LOGINหนึ่งเดือนก่อนแต่งงานกับแฟนหนุ่ม เขากลับต้องการมีลูกกับรักแรกของเขา ฉันไม่เห็นด้วย เขาก็เอาเรื่องนี้มาพร่ำบ่นให้ฟังทุกวัน จนกระทั่งครึ่งเดือนก่อนวันแต่งงาน ฉันก็ได้รับใบตรวจครรภ์ ถึงได้รู้ว่ารักแรกของเขาตั้งครรภ์ได้เกือบหนึ่งเดือนแล้ว ที่แท้เขาก็ไม่เคยคิดที่จะขอความเห็นชอบจากฉันตั้งแต่แรกแล้ว และในตอนนั้นเอง ความสัมพันธ์ที่ยาวนานหลายปีก็เหมือนหมอกควันที่จางหายไป ด้วยเหตุนี้ ฉันจึงยกเลิกงานแต่งงาน ทำลายความทรงจำทั้งหมดระหว่างเรา ตัดสินใจเข้าร่วมห้องปฏิบัติการวิจัยที่ตัดขาดจากโลกภายนอกในวันแต่งงาน นับจากนี้ไป ฉันไม่เกี่ยวข้องอะไรกับเขาอีก!
View More"Brruukkkk !"
Fransisca tersentak luar biasa ketika suara gaduh itu mengejutkan dirinya yang tengah berkutat membuat curriculum vitae dan application letter untuk acara interview-nya besok pagi. Ia sontak bangkit dan melangkah ke luar rumah.
"Ya ampun, heh kalau nyetir pakai mata dong!" umpatnya ketika rak tanamannya jatuh dan beberapa pot bunganya pecah.
"Kok jadi elu yang ngegas sih, harusnya gue dong, lihat itu mobil gue jadi lecet gara-gara itu rak tanaman lu yang nggak jelas ini!"
Fransisca melotot, sosok laki-laki itu sama melototnya. Siapa sih orang ini? Nggak sopan banget jadi orang?
"Mobil elu lecet karena elu sendiri yang nggak pakai mata, bisa-bisanya sih rak di situ elu tabrak?" Fransisca tidak mau kalah, lagian ini kan wilayah rumah dia, sedang laki-laki asing ini bukan warga perumahan sini kan?
"Elu yang salah, lu tau? Ini sudah masuk wilayah depan rumah gue!"
Fransisca sontak makin melotot, "Depan rumah elu?" Fransisca berteriak, tangannya sudah standby di pinggang.
"Iya, ini rumah gue!" guman laki-laki itu sambil menunjuk unit perumahan yang terletak tepat di sebelah kanan rumahnya.
"Gue nggak salah denger? I-ini rumah elu?" Fransisca mendekati sosok itu, "Ini rumah keluarga Pak Toni!"
"Iya, dan sudah gue beli, mau apa lu?" tantang sosok itu yang masih melotot.
"Astaga, apes!" gerutu Fransisca sambil memijit keningnya.
"Apanya yang apes?" guman laki-laki itu yang masih berkacak pinggang.
"Gue yang apes punya tetangga kayak elu!" bentak Fransisca kesal.
"Lu kira gue nggak bakal apes gitu? Punya tetangga modelan kayak elu? Main serobot lahan orang lagi!" sosok itu tidak mau kalah, perselisihan mereka masih begitu sengit.
"Lahan elu? Eh ini lihat pager ini, rak tanaman gue masih masuk lahan gue!" Fransisca menunjuk tembok depan rumahnya, tentulah rak itu masih masuk di wilayahnya, dasar orang satu ini aja parkir nggak pake mata!
"Tapi itu masuk dikit ke lahan gue, jadi nabrak kan mobil gue!" sosok itu masih tidak mau kalah.
"Ihh ... dasar ngeselin! Ganti rugi pot gue pecah tuh!" suara Fransisca masih melengking tinggi, pokoknya ia minta ganti rugi.
"Lu juga gantiin nih mobil gue, lecet semua!"
Laki-laki itu masih berkacak pinggang dan melotot kesal ke arah Sisca, membuat Sisca sontak membelalakkan mata menatap sosok itu dengan tatapan sangat tidak suka.
"Lu yang nabrak kenapa jadi gue yang harus gantiin?" Fransisca benar-benar kesal dengan laki-laki itu, pendatang baru sudah kebanyakan tingkah.
"Kan mobil gue lecet gegara pot elu!" Sosok itu benar-benar tidak mau mengalah.
Fransisca sudah tidak sabar lagi, ia meraih pot tanah liatnya yang masih utuh lalu melemparkannya ke depan mobil laki-laki itu.
"Eh ... eh ... gila lu, makin rusak mobil gue, dasar gila ya!" pekik laki-laki itu lalu meraih tangan Sisca, mengecengkeramnya dengan erat.
"Lu tuh ngeselin tahu nggak!" Sisca hendak melepaskan genggaman tangan laki-laki itu.
"Apa bedanya sih sama elu, ganti nggak mobil gue!" laki-laki itu masih ngotot minta ganti rugi.
"Ogah!" Sisca melepaskan genggaman tangan laki-laki itu, berbalik badan lalu menjulurkan lidahnya dan masuk ke dalam rumah.
"Dasar cewek aneh!"
Sisca mendengar umpatan itu namun ia tidak peduli, ia lebih memilih masuk ke dalam dan menyelesaikan pekerjaannya. Besok pagi ia harus sudah di kantor Dita dan interview guna mendapatkan pekerjaan itu, posisi staff keuangan di perusahaan tekstil yang masuk dalam kategori perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara.
"Mimpi apaan sih dapat tetangga rese macam itu?" gerutu Sisca sambil menekan-nekan keyboard laptopnya dengan gemas.
"Belum satu hari di sini, eh sudah bikin ulah, gimana kalau sebulan, setahun, bisa gila gue!" Sisca masih benar-benar kesal, kenapa harus laki-laki itu sih yang beli rumah keluarga Pak Toni? Kenapa harus dia?
Sisca mencoba menekan semua rasa kesalnya, ia fokus mengerjakan curriculum vitae itu dan melupakan semua kejadian menyebalkan yang terjadi barusan. Harapannya semoga kehadiran tetangga rese itu tidak merusak hari-harinya di rumah. Jangan sampai!
***
Arnold membanting pintu kamar dengan kesal, baru saja tiba di rumah ini eh dia sudah dibikin kesal sama cewek nggak jelas itu. Sialnya lagi rumah mereka bersebelahan! Gila nggak tuh! Kepala Arnold jadi makin pening.Arnold bergegas merogoh sakunya, mengambil iPhone XII-nya dan bergegas menghubungi nomor itu.
"Hallo, gimana Ko?" suara itu langsung menyapa pendengaran Arnold ketika panggilannya terangkat.
"Pi, Papi serius Pi nyuruh Arnold tinggal di rumah kayak gini?" protes Arnold sambil menatap sekeliling kamarnya, kamar yang bahkan dengan kamar mandi kamarnya yang ada di Jakarta sana lebih besar kamar mandi kamarnya.
"Lho masih bagus papa kasih fasilitas rumah, Nold!" suara itu tampak tertawa, "Kamu harus belajar memulai semuanya dari nol, Arnold. Karena dulu papi mulai semua usaha yang sekarang sudah besar ini juga dari nol."
"Tapi nggak gini juga dong, Pi!" Arnold masih protes.
"Sudahlah, masih mending kan, rumah sudah lengkap seisinya, masih papi kasih mobil juga, masih papi kasih CC, kurang apa sih?"
"Tapi Pi ...," Arnold sampai tidak bisa berkata-kata lagi, apaan mobil cuma Honda Mobilio, CC limit sepuluh juta doang. Bisa apa memang dia?
"Jangan membantah oke? Awasi dan kendalikan usaha papi di sana dengan baik. Masa depan perusahaan itu ada di tanganmu. Biar usaha papi yang biayain kamu sekolah sampai London nggak sia-sia."
"Pi, Arnold lanjut S3 lagi aja deh ya."
"Nggak bisa, kemarin kamu papi tawari lanjut S3 kamu nolak kan?"
Arnold menghela nafas dengan kasar, kalau tahun begitu kemarin ia mau disuruh lanjut S3 di London, daripada dikasih perusahaan tapi harus begini amat. Uang di batasi, rumah seadanya kayak gini, mobil cuma mobil murah, ya ampun ... mana Arnold yang dulu? Glamour, berdompet tebal, hobi pesta?
"Pi, CC limitnya ditambahin dong, masa iya sebulan cuma sepuluh juta sih?" Arnold protes keras, dulu waktu kuliah saja limit CC-nya sampai dua ratus juta sebulan!
"Nggak bisa, kamu harus belajar kelola uang dengan sebaik-baiknya! Paham? Nanti kan sebulan kamu masih dapat gaji," jawab suara itu tegas.
"Berapa? Lima ratus juga gaji aku, Pi?" tanya Arnold dengan semangat.
"Sembarangan, enam puluh juta cukup lah."
"APA?" Arnold memekik keras, perusahaan yang dia pegang sebesar itu, dia jadi direktur utama dan gajinya cuma enam puluh juta?
"Pi, aku ini di sana jadi direktur utama atau staff manajer sih?" protes Arnold keras, gila apa? Income pabrik itu sebulan milyaran dan dia cuma diberi papinya enam puluh juta?
"Harusnya kamu bersyukur, baru kerja pertama kali sudah segede itu gajimu, coba kamu kerja di perusahaan lain, nggak bakalan segitu gede gajimu, Norld!"
Arnold mendengus kesal, apa-apaan ini? Kerja ikut orang tua sendiri kenapa malah jadi kayak kerja ikut Jepang di masa penjajahan dulu sih?
"Ah sudahlah, intinya jalani dulu, belajar pakai uang dengan bijak dan jangan banyak mengeluh. Papi tu ...."
"Tunggu, jangan di tutup dulu, Pi!" teriak Arnold ketika panggilannya hendak ditutup papinya.
"Apa lagi?"
"Pi, ini nggak ada asisten rumah tangga gitu ya?" Arnold garuk-garuk kepala, ia sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan rumah.
"Usaha sendiri, kalau mau cari asisten, silahkan, tapi kamu bayar sendiri jasanya, papi tidak mau tanggung biayanya."
Tut!
Sambungan telepon terputus, Arnold mengumpat dalam hati. Sekejam ini papinya menggembleng dia selepas selesai kuliah? Luar biasa sekali!
Arnold bangkit dan melangkah keluar kamar, ia berjalan mengelilingi rumahnya. Rumah dengan dua kamar, satu kamar mandi, dapur, ruang tamu itu benar-benar kecil! Baginya yang biasa tinggal di rumah di lahan hampir satu hektar, tentu rumah ini benar-benar kecil. Astaga, masih mending dia dibelikan apartemen saja.
Arnold melangkah ke dapur, lengkap sih, semua perintilannya sudah tersedia. Hanya saja ia tidak bisa memasak, tidak bisa mencuci baju dengan mesin, seterika dan lain sebagainya. Lalu bagaimana nanti dia menjalani kehidupannya di sini?
"Papi benar-benar nggak tanggung-tanggung nyiksa anak!"
***
"Selesai!" guman Sisca riang ketika semua surat-surat yang ia perlukan untuk interview besok sudah beres.Ia bergegas mencetak dokumen itu dengan printer yang tersedia di kamarnya. Akhirnya setelah ia menganggur hampir setengah tahun selepas di wisuda, ia dapat perkerjaan juga. Ya untung saja Dita sebagai asisten HRD memberinya informasi lebih dulu sebelum informasi lowongan pekerjaan itu di share ke khalayak umum.
Enaknya punya orang dalam seperti ini bukan? Kalau besok HRD cocok dengan Sisca bisa dipastikan ia akan langsung bekerja. Itu juga akan mempermudah pekerjaan HRD karena tidak perlu repot-repot mengadakan interview dan lain sebagainya. Apalagi Sisca sudah mendapat rekomendasi dari Dita.
Sisca bergegas memasukkan berkas-berkas itu ke dalam map, ia melirik kemeja dan rok yang sudah ia siapkan untuk interview besok, rasanya ia sudah sangat tidak sabar!
Bagaimana rasanya punya pekerjaan? Punya gaji sendiri? Punya penghasilan sendiri tanpa perlu merengek minta di transfer uang oleh orangtuanya? Sisca jadi tersenyum sendiri membayangkan semua itu.
Setelah membereskan laptop dan lain sebagainya, ia bergegas keluar kamar. Tetangga samping tidak terlihat aktifitasnya, mungkin tidur karena mobil silver itu masih terparkir di depan rumah yang berada tepat di sampingnya itu.
Namun apa pedulinya dia? Ia memilih melangkah ke dapur, ia lapar. Jadi lebih baik ia memasak sesuatu bukan? Ia membuka pintu kulkasnya, nampak beberapa sayuran dan buah ada di dalam sana. Freezer kulkasnya ada banyak frozen food yang ia simpan untuk persediaan.
Mungkin masak mie kuah pedas dengan sayuran dan frozen food enak di cuaca mendung seperti ini. Ia tersenyum, meraih kotak T*pperware tempat ia menyimpan semua makanan beku favoritnya. Beberapa sayuran dan tidak lupa telur.
Cuma masak seperti ini apa susahnya? Ia tersenyum, untung sejak kuliah ia sudah biasa masak sendiri. Rumah ini pemberian orangtuanya yang sudah ia tempati semenjak memutuskan untuk kuliah di universitas negeri di kota ini. Memang orangtuanya sedikit berada, namun sejak lulus SMA dia sudah dituntut mandiri.
Bau harum itu sontak merebak, membuat suasana hati Sisca yang sebelumnya begitu buruk itu menjadi lebih baik. Persetan lah dengan tetangga rese itu, yang penting dia dia membuat onar dan membuat masalah dengannya.
***
Arnold yang tengah berbaring di sofa itu sontak terkejut ketika indera penciumannya menangkap bau harum itu. Harum sekali, masakan siapa ini?Arnold duduk dan menikmati aroma yang begitu memanjakan indera penciumannya itu. Pas banget perut dia sedang lapar-laparnya ini, tapi masakan siapa ini? Kenapa wangi sekali? Ahh sial!
Arnold bergegas bangkit dan melangkah ke depan rumah, bau itu makin menguar dan membuat perut Arnold makin keroncongan. Ia mencoba mencium-cium dari mana aroma itu berasal dan deteksi hidungnya berhenti di rumah yang tepat berada di sisinya itu.
Cewek rese tadi bisa masak? Seharum ini baunya? Arnold hanya tersenyum kecut, ia kembali masuk dan meraih iPhone-nya. Membuka aplikasi G*jek, hendak memesan makanan via aplikasi itu.
Hanya ini yang bisa ia lakukan bukan? Mau masak? Mana bisa? Meskipun semua perlekapan masak memasak begitu lengkap di dapur, tapi Arnold bisa apa? Dia bukan Chef Arnold Poernomo!
Arnold tersenyum kecut, sepertinya ia benar-benar perlu punya asisten rumah tangga deh! Siapa nanti yang cuci bajunya? Membersihkan rumah ini? Masak dan lain-lain? Tapi nanti berapa gajinya? Dan apa ada orang yang bisa ia percaya, mengingat ia baru di sini, dan tidak kenal siapapun di sini.
Sekali lagi Arnold mendengus kesal, kenapa sih begini amat papinya itu? Kejam banget nyiksa anak kayak gini? Jabatannya besok memang tinggi, tapi dengan kondisi rumah seperti ini, mobil murah di depan sana, ya ampun jomplang sekali dengan jabatannya di kantor!
"Papi, lihat saja akan Arnold buktikan bahwa kelak Arnold akan lebih sukses dari papi!"
ฉันตอบตกลง และตอนเย็นก็ให้คนส่งการ์ดเชิญและลูกอมมงคลมาให้ฟู่อวี่เหนียนแกะลูกอมเม็ดหนึ่ง แล้วค่อยๆ ใส่เข้าปากเขาดูเหมือนจะไม่ได้สัมผัสรสหวานมานานมากแล้วในวันแต่งงาน แขกเหรื่อมากมายมากันอย่างคับคั่ง แม้แต่อาจารย์ที่กำลังลาพักร้อนและคนอื่นๆ ในห้องวิจัยก็ยังรีบเดินทางมาร่วมงานอาจารย์ตบไหล่กู้เหยียนอย่างตื่นเต้น"ดีมาก! ไม่คิดเลยว่านายจะคว้าตัวรุ่นพี่ของนายไปได้ ช่างโชคดีจริงๆ"เพื่อนร่วมรุ่นก็แซวกันยกใหญ่ฉันมองดูชายหนุ่มที่สวมชุดสูทสีดำข้างกาย ความพึงพอใจและความสุขในใจแทบจะล้นออกมาหลังจากได้พบกับกู้เหยียน ฉันถึงได้สัมผัสว่าความรักที่เปิดเผยตรงไปตรงมาคืออะไรพิธีแต่งงานเริ่มต้นขึ้น ฉันควงแขนคุณพ่อ เดินทีละก้าวๆ เข้าไปหากู้เหยียนคุณพ่อวางมือของฉันลงบนฝ่ามือของกู้เหยียน"ลูกสาวของผม ขอฝากไว้กับคุณนะ"กู้เหยียนให้คำมั่นสัญญากับคุณพ่อของฉัน"คุณพ่อวางใจได้เลยครับ ผมจะดูแลเธอไปตลอดชีวิต"จากนั้นก็มีการกล่าวคำปฏิญาณ แลกแหวน และจูบสาบานเสียงปรบมือและเสียงกรีดร้องดังกึกก้องจากด้านล่างเวทีทุกคนต่างส่งคำอวยพรให้กับคู่บ่าวสาวที่มุมห้อง ฟู่อวี่เหนียนก็ปรบมือและจ้องมองไปทางเสิ
ฟู่อวี่เหนียนฝืนยิ้มอย่างอ่อนแรง"คุ้มค่าสิ""ตอนที่คุณช่วยผม คุณก็คงเจ็บแบบนี้เหมือนกันใช่ไหม"เมื่อเห็นฟู่อวี่เหนียนพูดได้ลำบาก ฉันจึงรีบให้เขาพักผ่อนก่อน อย่าเพิ่งพูดอะไรตอนนี้ฟู่อวี่เหนียนส่ายหน้า และพูดอย่างช้าๆ แต่หนักแน่น"ผมไม่ได้ตั้งใจจะตามคุณไป เมื่อวานหลังจากที่คุณพูดเรื่องนั้น ผมก็เก็บไปคิดทบทวนและเข้าใจในที่สุด""เมื่อก่อนผมทำไม่ดีกับคุณเอง ผมเห็นความรักของคุณเป็นของตายและไม่คิดจะทะนุถนอมเอาไว้""วันนี้ผมแค่อยากจะบอกคุณว่า ผมเสียใจ""แต่ผมลังเลมาตลอด ไม่รู้จะพูดอย่างไร ไม่คิดว่าจะเห็นโจรข้างหลังหยิบมีดออกมา ตอนนั้นผมคิดแค่เรื่องเดียว คือจะไม่ยอมให้คุณบาดเจ็บ"ฉันไม่เคยคิดเลยว่าจะได้ยินคำพูดเหล่านี้จากปากของฟู่อวี่เหนียนถ้าเป็นเมื่อหลายปีก่อน ฉันคงจะซาบซึ้งที่ฟู่อวี่เหนียนเปลี่ยนแปลงไปแต่ตอนนี้ ทุกสิ่งทุกอย่างได้เปลี่ยนไปแล้วฉันไม่ใช่ตัวฉันคนเดิมที่รักฟู่อวี่เหนียนอย่างสุดซึ้งอีกต่อไปสำหรับฟู่อวี่เหนียน ฉันมีให้เขาแค่ความรู้สึกขอบคุณ ไม่มีอะไรอื่นอีกแล้วฟู่อวี่เหนียนเห็นฉันนิ่งเงียบ เขาก็เข้าใจความคิดของฉันในตอนนี้แต่เขาก็ยังอยากลองเป็นครั้งสุดท้าย"ถ
ความเจ็บปวดที่คาดไว้ไม่ปรากฏขึ้นฉันรีบหันกลับไปและเห็นฟู่อวี่เหนียนยืนบังอยู่ข้างหลัง ตอนนี้เขากำลังกุมท้องด้วยมือข้างหนึ่ง ใบหน้าซีดเผือดเลือดไหลออกมาไม่หยุดจากบริเวณที่เขากุมไว้เมื่อเห็นฟู่อวี่เหนียนกำลังจะหมดแรงล้มลงกับพื้น ฉันก็รีบรับตัวเขาไว้ และอีกมือหนึ่งก็รีบกดโทรเบอร์ 120 เรียกรถพยาบาลทันทีตอนนี้สติของฟู่อวี่เหนียนเริ่มเลือนลาง ความเจ็บปวดรุนแรงเข้าครอบงำสมองของเขาไปหมดที่แท้ ความรู้สึกถูกแทงด้วยมีดมันก็เจ็บปวดขนาดนี้เลยตอนนั้นเธอก็คงเจ็บปวดขนาดนี้เหมือนกันสินะฟู่อวี่เหนียนพยายามลืมตาขึ้น เห็นสีหน้ากังวลของฉันก็อดไม่ได้ที่จะยิ้มแต่บาดแผลที่ท้องก็กลับมาเจ็บปวดอย่างรุนแรงอีกครั้งตอนนี้ในสมองของฉันมีแต่ความคิดที่จะช่วยเขาห้ามเลือดให้เร็วที่สุด ฉันรีบใช้มือกดบาดแผลไว้มองดูเปลือกตาของฟู่อวี่เหนียนที่ค่อยๆ ปิดลง ฉันก็ตะโกนไม่หยุด"อดทนไว้ฟู่อวี่เหนียน อย่าหลับนะ!""หมอกำลังจะมาแล้ว ต้องอดทนไว้!"ก่อนที่ฟู่อวี่เหนียนจะหมดสติไปเพียงเสี้ยววินาที เขาก็ได้ยินเสียงรถพยาบาลเจ้าหน้าที่ทางการแพทย์รีบยกเขาขึ้นรถพยาบาลเพื่อห้ามเลือดให้ฉัน พร้อมทั้งแจ้งโรงพยาบาลให้เตรีย
ฟู่อวี่เหนียนไม่เข้าใจว่าทำไมฉันถึงถามเขาแบบนั้นฉันพูดต่อไปว่า"คุณรักฉัน ทำไมไม่เคยซื้อของขวัญวันเกิดให้ฉันเลย? คุณรักฉัน ทำไมไม่อยากไปเที่ยวกับฉันบ้าง? คุณรักฉัน ทำไมถึงปล่อยให้ผู้หญิงคนอื่นท้องลูกของคุณ แถมยังถ่ายรูปแต่งงานแทนที่ฉันด้วย?""หัวใจของฉันก็มีเลือดเนื้อนะ ฉันก็เจ็บปวดเป็นเหมือนกัน""ถ้าความรักของคุณหมายถึงอะไรแบบนี้ ขอโทษด้วยนะ ฉันรับไม่ไหวจริงๆ"ทุกคำที่ฉันพูดออกไป สีหน้าของฟู่อวี่เหนียนก็ซีดเผือดลงเรื่อยๆความทรงจำในอดีตหลั่งไหลเข้ามาในสมองของเขาเขาอยากจะโต้แย้งคำพูดของฉัน แต่กลับพบว่า ไม่ว่าจะค้นหาความทรงจำทั้งหมดยังไง มันก็เป็นไปตามที่ฉันพูดจริงๆทุกเรื่อง ทุกเหตุการณ์ ล้วนเป็นสิ่งที่เขาเคยทำ เขาไม่สามารถโต้แย้งได้เลยสุดท้าย ฟู่อวี่เหนียนทำได้เพียงจับประเด็นเรื่องเจียงเซี่ยแล้วพูดอย่างอ้ำอึ้งว่า"ที่ผมดีกับเจียงเซี่ยก็เพราะจำคนผิด ถ้าผมรู้ว่าเป็นคุณแต่แรก ผมจะไม่...""พอได้แล้ว!"ฉันขัดจังหวะคำพูดของฟู่อวี่เหนียนเขาคิดว่าปัญหาที่ใหญ่ที่สุดระหว่างพวกเรา เกิดจากการมีอยู่ของเจียงเซี่ยหรือไง?ดูเหมือนว่าสองปีผ่านไป เขาก็ยังไม่เข้าใจว่าปัญหาที่ใหญ่ที่สุด
ชั่วพริบตานั้น ฟู่อวี่เหนียนรู้สึกเหมือนถูกฟ้าผ่าลงมากลางร่างกายความคิดบางอย่างที่เขาคาดเดาได้อย่างคลุมเครือ ในที่สุดก็ได้รับการยืนยันอย่างชัดเจนแล้วเสิ่นหนานต้องการเลิกกับเขาจริงๆ!แต่เพราะอะไรกันล่ะ?วันนี้พวกเขาจะแต่งงานกันแล้ว ฟู่อวี่เหนียนรู้ว่านี่คือความปรารถนาที่เธอเฝ้ารอมา 20 ปี เธอจะย
ฉันไม่มีเวลาคิดเรื่องอื่น พยายามปรับลมหายใจเข้าออกของตัวเอง สูดหายใจลึกๆ หนึ่งครั้งแล้วผลักประตูเข้าไปห้าปีที่ไม่ได้พบกัน ฉันสังเกตเห็นว่าอาจารย์มีผมขาวขึ้นเล็กน้อยแล้วเมื่อนึกถึงตอนนั้น ตอนที่ฉันจากไปพร้อมกับฟู่อวี่เหนียนโดยไม่สนใจคำพูดเหนี่ยวรั้งของอาจารย์ที่พยายามซ้ำแล้วซ้ำเล่า ฉันก็รู้สึกละอ
อีกด้านหนึ่ง หลังจากนั่งเครื่องบินมาสองชั่วโมง ในที่สุดฉันก็มาถึงปักกิ่งก่อนเครื่องจะบินขึ้น รุ่นพี่ส่งข้อความมาหาฉัน บอกว่ากลัวฉันหาที่อยู่ไม่เจอ เลยส่งคนมารับฉันโดยเฉพาะในสนามบินมีคนมารอรับเยอะมาก ฉันมองหาอยู่หลายรอบก็ไม่เห็นใครถือป้ายชื่อของตัวเองเลยฉันกำลังจะหยิบโทรศัพท์ออกมาโทรหารุ่นพี่เพ
อีกด้านหนึ่ง ฟู่อวี่เหนียนเพิ่งออกจากโรงพยาบาลหลังจากที่อาการของเจียงเซี่ยคงที่แล้วขณะเดินอยู่บนถนน เขาได้ส่งข้อความหาเสิ่นหนาน ถามว่าเธอเตรียมงานแต่งงานพร้อมหรือยัง พิมพ์ไปบอกว่าเขาอยู่ระหว่างทางไปโรงแรมแล้วแต่รอจนกระทั่งฟู่อวี่เหนียนขึ้นรถ เขาก็ยังไม่ได้รับการตอบกลับจากเสิ่นหนานเขาเปิดโทรศัพ
reviewsMore