tangan kirinya. Wajahnya datar, seolah-olah dia memiliki filter permanen yang menyaring segala bentuk ekspresi di wajahnya.
Bumi Arkatama.
"Gila... makin hari makin cakep bener itu manusia. Pake pelet apa ya?" Risti bergumam dengan mata yang tidak berkedip. "Dingin-dingin empuk gitu mukanya."
Maura mendengus kencang, hampir mirip suara mesin yang kepanasan. "Cakep dari mana? Itu mah kulkas dua pintu jalan kaki. Nggak ada nyawanya."
"Halah, bilang aja lo iri karena nggak bisa nembus hatinya Pak Bumi," goda Leon sambil menyenggol bahu Maura.
"Dih, ogah! Yang ada gue darah tinggi tiap hari," sahut Maura cepat. Dia melirik Bumi dengan tatapan sinis yang dia sembunyikan di balik kacamatanya. "Lagian, percuma lo taksir, Ris. Dia udah mau kawin."
Risti dan Leon serentak menoleh ke arah Maura. "Hah?! Masa?!"
"Tau dari mana lo? Pak Bumi mana pernah posting cewek di I*-nya? Isinya cuma foto buku sama gedung doang," sahut Leon penuh selidik.
Maura memutar bola matanya. Hampir saja dia keceplosan bilang kalau pria yang mereka bicarakan itu tiap minggu datang ke rumahnya, duduk manis di ruang tamu sambil membahas katering pernikahan dengan kakaknya, Anindira.
"Info A1 pokoknya mah! Valid tanpa revisi. Udah, mending fokus ke seblak daripada bahas cowok kaku yang kalau ngasih nilai pelitnya ngalahin pedagang kaki lima."
Dendam Maura pada Bumi memang sudah sampai ke tulang sumsum. Bagaimana tidak? Semester lalu, Maura yang sudah begadang mengerjakan tugas analisis sastra sampai matanya mirip panda, tetap saja diberi nilai C+.
Alasannya? "Analisis Anda terlalu imajinatif dan kurang landasan teori." Padahal Maura yakin, Bumi hanya tidak suka melihatnya tertawa terlalu kencang di lorong kampus.
Jarak antara mereka dan Bumi makin menipis. Atmosfer di sekitar koridor mendadak terasa lebih sejuk, atau lebih tepatnya, mencekam. Sebagai mahasiswa yang masih punya urat sopan santun meski tipis, mereka harus menyapa.
"Pagi, Pak Bumi!" sapa Risti dengan nada suara yang sengaja diimut-imutkan.
"Pagi, Pak!" Leon menyusul dengan anggukan hormat.
Maura? Ia hanya bergumam tidak jelas, "Pagi, Pak," sambil tetap menatap lurus ke depan, pura-pura sibuk membetulkan tali tasnya.
Bumi tidak menghentikan langkahnya, hanya melambat. Kepalanya menoleh sedikit. Sepasang mata tajam di balik kacamata bening itu melirik ke arah mereka bertiga, tepatnya, matanya sempat tertuju pada Maura selama satu detik lebih lama.
Tanpa kata. Tanpa senyum. Jangankan membalas "Pagi juga", menggerakkan otot pipi saja sepertinya Bumi tidak sudi.
Dia hanya memberikan lirikan mata yang dingin, lalu kembali berjalan lurus dengan angkuh.
"Tuh, kan! Apa gue bilang!" Maura meledak begitu Bumi sudah menjauh beberapa meter. "Sombongnya sampai ke langit ke tujuh! Disapa manusia, balesnya pake lirikan jin. Kenapa sih kakak gue mau sama modelan begitu?!"
"Hah? Apa, Ra? Kakak lo?" Leon mengernyit bingung.
Maura tersentak. Waduh, mulutnya benar-benar perlu dikunci pakai gembok pagar.
"Maksud gue... kakak-kakakan! Iya, maksud gue kalau ada cewek yang mau sama dia, pasti itu cewek sabarnya seluas samudera Pasifik!" Maura berkelit cepat, mempercepat langkahnya menuju kantin dengan wajah yang mendadak merah karena hampir membongkar rahasia besarnya sendiri.
Di belakangnya, Risti dan Leon hanya saling lirik, sementara di kejauhan, Bumi Arkatama sempat melirik jam tangannya, dan kembali lurus berjalan.
Pria itu melangkah tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Tubuhnya yang tinggi tegap dibalut kemeja yang seolah tidak mengizinkan satu kerutan pun muncul. Sinar matahari yang menerobos celah ventilasi koridor memantul di kacamata beningnya, menyembunyikan sorot matanya yang selalu sulit dibaca.
Langkahnya teratur, ketukan sepatunya di lantai marmer terdengar ritmis dan tegas Suara yang biasanya sanggup membuat satu kelas mendadak senyap dalam hitungan detik. Dia adalah definisi presisi yang berjalan.
**
Pintu toilet didorong pelan, lalu terbuka dengan nyaring yang nyaris kalah oleh suara riuh koridor kampus.
Maura keluar sambil mengibas-ngibaskan tangan yang masih sedikit basah. Rambutnya yang sudah berantakan sejak pagi kini resmi naik level jadi 'tak terselamatkan.
Belum sempat dia melangkah dua langkah, HP-nya bergetar di tangan.
Mama SAYANG calling...
Tanpa berpikir dia langsung mengangkatnya, menyelipkan HP di antara telinga dan bahu sambil sibuk merapikan tasnya. Bersiap menerima rentetan pertanyaan tentang warna taplak meja atau jenis bunga dekorasi.
Tapi, bukan suara lembut Mama yang biasanya hobi bergosip soal desain kebaya, yang dia dengar. Suara di seberang sana terdengar pecah, panik, dan terengah-engah.
"Ra, kelasmu udah selesai?"
"Udah dong, Ma. Kenapa? Catering la-"
"Dira nggak ada." potong mamanya.
Langkah Maura langsung berhenti. Alisnya berkerut, dahinya mengernyit, "maksudnya nggak ada gimana?"
"Nggak ada! Dari semalem nggak pulang, HP-nya mati, kamarnya kosong. Kakak kamu kabur."
"HAH?!"
ลมหายใจของเขาหนักหน่วง ร่างกายก็เกร็งราวกับเสือดาวที่กำลังเดือดดาล เธอยกมือขึ้นลูบหลังเขาเบา ๆ อยากจะปลอบเขา แต่ทันใดนั้นกลับถูกเขาจูบอย่างรุนแรงจูบนี้ทั้งลนลานทั้งสับสน ไม่ต่างจากอารมณ์ของเขาในตอนนี้เลยความเจ็บปวดราวกับถูกฉีกออกเป็นเสี่ยง ๆ ถาโถมเข้าใส่หลินชิงเหยียนอีกครั้ง จนเธออดไม่ได้ที่จะกอดเซิ่งถิงแน่นเช่นกัน แต่ไม่ว่าพวกเขาจะใกล้ชิดกันแค่ไหน ทำไมเธอกลับยังรู้สึกเหมือนกำลังจะคว้าเขาไว้ไม่ได้อยู่ดีผ่านไปเนิ่นนาน ทั้งสองคนจึงเดินออกมาจากบันไดหนีไฟ แต่กลับเห็นคุณนายเซิ่งยืนอยู่ด้านนอกตั้งแต่แรกแล้วเธอสวมชุดคนไข้ ปล่อยผมยาวสยาย สายตาที่มองหลินชิงเหยียนเต็มไปด้วยความคลุ้มคลั่ง"เธอนี่เอง!"เมื่อครู่คุณนายเซิ่งได้ยินที่ไป๋อิงพูดหมดแล้วพอตระหนักได้ถึงจุดนี้ หลินชิงเหยียนก็รู้สึกเหมือนความอ่อนแรงกำลังถาโถมเข้าใส่อย่างหนัก"เธอเป็นคนทำร้ายลูกสาวของฉัน!"คุณนายเซิ่งพุ่งเข้ามาผลักเธออย่างแรงราวกับคนเสียสติเซิ่งถิงห้ามคุณนายเซิ่งไม่ได้ จึงได้แต่ปกป้องหลินชิงเหยียน เขากอดเธอไว้แน่นในอ้อมแขน รับทั้งคำด่าและการทุบตีแทนเธอ"ยัยฆาตกร! เธอฆ่าลูกสาวฉัน! ฉันจะเอาชีวิตเธอ!"หลินชิงเ
หลินชิงเหยียนกำหมัดแน่น มิน่าล่ะหลังจากไป๋อิงโดนตบไปหนึ่งฉาดแล้วก็ยังหัวเราะออกมาได้เธอคงคิดว่าแค่บอกเซิ่งถิงเรื่องนี้ เซิ่งถิงก็จะหย่ากับหลินชิงเหยียน แล้วเธอก็จะมีโอกาสอีกครั้ง"เซิ่งถิง ฉันรู้ว่าตอนนี้คุณต้องเกลียดเธอมากแน่ ๆ แล้วก็เสียใจมากที่แต่งงานกับเธอ! ไม่เป็นไรนะ คุณหย่ากับเธอเถอะ ฉะ ฉันจะอยู่ข้าง ๆ คุณเอง!"ตอนที่ไป๋อิงพูดประโยคนี้ น้ำเสียงของเธอเต็มไปด้วยความร้อนรน ต่อให้มีประตูกั้นอยู่อีกชั้น หลินชิงเหยียนก็ยังได้ยินเสียงหายใจถี่กระชั้นของเธออย่างชัดเจนแต่ตรงกันข้าม เซิ่งถิงสูบบุหรี่ติดกันไปหลายอึก พยายามจะกดอารมณ์เอาไว้ แต่สุดท้ายก็กดไม่ลง"สมองเธอมีปัญหาหรือไงวะ!""เซิ่งถิง...""เธอมาสั่งให้ฉันหย่ากับเมียตัวเอง เธอมีสิทธิ์อะไร!""ฉันบอกว่าเธอเป็นลูกสาวอีกคนของพ่อฉัน คุณไม่เข้าใจหรือไง?""เธอยอมรับพ่อแล้วงั้นสิ?""หา?""เลิกพยายามอวดอ้างตระกูลเธอสักที!""แต่เธอเป็นคนทำให้เซิ่งลั่วตายนะ!""เธอลองพูดอีกคำสิ!""เธอ... กรี๊ด!"พอได้ยินเสียงกรีดร้องของไป๋อิง หลินชิงเหยียนก็ใจหายวาบ เธอรีบวิ่งเข้าไป ก็เห็นเซิ่งถิงกำคอเสื้อของไป๋อิงอยู่ พร้อมกับกดร่างเธอออกไปนอก
เพียะ!เสียงนั้นดังสะท้อนไปทั่วห้องจัดแสดง แขกที่กำลังถูกเชิญให้ออกไปด้านนอกต่างก็เห็นภาพตรงหน้า"หลินชิงเหยียน เธอกล้าตบแม่ฉันเหรอ!"ไป๋อิงพุ่งเข้ามา แต่ในวินาทีถัดมา เธอก็โดนหลินชิงเหยียนตบเข้าอย่างจังอีกหนึ่งฉาด"เธอต้องรู้เรื่องที่แม่เธอทำอยู่แล้วแน่ ๆ บางเรื่องเธออาจจะมีส่วนร่วมด้วยซ้ำ!""เธอตบฉัน เธอ...""เธอน่าจะดีใจนะที่ฉันแค่ตบพวกเธอสองคนไปคนละฉาดน่ะ!"ไป๋อิงเหมือนคนเสียสติ พยายามจะพุ่งเข้าไปทำร้ายหลินชิงเหยียน แต่กลับถูกไป๋เจ๋อหย่วนตะคอกใส่"พอได้แล้ว! ทำไมเธอถึงได้เหมือนแม่ของเธอไม่มีผิด!"ไป๋อิงโดนตวาดจนตาแดง เธอมองไป๋เจ๋อหย่วนอย่างไม่อยากเชื่อ"พ่อคะ พ่อเข้าข้างมันเหรอ!"ไป๋เจ๋อหย่วนสูดหายใจลึก เขาไม่ได้สนใจไป๋อิง แต่หันไปมองหลินชิงเหยียนแทน"เหยียนเหยียน กลับบ้านกับฉันก่อนดีไหม ฉันมีเรื่องอยากคุยกับเธอเยอะมาก""ไม่ล่ะ" หลินชิงเหยียนตอบกลับอย่างเรียบเฉย "บ้านของคุณ ไม่ใช่บ้านของฉัน เมื่อก่อนไม่ใช่ ตอนนี้ไม่ใช่ และต่อไปก็จะไม่มีวันใช่"พูดจบ เธอก็เมินสายตาวิงวอนของไป๋เจ๋อหย่วน แล้วหันหลังเดินจากไปอย่างเด็ดขาดแต่เพิ่งเดินออกไปได้ไม่ไกล กลับได้ยินเสียงหัวเราะอ
พอคำพูดนี้หลุดออกมา ไป๋เจ๋อหย่วนกับไป๋อิงก็ตกตะลึงจนเบิกตากว้าง"ธะ เธอบอกว่าเธอเป็นลูกสาวของหลินเหยาเหรอ?"ไป๋อิงไม่เชื่อ และรีบหันไปมองจูเชี่ยนทันที พอเห็นจูเชี่ยนพยักหน้า เธอถึงต้องเชื่อ"นี่เธอเป็นลูกสาวของหลินเหยาจริง ๆ เหรอ!"หลินชิงเหยียนขี้เกียจจะสนใจเธอ จึงหันไปมองไป๋เจ๋อหย่วนส่วนไป๋เจ๋อหย่วน หลังจากช็อกอยู่ครู่หนึ่ง ก็มีสีหน้าดีใจทันที พอมองหลินชิงเหยียนอีกครั้ง ในแววตาก็ปะปนไปด้วยความรู้สึกผิด ความปวดใจ ความเอ็นดู จนชั่วขณะนั้นเขาไม่รู้เลยว่าควรแสดงสีหน้าแบบไหน"ไม่น่าแปลกใจเลยว่าทำไมครั้งแรกที่ฉันเจอคุณ ฉันถึงรู้สึกคุ้นเคยอย่างบอกไม่ถูก ที่แท้ ที่แท้คุณก็เป็นลูกสาวของเธอ และก็เป็นลูกสาวของฉัน ลูกสาวของฉัน"พูดจบ ดวงตาของไป๋เจ๋อหย่วนก็แดงก่ำสีหน้าของหลินชิงเหยียนซับซ้อนเล็กน้อย ไป๋เจ๋อหย่วนคือคนที่ถูกปิดบังความจริงมาโดยตลอด ดังนั้นเธอจึงไม่มีเหตุผลจะเกลียดเขา แต่จะให้ยอมรับเขาไหม?หลินชิงเหยียนขอปฏิเสธ!เธอได้รับรู้และเข้าใจว่าตระกูลไป๋ปฏิบัติกับแม่ของเธออย่างไร และเธอก็เกลียดพวกเขามาก เพราะฉะนั้นเธอจะไม่มีวันสร้างสายใยความผูกพันอะไรกับคนตระกูลไป๋อีก รวมถึงไป๋เจ๋
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม