Masukยังไงก็ต้องเป็นเธอ นิยายชุด Only One โดย M_Morine เขา..คือซูเปอร์สตาร์ระดับโลก ผู้เคยมีทุกอย่าง ยกเว้น “เธอ” เธอ...คือ ดีไซเนอร์สาว ผู้หนีจากบางอย่างในอดีต โดยคิดจะไม่หันกลับไป สองปีแห่งการหายตัวหนึ่งคำถามที่ไม่เคยได้คำตอบ และโชคชะตาที่พาเขามายืนตรงหน้าเธออีกครั้ง—ในวันที่เธอไม่ใช่ "เธอคนเดิม"
Lihat lebih banyakTepuk tangan bergemuruh memenuhi ballroom hotel bintang lima itu. Lampu kristal berkilauan di atas kepala, bunga mawar putih menghiasi setiap sudut ruangan, dan aroma wangi segar melayang di udara. Semua mata tertuju pada pasangan pengantin yang berdiri di atas pelaminan: Aruna Prameswari dan Rafka Adiguna.
Aruna tersenyum, gaun putih yang membalut tubuhnya berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Tangannya menggenggam erat jemari Rafka, lelaki yang selama dua tahun terakhir mengisi hatinya dengan cinta dan perhatian. Matanya berkaca-kaca saat mendengar sumpah sakral yang baru saja diucapkan suaminya. “Aku berjanji akan mencintaimu, menjagamu, dan setia padamu, sampai akhir hidupku,” kata Rafka dengan suara mantap. Kalimat itu membuat dada Aruna bergetar. Ia percaya pada cinta. Ia percaya pada Rafka. Lelaki itu adalah rumah yang ia pilih, pelindung yang ia butuhkan, sekaligus masa depan yang selama ini ia impikan. Namun, di balik keramaian pesta dan riuhnya doa restu, ada sepasang mata yang menatap dingin. Bu Kartika, ibu kandung Rafka, duduk di kursi utama barisan depan dengan ekspresi kaku. Tak ada senyum. Tak ada air mata haru. Hanya tatapan penuh perhitungan yang membuat Aruna merasa kecil di hari besarnya sendiri. Ketika acara resepsi berakhir, para tamu mulai berangsur pulang. Aruna dan Rafka menyalami keluarga terdekat. Saat tiba giliran Bu Kartika, Aruna menunduk sopan, menyodorkan tangan. “Terima kasih sudah hadir, Bu,” ucap Aruna lembut. Bu Kartika menyambut tangannya sekilas, namun bibirnya melontarkan kalimat yang membuat hati Aruna tercekat. “Semoga kau bisa membuktikan dirimu pantas menjadi istri Rafka. Jangan sampai anakku menyesal memilihmu.” Aruna terdiam. Senyum di wajahnya nyaris pudar, tapi ia buru-buru menguatkan diri. Ia tahu, sejak awal, Bu Kartika tidak pernah menyukainya. Bagi mertua itu, Aruna hanyalah gadis sederhana dari keluarga biasa, tidak sebanding dengan status dan kekayaan keluarga Adiguna. Malam pertama mereka sebagai pasangan sah seharusnya dipenuhi kebahagiaan, tetapi kalimat itu terus terngiang di kepala Aruna. Saat mereka berdua akhirnya tiba di apartemen mewah yang telah disiapkan Rafka, Aruna duduk di tepi ranjang dengan pikiran kacau. Rafka, yang sibuk melepas dasinya, menyadari kegelisahan istrinya. “Kenapa, Rin? Kau terlihat murung.” Aruna menggeleng. “Tidak apa-apa.” Rafka mendekat, mengangkat dagu Aruna lembut. “Jangan berbohong padaku di malam pertama kita. Katakan.” Aruna menggigit bibirnya. “Aku... hanya merasa Ibu tidak menyukaiku.” Rafka terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Itu benar. Ibu memang sulit menerima orang baru. Tapi percayalah, aku menikah denganmu karena aku yang memilih, bukan karena Ibu. Kau istriku, dan itu cukup.” Aruna menatap mata suaminya, berusaha meyakini kata-kata itu. Namun di sudut hatinya, sebuah ketakutan kecil mulai tumbuh. Bagaimana jika suatu hari nanti, tatapan dingin Bu Kartika berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk? Hari-hari berikutnya, kehidupan pernikahan mereka dimulai. Awalnya, Aruna mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru, membiasakan diri dengan status sebagai istri seorang pengusaha muda yang sibuk. Ia menyiapkan sarapan, merapikan rumah, dan menanti kepulangan suaminya dengan penuh cinta. Namun, Bu Kartika tidak pernah jauh. Hampir setiap hari, wanita itu menelepon atau datang langsung ke apartemen mereka. Awalnya untuk alasan sederhana: menanyakan kabar, memastikan Rafka makan dengan benar. Lama-lama, kunjungannya menjadi bentuk intervensi. “Aruna, kau tidak bisa menyajikan sup seperti ini. Rafka alergi lada, apa kau tidak tahu?” tegur Bu Kartika suatu pagi, wajahnya masam saat melihat meja makan. Aruna menunduk, wajahnya memerah. “Maaf, Bu... saya tidak tahu.” Rafka baru saja turun dari kamar, mendengar ucapan itu. “Ibu, sudah cukup. Jangan terlalu keras pada Aruna.” Namun Bu Kartika menatap tajam pada putranya. “Aku hanya tidak ingin kau sakit karena kecerobohan istrimu.” Ucapan itu membuat Aruna merasa hancur. Ia berusaha keras menjadi isteri yang baik, tapi seolah apa pun yang ia lakukan selalu salah di mata mertua. Malamnya, Aruna menangis diam-diam di kamar mandi. Ia menatap bayangan dirinya di cermin—mata sembab, wajah pucat, dan hati yang rapuh. “Aku tidak cukup baik... apa benar aku pantas untuknya?” gumamnya. Ketika keluar, ia mendapati Rafka sudah duduk di ranjang, menatapnya penuh iba. Lelaki itu meraih tangannya, menggenggam erat. “Aruna, jangan dengarkan Ibu. Kau cukup. Kau lebih dari cukup untukku.” Aruna ingin percaya. Ia benar-benar ingin. Tapi setiap hari, tatapan dingin Bu Kartika dan kata-kata pedasnya seperti racun yang perlahan menggerogoti keyakinannya. Beberapa minggu berlalu. Pernikahan mereka berjalan, namun Aruna mulai merasakan jarak yang perlahan tercipta. Rafka semakin sibuk dengan pekerjaannya. Pulangnya larut malam, terkadang tidak memberi kabar. Suatu malam, Aruna menunggu di ruang tamu hingga jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Saat pintu terbuka, ia segera berdiri. “Rafka, kau baru pulang. Kenapa tidak mengangkat teleponku?” tanyanya cemas. Rafka melepas jasnya, wajah lelah. “Maaf, Rin. Aku sibuk rapat dengan klien.” Aruna menelan kekecewaan. Ia hanya mengangguk, mencoba mengerti. Namun, ketika Rafka masuk ke kamar mandi, ponselnya yang tertinggal di sofa bergetar. Sebuah pesan muncul di layar. [Melani]: Senang sekali bertemu denganmu malam ini. Aku tak sabar menunggu kita bertemu lagi. Darah Aruna serasa berhenti mengalir. Jemarinya bergetar saat menatap layar itu. Siapa Melani? Mengapa mengirim pesan seperti itu di tengah malam? Jantungnya berdegup kencang, dadanya sesak. Malam yang seharusnya hanya disi rasa lelah berubah menjadi awal dari luka yang jauh lebih dalam. Aruna memejamkan mata, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia baru menyadari satu hal: janji setia yang diucapkan Rafka di pelaminan, mungkin tidak sekuat yang ia percayai selama ini. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Aruna merasa benar-benar sendirian.ค่ำคืนงานเลี้ยงเล็ก ๆ หลังพิธีแต่งงานที่มิลาน สวนดาดฟ้าถูกแต่งแต้มด้วยไฟประดับสีอุ่น แสงจากโคมไฟระย้าสะท้อนแก้วแชมเปญบนโต๊ะกลม เสียงดนตรีแจ๊สคลอเบา ๆ เคล้ากับเสียงหัวเราะของแขกผู้ร่วมงานในบรรยากาศที่อบอวลด้วยความสุขข้าวหอมในชุดเดรสผ้าซาตินสีงาช้าง สะบัดชายกระโปรงเบา ๆ เดินออกมายังระเบียงที่ตกแต่งด้วยไม้เลื้อยและเทียนหอม ลมเย็นพัดปะทะใบหน้าเบา ๆ พร้อมกลิ่นดอกมะลิจากกระถางใกล้ตัวเธอหยิบโทรศัพท์ขึ้นมาดู ข้อความใหม่เพิ่งถูกส่งเข้ามาไม่กี่นาที“พี่ขอโทษที่ไม่ได้ไปงานของน้อง...แต่เจี่ยเจียสัญญาว่า จะกลับไปมองรอยยิ้มที่สดใสของเธอในเร็วๆนี้นะ”ข้าวหอมอ่านจบก็เงียบงันไปครู่หนึ่ง ดวงตาเริ่มรื้นน้ำใส ๆ โดยไม่รู้ตัว เธอยิ้มบาง ๆ เหมือนต้องการซ่อนความรู้สึกไว้เพียงคนเดียว‘เจี่ยเจีย’ — สวีอิงหราน พี่สาวต่างแม่ของเธอ ผู้หญิงที่เคยทำให้เธอร้องไห้มากที่สุด…แต่ก็เป็นคนเดียวที่พร้อมเสี่ยงชีวิตเพื่อปกป้องเธอที่สุดเช่นกันเสียงฝีเท้าเบา ๆ ดังขึ้นด้านหลัง ก่อนที่วงแขนอบอุ่นจะโอบเอวเธอไว้แน่น กลิ่นโคโลญจ์อ่อน ๆ แบบเฉพาะของเขาแตะจมูกในทันที“พี่สาว...ส่งข้อความมาเหรอ?”เสียงทุ้มนุ่มของไดออนกระซิบถามเบา ๆ ใ
[เช้าวันต่อมา]แสงแดดยามเช้าเกลี่ยตัวบนผ้าห่มสีอุ่น อากาศในห้องไม่ได้หนาว แต่หัวใจสองดวงที่ซ่อนอยู่ใต้ผ้าห่มนั้น…ร้อนกว่าอะไรทั้งหมดข้าวหอมค่อย ๆ ลืมตา เปลือกตาเธอกะพริบช้า ๆ รับกับแสงธรรมชาติที่สาดผ่านผ้าม่านเข้ามาอย่างนุ่มนวล เธอรู้สึกถึงไออุ่นจากคนที่อยู่ข้างหลัง วงแขนแข็งแรงที่กอดเธอไว้แน่นไม่ปล่อย ผิวของเขาแนบชิดหลังเธออย่างไม่มีช่องว่าง เสียงลมหายใจที่สม่ำเสมอ ขับกล่อมให้หัวใจเธอสงบราวกับบทเพลงกล่อมนอนเธอยิ้มบาง ๆ พลางขยับตัวเล็กน้อย แต่ยังไม่ทันขยับได้เต็มที่ เสียงทุ้มแหบจากด้านหลังก็ดังขึ้นอย่างแผ่วเบา"อย่าขยับสิคะ..."เสียงนั้นทำให้เธอชะงัก หัวเราะออกมาเบา ๆ อย่างเขินอาย “ข้าวจะปลุกเฮีย…”"เมื่อคืนเฮียยังไม่พอเลย..."คำพูดที่ดังเบาข้างหูทำให้ใบหน้าข้าวหอมแดงก่ำ เธอพยายามขยับหนีด้วยความเขิน แต่ยิ่งเธอขยับ วงแขนของเขาก็ยิ่งกระชับแน่น"เฮีย…" เธอเรียกเสียงเบา"ข้าวเจ็บนะคะ..."เสียงหัวเราะต่ำ ๆ ดังจากลำคอของเขา กึ่งเอ็นดูกึ่งขี้เล่น เขาเลื่อนใบหน้าเข้ามาใกล้ กระซิบที่ข้างหูเธออย่างนุ่มนวลแต่ลึกซึ้ง"แล้วเมื่อคืนร้องทำไมคะ..."คำถามที่ไม่มีเจตนาเย้าแหย่ แต่เต็มไปด้วยความรู้สึก
[หน้าห้องพักโรงแรม ที่จัดเป็นเรือนหอชั่วคราว– มิลาน เวลา 20:45 น.]ไดออนเปิดประตูห้องพักหรูบนชั้นดาดฟ้า ข้าวหอมในชุดเดรสยาวหลังเปลี่ยนออกจากชุดเจ้าสาวเดินเข้ามาอย่างระมัดระวัง“คืนนี้…” เธอพูดเสียงเบา“ไม่ต้องมีอะไรหวานมากก็ได้นะคะ แค่เราอยู่ด้วยกันก็พอแล้ว”ไดออนยิ้มบาง“ถ้าเฮียบอกว่าเตรียมเทียน หอม กลีบกุหลาบ และไวน์ไว้หมดแล้วล่ะ…”“เฮีย—!” ข้าวหอมเขินจนหูแดง แต่ยังไม่ทันได้ดุจริง ๆ —ตึง! ตึง! ตึง!เสียงเคาะประตูดังลั่น พร้อมเสียงเจื้อยแจ้วโหวกเหวกคุ้นหู“เปิดเร็ว! เพื่อนเจ้าสาวขอเข้าตรวจห้อง!”“แค่มาเช็คว่าไม่มีพิธีแปลก ๆ แบบคล้องประตูอะไรเท่านั้นเอง!”“เฮียไดออนซ่อนกุหลาบใต้เตียงรึเปล่า เราขอดู!”ข้าวหอมเบิกตากว้าง ไดออนถอนหายใจแล้วหันไปกระซิบ“…ดวงใจกับมินยงมาแน่”ประตูเปิดออก —ดวงใจ, มินยง, และ คิมโฮ ยืนถือกล่องของขวัญ กับไวน์คนละขวด เดินเข้ามาแบบไม่รอเชิญ“อ๊ะ! บรรยากาศดีอยู่นะ” ดวงใจ หันไปรอบ ๆ“เฮียจัดได้มินิมอล ไม่เว่อร์นะ…ไม่เหมือนตอนขอแต่งงาน!”คิมโฮ ยกไวน์ขึ้นมา“เราเอาแชมเปญมาฉลองให้คืนแรกครับ!”“เฮียไดออน คนป๊อปปูลาร์อันดับหนึ่ง…ผู้ไม่เคยเป็นสามีใครมาก่อน!”ข้าวหอมเอามื
[โบสถ์หินเก่ากลางมิลาน – เวลา 11:11 น.]ไม่มีพรมแดง ไม่มีสื่อ ไม่มีเวทีระดับโลก มีแค่ห้องโถงแคบ ๆ ที่ประดับด้วยดอกลาเวนเดอร์แห้งบนแท่นไม้เรียงราย ผ้าม่านสีขาวบางปลิวเบา ๆ ตามแรงลมจากช่องหน้าต่าง เสียงเปียโนบรรเลงคลอด้วยท่วงทำนองเรียบง่าย แต่ทุกโน้ตชัดเจนราวกับสะท้อนอารมณ์ของวันพิเศษนี้หน้าประตูโบสถ์ —“ข้าวหอม…อย่าพึ่งเดินเข้าพิธีนะยะ!!”เสียงแหลมตื่นของหญิงสาวคนหนึ่งดังมาก่อนตัวจะปรากฏ ดวงใจในชุดเดรสโทนชมพูนู้ดวิ่งจ้ำพรวดมาด้วยรองเท้าส้นสูง กระแทกพื้นหินตึก ๆ จนแขกบางคนหันมามองเธอพุ่งเข้าประตูโดยไม่ทันชะลอ—โครม!“ว้าย!”ร่างของเธอกระแทกเข้ากับชายหนุ่มร่างสูงในสูทดำสนิทเต็มแรง จนถุงของฝากในมือกระเด็นหล่นพื้น ขนมกล่องเล็ก ๆ กลิ้งออกมาอย่างอนาถ“ขอโทษค่ะ! ขอโทษจริง ๆ!” ดวงใจรีบย่อตัวลงเก็บของก่อนจะเงยหน้าขึ้น…แล้วก็ชะงักใบหน้าที่เธอเห็นคือ คริส — หนุ่มมาดนิ่งแห่ง BBOOM Entertainment ผู้มีออร่าระยะห่างแบบคนที่ไม่เคยมีใครเข้าถึงง่ายเขาแค่ก้มเก็บของให้เธออย่างนิ่ง ๆ แล้วเอ่ยเบา ๆ น้ำเสียงต่ำ เรียบ ไม่เร่งเร้า“...รีบเหรอ”“ค่ะ รีบ…แต่ตอนนี้รีบเขินมากกว่า…” ดวงใจหลบสายตาทันที เสียงเธอเบา
เสียงกระทะกระทบตะหลิวดังเป็นจังหวะ กลิ่นไข่ดาวบนกระทะเทฟลอน และเสียงฮัมเพลงเบา ๆ ของข้าวหอมที่หลุดออกมาโดยไม่รู้ตัว กลายเป็นเช้าวันใหม่ที่...ดูเหมือนบ้าน ไดออนยืนพิงกรอบประตูครัว แขนกอดอก ยิ้มมองภาพตรงหน้า ไม่ใช่โชว์ ไม่ใช่ภาพในความทรงจำ ไม่ใช่เสียงกรี๊ด...แค่ผู้หญิงคนหนึ่งในชุดลำลอง กำลังยืนทอดไ
เสียงกริ่งประตูดังขึ้นในความเงียบ ข้าวหอมหันไปมองทันทีโดยไม่รู้ตัว หัวใจเธอเต้นแรงขึ้นอย่างควบคุมไม่ได้ ในอกมันเต้นรัว—ไม่ใช่เพราะตกใจ แต่เพราะบางอย่างในใจเธอ…คาดหวังว่าคนที่อยู่ตรงนั้น คือ “เขา”เธอเดินไปที่ประตูอย่างช้า ๆ เหมือนเวลาทั้งหมดชะลอลง มือเธอจับลูกบิดไว้แน่น แล้วเปิดช่องมองเล
“เราเป็นแฟนกันนะ”เธอพูดเสียงเบา ใบหน้าแดงระเรื่อเต็มสองแก้ม ‘ให้ตายสิ…เขาคงไม่รู้หรอกว่า ต้องรวบรวมความกล้าแค่ไหนถึงจะพูดออกมาได้’แต่เขากลับ... เงียบ!?เธอเริ่มเม้มปากแน่นขึ้น เหลือบมองเขาอย่างไม่มั่นใจ ในขณะที่เขาเอนตัวพิงพนักโซฟา ทำท่าทางสบายเกินหน้าเกินตา“ผมว่า... ขอเวลาคิดก่อนจะได้ไหม?” เข
ในห้องนั่งเล่นข้าวหอมเปิดประตูบ้าน ค่อย ๆ หันกลับไปมองเขาอีกครั้ง ก่อนจะยิ้มบาง ๆ แล้วผลักบานประตูให้เปิดออกช้า ๆ“เข้ามาก่อนสิคะ”เธอพูดเบา ๆ โดยไม่ต้องเอ่ยคำเชื้อเชิญยืดยาว เขาเดินตามเข้าไปโดยไม่ลังเล ก่อนประตูปิดลงอย่างเงียบงัน ทิ้งความวุ่นวายไว้ด้านนอกแสงไฟอุ่นในห้องนั่งเล่นค่อย ๆ ไล่ความเย็น