ANMELDEN"พี่แบล็คคคคคคคค" "อะไรเรียกอยู่นั่น" "ถ้าหวาสวยพี่จะชอบหวาม๊ายยยยยยยค๊าาาาาา เอื๊อกกกกก" "ชาตินี้คงไม่ทันแล้วล่ะยัยบ้านนอกเพราะเธอเกิดมาก็ไม่สวยแล้วจะเอาไรมาสวย" "หื้ออออ หวาจาไปเกาหลี ไปทำหน้าสวยๆ ไปทามนมหย่ายยยๆ เลย"
Mehr anzeigenSuara sumbang seorang pemuda terdengar memekakkan, mengikuti alunan musik dari lubang-lubang radio yang tidak kalah kerasnya. Pemuda tersebut melajukan kendaraan beroda empat menuju Kota Bandung, tampak di google maps dari layar ponselnya, menempel erat pada dashboard mobil.
Dari mulai bangunan perkantoran, supermarket, hingga mall yang tinggi menjulang beralih menjadi bangunan-bangunan sedang dan kecil. Perjalanannya tak lama lagi berakhir setelah melewati pepohonan berjejer di sepanjang jalan. Hawa sejuk semakin terasa pada setiap inci kulitnya. Dia memilih mematikan AC agar tubuh tidak membeku. Suasana Bandung mulai terasa kental setelah melewati beberapa persimpangan jalan dan stasiun-stasiun di sana.
Pemuda tersebut memberhentikan kendaraannya tepat di sebuah rumah dengan halaman depan yang cukup luas. Ketika menengok google maps, lingkaran biru menunjukan lokasinya berada di Kecamatan Majalaya.
Dia menurunkan kaca mobil, sudah ada seorang pria menunggu di depan rumah, terdapat garasi mobil di samping kanan rumah. Pemuda itu segera memarkirkan mobil kesayangan di luar garasi berlantai semen setelah pagar besi digeser oleh pemiliknya.
Dia keluar dari mobil berlogo ‘T’. Pakaian yang digunakannya sangat sederhana sekali. Hanya kaus hitam bertuliskan 'Komunitas Pecinta Merpati' dengan sablon bergambar merpati tepat di tengah dada. Tak lupa celana pendek berwarna abu-abu di bawah lutut dengan saku di kedua sisinya. Dia menyisir rambut hitamnya kebelakang, sambil mematut diri di depan kaca mobil.
“Assalamu'alaikum!” seru si pemuda dengan senyum melintang, lalu melangkah lebar menghampiri pria berkaus putih dan bercelana hitam itu. “Bapak Dedeng Koswara, ‘kan?”
“Wa'alaikumussalam. Iya, ini saya, Dedeng. Asli,” jawab Pak Dedeng langsung menyalami pemuda di depannya dengan tersenyum ramah sekali.
“Ah, kirain salah alamat, hehe. Ini saya Regi Aerlangga, Pak. Yang mau beli merpati hias bapak,” jelas Regi, cengirannya terlihat jelas setelah mengusap dada. Lega.
“Oh, hayu atuh, Jang Regi. Urang ngopi hela,” ajak Pak Dedeng sambil merangkul Regi masuk ke rumahnya. [Oh, ayo, Nak Regi. Kita ngopi dulu].
“Engh, ngopi?”
“Iya, ngopi,” ujarnya seraya memperagakan tangan mengaduk kopi.
Regi menolak. Kedua tangannya terangkat dan menggeleng pelan. “Enggak, deh, Pak. Saya mau liat-liat merpatinya dulu, boleh?”
“Boleh-boleh. Kandangna sebelah sini,” jawabnya sembari mempersilakan Regi berjalan terlebih dahulu. Mereka melangkah beriringan menuju ke belakang rumah Pak Dedeng.
Kicauan merpati anakan sudah terdengar sejak tadi. Semakin nyaring ketika mereka sampai di sebuah kandang burung berbentuk rumah, berdinding kawat, dengan atap dari seng bercat putih. Banyak sekali jenis merpati di dalam, ada juga yang terbang keluar lewat pintu kayu—di dekat atap—bercat putih yang sengaja di buka oleh pemiliknya.
Sisi luar terdapat beberapa pohon tertanam. Dahan dan daunnya menutupi atap, membentuk kesan asri di sekitar kandang. Padahal arloji pada tangan menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit, yang seharusnya mentari menyorotkan hawa panas dari sinarnya. Namun, ini Bandung. Tetap terasa sejuk meski bayangan diri hanya terlihat seperempat dari badan.
Pak Dedeng membuka pintu, mempersilakan Regi masuk terlebih dahulu. “Maaf, ya, Jang. Sedikit kotor kandangna.”
“Enggak juga, Pak. Bersih kok di sini.”
Kondisi di dalam kandang benar-benar bersih sebenarnya—mungkin Pak Dedeng sekadar berbasa-basi. Lalu karena warna kandang dominan putih, jadi lebih enak di pandang. Regi menengok sisi kiri dan kanan kandang, terbentang meja panjang, di atasnya berjejer rumah burung layaknya kos-kosan berbentuk kotak. Dia langsung mengenali bahan dasar rumah burung, terbuat dari aluminium sehingga mudah untuk dibersihkan.
“Jadi, kalau Jang Regi lagi nyari indukan, ada di sebelah sini," ujar Pak Dedeng mengacu pada kotak di kanan, terhitung lima kotak dari depan, "kalau sebelah sana kebanyakan masih piyik[1] dan baru di lepas dari indukna. Jadi, suarana teh masih 'kikk kikk kikk' gitu.”
Regi hanya mengangguk-angguk saja sambil memicingkan mata. “Kalau merpati yang baru dijodohkan ada enggak, Pak?” tanyanya seraya mengapit jempol di dagu.”
“Ada, sebelah sini,” ujar Pak Dedeng beralih pada kotak sebelah kiri. Regi ikut memutar tubuh kemudian menunduk bersamaan dengan Pak Dedeng.
“Oh! Sepasang Merpati Show King!” seru Regi, matanya mengerjap, berbinar cerah ketika pintu kotak dibuka. Sedangkan sepasang merpati di dalam kotak perlahan mundur ke pojokan.
“Bapak menangkarkan merpati hias apa saja selain jenis ini?” tanya Regi setelah puas menatap merpati dengan bulunya yang putih bersih itu.
“Ada banyak, kalau di sini cuma ada 4 jenis. Termasuk yang ini, Lahore, Fantail, sama satu lagi Saxon Fairy Swallow.”
“Waduh, sangar-sangar, ya.” Dengan senyuman yang tidak pernah pudar, Regi menolak pinggang seraya berucap, “Saya boleh liat-liat yang lain 'kan, Pak?”
“Oh, boleh atuh. Silakan diliat-liat dulu, Jang.”
Mendengar persetujuan dari pemiliknya, Regi tersenyum lima jari, telapak tangan digosokkan sampai terasa hangat. Satu per satu rumah para merpati ia buka.
Pada rumah pertama, sepasang Merpati Show King tadi mundur kembali ke sudut. Warna bulunya sangat bersih dan seputih susu. Merpati jantan berdiri dengan dada membusung, sementara betinanya berlindung di balik si jantan. Pada sarang kayu berisi jerami, belum ada bekas retakan cangkang telur ataupun lelehan lendir dan air, menandakan bahwa mereka belum menjadi indukan.
“Benar-benar baru dijodohin ya. Cara breeding-nya gimana nih, Pak?” tanya Regi, tangannya berusaha menangkap si pejantan, namun lolos berkali-kali.
“Saya mah cuma pakek satu cara aja kalau di sini. Biarin aja indukna meloloh anakna sampe siap dipisahin. Kalau di penangkaran yang satuna saya pakek cara babuan juga,” jelas Pak Dedeng.
Regi mengangguk lagi, cukup paham dengan penjelasan Pak Dedeng, “Jadi selain di sini, bapak menangkarkan beberapa jenis merpati hias di tempat lain juga?”
“Uhun, Jang. Soalna kalau di dieu sadaya mah terlalu sempit kandangna.” [Iya, Nak. Soalnya kalau di sini semua terlalu sempit kandangnya.]
Untungnya Regi sedikit belajar tentang bahasa Sunda, sehingga dirinya cukup mengerti perkataan dari Pak Dedeng.
Regi kembali membuka rumah merpati. Kali ini, giliran Merpati Lahore yang terlihat begitu anggun. Corak hitam dari paruh dan pialnya membelah leher hingga punggung dan sayap, mirip seperti penguin. Tampak si betina sedang mengerami telur-telurnya dan membekur pelan agak terganggu. Sementara sang jantan berdiri di dekat betinanya, melirik-lirik waspada.
“Yang ini udah bertelor toh, Pak?”
“Iya, kalau yang itu baru kemarin bertelur.”
“Wah, keren!” seru Regi, melanjutkan kembali melihat-lihat yang lain.
Pada rumah burung ke tiga ada sepasang Merpati Fantail. Ciri yang paling menonjol yaitu pada ekor mereka yang menyerupai kipas.
Yang terakhir memiliki nama cukup panjang, yaitu Saxon Fairy Swallow. Sesuai dengan namanya 'peri', jenis merpati yang satu ini menang sangatlah menarik. Bagian kepala sampai ekor berwarna dasar putih. Sedangkan sayap dan bulu-bulu kaki berwarna lain—sesuai induknya. Pada kepalanya terdapat noktah warna—yang hanya memenuhi dahinya saja. Sementara kakinya terbungkus oleh bulu-bulu hias. Jika dirawat dan tidak banyak yang patah, kakinya akan terlihat seperti mengenakan sandal bulu.
Dari kejauhan terdengar kumandang azan asar, tidak terasa sudah selama ini Regi berada di kandang merpati, rasanya tidak ingin keluar.
“Saya mau salat dulu, ya, Jang. Istri saya lagi buat kopi, Jang Regi bisa duduk dulu di teras rumah,” jelas Pak Dedeng, memasukan kembali ponsel ke dalam saku celana setelah mengetik sesuatu pada layarnya.
“Oke, Pak. Siap!” Regi mengacungkan jempolnya dengan senyuman seperti biasa. Seketika netranya melirik rumah kotak berisi Merpati Show King setelah Pak Dedeng tak tampak keberadaannya.
Regi membuka lagi pintu seukuran rumah kotak itu. Tatapannya tajam dengan seringai aneh mencuat dari bibir. Sang merpati jantan tampak waswas, menatap Regi dengan mata bulatnya.
“Kalian akan kubeli sebentar lagi. Jadi, siap-siap, oke?”
Sang jantan merasakan aura aneh dari manusia di depannya. Itu sebabnya dari pertama melihat Regi, si pejantan refleks melindungi betinanya.
Bersambung...
________________________________________
Ket:
[1] Merpati anakan, masih belum lengkap lar-nya.
แบล็ค....มานึกย้อนกลับไปตอนที่ยังไม่เจอหวาหรือเจอแล้วแต่ตอนนั้นผมไม่ได้รู้สึกอะไรกับเธอ ผมไม่คิดว่าชีวิตนี้จะได้แต่งงานกับคนอื่นเขา เรื่องแต่งงานมีเมียมันไม่เคยอยู่ในความคิดของผมเลยจนกระทั่งมาเจอยิหวาผู้หญิงที่แสนจะธรรมดาที่เปลี่ยนความคิดของผมไปอย่างสิ้นเชิง ก็อย่างที่รู้ว่าผมชอบผู้หญิงสวยหุ่นดีแต่กับยิหวาเธอไม่ได้สวยมากแต่เธอน่ารักน่ารักทั้งหน้าตาทั้งนิสัย กว่าผมจะรู้ตัวว่าผมรู้สึกกับเธอผมก็ทำเธอเสียใจมาแล้วหลายต่อหลายครั้งกับนิสัยแย่ๆของผมแต่เธอก็ไม่เคยหายไปไหนยังคงวนเวียนอยู่ใกล้ๆตลอด ทำให้ผมได้มองได้เห็นอะไรหลายๆอย่างในตัวของเธอ ผู้หญิงธรรมดาที่สุดแสนจะวิเศษคนนี้ ผมไม่อายเลยที่จะบอกกับคนทั้งโลกว่าผมรักยิหวามากแค่ไหนถึงเพือ่นผมมันจะล้อว่าผมกลัวเมียผมก็ไม่โกรธเพราะผมกลัวจริงๆ กลัวเธอจะทิ้งผมไปกลัวเธอจะเลิกรักผมเพราะนิสัยแย่ๆของผม ดวงยิหวา...."ขอบคุณนะคะพี่แบล็คที่รักหวาทั้งๆที่หวาไม่มีอะไรคู่ควรกับพี่เลย""ใครบอก หวาคู่ควรกับพี่ที่สุดเพราะหวาคือคนที่พี่รักมากที่สุด""หวาก็รักพี่มากที่สุดเหมือนกันค่ะ ขอบคุณที่ไม่รังเกียจหวากับครอบครัวหวา หวาไม่คิดมาก่อนเลยว่าจะมีวันนี้จะได้แต่งงาน
ดวงยิหวา...."พี่แบล็คนอนได้มั้ยคะ""ถ้านอนไม่ได้หวาจะมานอนเป็นเพื่อนพี่หรือเปล่าล่ะ หื้มมม""หวาก็อยากนอนนะคะแต่หวาเกรงใจพ่อกับแม่""พี่เข้าใจ แค่สามวันเองไว้กลับไปเราค่อยนอนกอดกันเนอะ^^""ขอบคุณนะคะที่เข้าใจ""เพราะพี่รักหวาไงครับ""หวาไม่คิดเลยว่าหวาจะได้มาเป็นแฟนกับพี่" ฉันซบไหล่เขาเขาก็ดึงฉันมากอดหลวมๆ"พี่ก็ไม่คิดเหมือนกันว่าจะมีแฟนเป็นตัวเป็นตนเพราะที่ผ่านมาพี่ไม่เคยคบใครเป็นแฟนเลย หวาคือคนแรกเลยนะรู้มั้ย""เป็นคนแรกแล้วจะเป็นคนสุดท้ายหรือเปล่าคะ""แน่นอนสิครับคนแรกและคนเดียวที่พี่จะยอมให้ทุกอย่าง""พี่เคยรู้สึกว่าตัวเองคิดผิดที่คบกับหวามั้ยคะ""หมายความว่าไงพี่ไม่เข้าใจ""ก็แบบรู้สึกไม่น่ามีแฟนเลยอะไรแบบนี้ เพราะพี่ชอบอิสระไงพอมีหวาเข้ามาพี่ก็เหมือนจะต้องเปลี่ยนแปลงตัวเองไม่ออกไปเที่ยวไม่ออกไปกินเหล้าแบบที่เคยทำ หวากลัวว่าหวาจะทำให้พี่เสียความเป็นส่วนตัวรู้สึกว่าไม่น่ามีแฟนเลยอะไรแบบนี้อ่ะค่ะ""พี่ไม่เคยรู้สึกแบบนั้นเลย พี่กลับคิดว่าพี่น่าจะขอหวาเป็นแฟนให้เร็วกว่านี้เพราะหวาทำให้พี่เป็นคนที่ดีขึ้นกว่าแต่ก่อน""จริงเหรอคะพี่รู้สึกแบบนั้นจริงๆเหรอ""อื้มมม^^""หวานรักพี่ที่สุดเล
แบล็ค..."พ่อขอถามหน่อยได้ไหม""ครับ""แบล็ครักลูกสาวของพ่อจริงๆใช่ไหม เรื่องนี้พ่อว่าจะถามตั้งแต่ครั้งแรกที่เราโทรคุยกันแล้วแต่พอคิดว่าพูดต่อหน้าคงจะดีกว่าที่พ่อถามไม่ใช่อะไรหรอก พ่อน่ะมีลูกสาวเพียงคนเดียวแกเป็นเด็กดีมากๆไม่เคยทำให้พ่อกับแม่ผิดหวังเลย ตอนที่ยิหวาโทรมาสารภาพกับพ่อว่ามีแฟนแล้วตอนนั้นพ่อยอมรับว่าพ่อตกใจมาก ตอนอยู่ที่นี่ก็มีหนุ่มๆแถวนี้มาจีบแต่ยิหวาไม่เคยสนใจใครแกบอกว่าแกไม่อยากมีแฟนแกอยากเรียนสูงๆจะได้มีงานดีๆทำแกชอบพูดกับพ่อแม่เสมอว่าถ้าเรียนจบแล้วจะหางานดีๆทำเงินเดือนเยอะๆ แกจะไม่ให้พ่อกับแม่ลำบากทำนาอีก""ครับเรื่องนี้เธอก็เลยบอกกับผมเหมือนกัน""พอแกบอกกับพ่อว่าแกมีแฟนพ่อก็ไม่ได้ว่าอะไรนะเพราะเข้าใจว่ายิหวาเป็นสาวแล้วการที่ยิหวาจะมีแฟนมีคนรักมันก็ไม่ใช่เรื่องแปลกหรือเสียหายอะไรแต่พ่อแค่กลัวกลัวว่าแกจะถูกหลอกพ่อกลัวแกจะเสียใจ แบล็คคงไม่ว่าถ้าพ่อจะพูดตรงๆ แบล็คน่ะเป็นคนหน้าตาดีมีฐานะมีชาติตระกูลหาผู้หญิงที่เหมาะสมคู่ควรกันคงหาไม่ได้ไม่ยากส่วน ยิหวาแกเป็นแค่เพียงลูกชาวนาจนๆไม่ได้ร่ำรวยอะไรสมบัติที่พ่อกับแม่มีให้ก็มีแค่ที่นาไม่กี่ไร่ ถ้าเกิดวันหนึ่งแบล็คไปเจอผู้หญิงที่ดี
ดวงยิหวา...."หลังนี้ค่ะบ้านของหวา" ฉันชี้ไปต้องบ้านไม้หลังเล็กๆ ที่ฉันอยู่มาตั้งแต่เกิด ที่ฉันไม่ได้กลับมาเลยสองปีเต็มๆ เพราะต้องทำงานหาเงินซึ่งพ่อกับแม่ก็เข้าใจ พี่แบล็คขับรถเข้าไปจอดตรงใต้ต้นมะขามต้นใหญ่ที่ปลูกอยู่หน้าบ้าน คือบ้านของฉันมันไม่ได้มีรั้วรอบขอบชิดซึ่งละแวกบ้านก็เป็นญาติพี่น้องกันทั้งนั้นทุกคนในหมู่บ้านอยู่กันอย่างถ้อยทีถ้อยอาศัยช่วยเหลือกันมาตลอดมีอะไรก็แบ่งปันกัน บอกได้เลยว่าถ้ามาอยู่ที่นี่ถึงไม่มีเงินสักบาทก็อยู่ได้เพราะทุกบ้านมีที่นาเป็นของตัวเองมีข้าวกินตลอดทั้งปีไม่ต้องไปซื้อให้เปลืองเงิน ถ้าหมดหน้าทำนาก็มาปลูกพืชผักสวนครัวเลี้ยงเป็ดเลี้ยงไก่เลี้ยงปลาเลี้ยงหมู ทำให้ไม่ต้องกลัวว่าจะอดพอลงจากรถพี่แบล็คก็ยืนมองดูบ้านของฉันเขายืนนิ่งไปพูดไม่จาเหมือนกำลังคิดอะไรอยู่จนฉันกลัวว่าเขาจะรับไม่ได้หรือเปล่า"พี่แบล็คอยู่ได้ไหมคะ" คือเราจะอยู่กันที่นี่สามวันค่ะฉันกลัวว่าเขาจะอยู่ไม่ได้ถึงเขาจะพูดก่อนมาว่าอยู่ได้แต่เพราะเขายังไม่ได้มาเห็นสถานที่จริงเขาพูดได้"ถ้าพี่แบล็คอยู่ไม่ได้ก็ไม่เป็นไรนะคะหวาเข้าใจพี่จะไปพักในโรงแรมในเมืองก็ได้นะคะ" ฉันพูดอย่างรู้สึกผิดเพราะคิดว่าเขาคงทำ
ดวงยิหวา...."อ่าาาาาา" เขาแหงนหน้าขึ้นมองด้านบนมือของเขาก็สาวเจ้าท่อนเอ็นที่มันมีน้ำสีขาวพุ่งออกมาร่างกายเขาเกร็งไปหมดจนฉันรู้สึกได้ แล้วฉันก็ตัดสินใจทำอะไรบางอย่างที่ไม่คิดว่าตัวเองจะทำ ฉันขยับตัวลุกขึ้นนั่งคุกเข่าอยู่ตรงกลางหว่างขาของพี่แบล็คฉันเอามือจับเจ้าท่อนเอ็นของเขาพร้อมกับเงยหน้าขึ้นมองหน
แบล็ค....ตั่บ ตั่บ ตั่บ ตั่บ ตั่บ ผมกระแทกท่อนเอ็นใส่ร่องรักของคนใต้ร่าง แม้ว่าผมจะพยายามไม่ทำรุนแรงแต่ก็ห้ามใจไม่ไหวยิหวาทำผมคลั่งควบคุมสติตัวเองไม่อยู่"อ๊ะ อ๊ะ อ๊ะ พี่แบล็ค ฮืออพี่แบล็คขาาาา หวาเสียวมาก ฮือออออ" "อ่าาา พี่ก็เสียวเหมือนกัน หวาจ๋า อ่าาาาา""อ๊าาา พี่แบล็คขา พี่แบล็ค ฮืออออหวาจะไ
แบล็ค....จ๊วบ จ๊วบ จ๊วบ แผล่บ แผล่บ แผล่บ ผมละเลงลิ้นร้อนไปทั่วหน้าอกทั้งสองข้าง ยิหวาดิ้นพล่านด้วยความเสียวผมพยายามที่จะไม่รุนแรงกับเธอแต่ไม่รู้เป็นไรพอได้สัมผัสได้กินได้ยินเสียงครางเบาๆของเธอผมมักจะลืมตัวทุกที"ฮือออ พี่แบล็ค อย่ากัดค่ะ ฮืออออ พี่แบล็ค" ผมลืมตัวกัดหน้าอกเธอไปแต่ก็ไม่ได้แรงมากแต่
ยิหวา...ตั้งแต่วันนั้นฉันก็ไม่ได้ไปทำงานใช้หนี้พี่แบล็คอีกเลย ฉันยอมรับว่าโกรธเขาอยู่แต่อีกใจก็ดันคิดถึงเขา มันน่านักนะยิหวาเขาทำกับเธอดูถูกเธอขนาดนี้เธอยังโง่ไปคิดถึงเขาอยู่ได้ใจไม่รักดีเลยจริงๆ เห้ออออ แต่ก็ไม่ใช่ว่าฉันไม่เจอเขาเลยหรอกนะฉันเห็นเขามารับยัยจิ๊บที่คณะเมื่อหลายวันก่อน เหอะคงสานสัมพั