LOGINกู้จื่อเวยเคยเชื่อว่า ต่อให้โลกทั้งใบเปลี่ยนไป ซือหม่าตวนก็ไม่มีวันเปลี่ยน เขารักนาง ตามใจนาง และเคยบอกว่านางเป็นเช่นนี้ก็ดีอยู่แล้ว กระทั่งวันหนึ่ง เขากำลังจะแต่งบุตรีราชครูเป็นภรรยาเอก “แล้วข้าเล่า?” “ข้ายังจะแต่งเจ้า เวยเวย” เพียงแต่ครั้งนี้ นางไม่ได้แต่งเข้าจวนในฐานะภรรยา แต่เป็นเพียงอนุของชายที่นางรัก กู้จื่อเวยเคยคิดว่าไม่เป็นไร ขอเพียงท่านพี่ตวนยังรักนาง ทุกอย่างย่อมเหมือนเดิม จนกระทั่งนางได้เรียนรู้ว่า... ฐานะเปลี่ยน คนก็เปลี่ยน และบางครั้ง ความรักเพียงอย่างเดียวก็รักษาทุกสิ่งไว้ไม่ได้
View More“Dek, kamu mau nggak bantuin Kakak?” tanya Aisyah yang terlihat cemas setelah membaca pesan dari kekasihnya.
Andin menghampiri sang kakak yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur. Kemudian ia menaruh gaun pengantin itu di tempat tidur kakaknya.
“Ih … Kakak dari tadi nggak dengerin aku?” tanya Andin pada Kakak sepupu yang sudah ia anggap sebagai Kakak kandungnya sendiri sambil mengerucutkan bibir.
Andin, gadis berusia 21 tahun, kulit kuning langsat, hidung mancung, bulu mata yang lentik, manik mata coklat gelap, rambut lurus dan body yang aduhai dari tadi sibuk mencoba gaun pengantin sang kakak.
Aisyah sangat baik terhadap Andin. Ia sangat menyayangi adik sepupunya. Bahkan Aisyah selalu mengakui kesalahan yang diperbuat Andin supaya sang adik tidak kena marah Ayah dan bundanya.
“Bantu Kakak untuk kabur dari sini!” ucap Aisyah dengan serius.
“Hah! Kakak yang benar aja! Satu jam lagi Kakak bakal nikah.” Andin tersentak saat sang kakak ingin kabur dari pernikahannya.
Sebelumnya Aisyah setuju dengan perjodohan ini karena ia ingin membalas budi kepada Mama dan papanya yang sudah memberikan kasih sayang yang berlimpah. Walaupun ia bukan anak kandung mereka.
“Mas Fadil mau bunuh diri, kalo Kakak nggak datang. Tolong Kakak ya!” ucap sang kakak sambil mengatupkan kedua tangannya. Ia memohon pada adiknya.
“What?!” teriak Andin.
Aisyah menutup mulut sang adik dengan telapak tangannya. “Jangan berisik!”
“Ya udah, Kakak cepetan pergi! Tapi, lewat mana? Nggak mungkin ‘kan lewat pintu depan,” pikir Andin.
Ia tampak berpikir bagaiman caranya membantu sang kakak. “Kakak ganti baju dulu sana! Pake celana ya biar gampang manjatnya!” titah Andin yang membuat kakaknya tersentak.
“Yang bener aja? Kakak bukan kamu yang suka manjat pohon,” protes Aisyah. Ia tidak bisa membayangkan jika harus loncat dari balkon.
“Ya udah, kalo gitu lewat depan aja, sekalian pamit sama Papa, Ayah dan juga Papi yang sedang berbahagia karena putri kebanggaan mereka mau menikah.”
Aisyah tampak berpikir. Ia merasa bersalah kalau harus kabur dari pernikahannya, tapi ia juga akan sangat merasa bersalah kalo sang kekasih sampai membuktikan ucapannya untuk bunuh diri.
“Cepetan putusin! Mau melihat keluarga Kakak bahagia, tapi Kak Fadil mati. Atau mengecewakan keluarga untuk menyelamatkan nyawa Kak Fadil?” tanya Andin pada sang kakak.
“Kenapa nggak ada pilihan yang bagus?” tanya Aisyah.
“Kak, jangan kelamaan mikirnya! Keburu Kak Fadil modar.” Andin tampak kesal dengan kakaknya.
“Kamu kasar banget si, Dek.” Aisyah tampak kesal dengan ucapan kasar sang adik, padahal ia sudah terbiasa dengan ucapan Andin yang ceplas-ceplos, tapi kali ini ia kesal karena sang adik berbicara kasar tentang orang yang dicintainya.
“Iya, iya, maaf. Aku gemes sama Kakak,” ucap Andin, “Cepetan ganti baju Kakak!Aku siapin tali dulu,” titah Andin. Aisyah pun menuruti perintah sang adik.
Sementara sang kakak berganti pakaian, Andin tampak berpikir bagaimana caranya ia mendapatkan tali.
“Mbak eh Mas, bantuin dong! Gimana caranya Kakak bisa turun dari balkon.” Andin meminta bantuan kepada sang perias pengantin yang merupakan pria setengah mateng.
“Panggil eike Inul!” ucap sang perias pengantin dengan manjanya. Ia berbicara sambil melipat tangan kirinya di perut dan tangan kanannya melambai.
“Ok. Inul tolong bantu aku mencari tali untuk kakakku agar bisa turun dari balkon ini,” pinta Andin pada Inul, sang perias pengantin.
“Pakarena indang anjas,” kata Inul sambil menujuk tempat tidur.
“Aduh, kamu ngomong apa sih? Jangan pake bahasa planet! Aku nggak ngerti,” geram Andin pada Inul yang berbicara menggunakan bahasa bangsa pria setengah mateng.
“Artinya, pake ini aja!” Inul menarik sprei berwarna merah muda yang berumbai.
“Oke juga ide kamu,” puji Andin pada Inul. Kemudian ia dan Inul mengikat ujung sprei pada pagar balkon.
“Kurang panjang, Nul. Masih jauh ke tanah, kasian Kakak kalo jatuh,” ujar Andin setelah ia selesai mengikat sprei ke pagar balkon.
“Adindang lenggang indang, tinta?” ( Ada lagi ini, nggak? ) tanya Inul sambil menunjuk sprei yang udah terikat.
“Busyet dah, apalagi tuh? Tambah migrain pala gue kalo denger nih cowok setengah mateng ngomong,” ujar Andin sambil memijat pelipisnya.
Inul tertawa terbahak-bahak dengan suara laki-lakinya.
“Busyet dah. Mateng bener tuh suara.” Andin terperanjat saat mendengar Inul tertawa dengan suara laki-lakinya.
Aisyah menghampiri Andin dan Inul di balkon sambil membawa gaun pengantin berwarna putih. Ia sudah berganti pakaian, memakai celana jeans dan kaos oblong berwarna putih.
“Gimana, Dek, udah siap belum?” tanya Aisyah yang membuat Anin menoleh ke belakang. Sebentar lagi, Kak. Kayaknya kurang deh,” jawab Andin sambil menjatuhkan ujung sprei yang sudah ia ikat.
“Di lemari Kakak ada sprei satu lagi,” ucap sang kakak. Lalu ia bergegas untuk mengambilnya.
Ia pun segera memberikan sprei yang ia ambil dari lemari kepada sang perias pengantin. “Ini spreinya, Mbak.” Aisyah menyodorkan sprei pada Inul.
“Panggil eike Inul,” sahut Inul sambil tersenyum. Kemudian mengambil sprei dari tangan Aisyah dan menyambungnya dengan sprei yang sudah diikat di pagar.
“Ok,” jawab Aisyah sambil tersenyum.
“Sutra!” ( sudah )seru Inul sambil tersenyum puas.
“Aman nggak nih?” tanya Aisyah sambil melihat ke bawah. Lalu ia memberikan gaun pengantin itu pada Andin.
“Kenapa dikasihin ke aku?” tanya Andin sambil membolak-balikan gaun pengantin sang kakak.
“Pake aja! Itukan gaun pilihan kamu, yang keteknya ke mana-mana,” sahut Aisyah
sambil terus melihat ke bawah.
“Yiuk, sis!” ajak Inul.
“Ngomong apaan sih, Mbak?” tanya Aisyah yang kebingungan.
“Ayo, Mbak,” jawab Inul sambil tersenyum. "Maaf, Mbak, udah permanen soalnya," lanjutnya sambil tertawa manja ala banci. Ia sudah terbiasa berbicara bahasa banci kalau berbicara dengan sesama banci.
“Papa, maafin Kakak,” kata Aisyah sambil menyeka air mata yang menetes di pipinya.
“Dek, doain Kakak, semoga Kak Fadil nggak kenapa-kenapa!”
“Iya udah, makanya Kakak cepetan,” suruh Andin pada Kakaknya, “Roy, udah nungguin Kakak di gerbang belakang,” ujar Andin pada sang kakak.
“Roy? Si berandal itu? Kamu masih pacaran sama dia” tanya Aisyah. Ia tidak suka kalau Andin pacaran dengan Roy. Ia merasa kalau Roy bukan laki-laki yang baik.
“Iya, tadi aku minta tolong buat nganterin Kakak ke rumah Kak Fadi,” jawab Andin. Ia tahu kalau keluarganya nggak ada yang suka dengan pacarnya, termasuk Aisyah yang selalu membelanya.
“Aku nggak suka sama Roy,” ujar sang kakak sambil merapatkan giginya.
“Emangnya siapa yang nyuruh Kakak pacaran sama Roy? Anggap aja dia Bang ojol,” sahut Andin dengan santainya.
“Kakak gimana turunnya?” tanya Aisyah yang kebingungan sambil celingak-celinguk mencari jalan untuk ia turun.
“Yaelah, lama bener dah,” gerutu Andin, “Kakak, naik ke sini!” geram Andin melihat sang kakak.
“Kalo Kakak jatuh gimana?” Aisyah terlihat sangat gugup sambil meremas-remas jemarinya.
“Ya mati bareng Kak Fadil,” sahut Andin sewot. Ia gemas dengan sang kakak.
Aisyah memukul tangan adiknya. “Kamu nyumpahin Kakak?!”
“Bercanda, Kak. Gitu aja sewot,” kilah Andin sambil menyeringai.
“Kakak gimana naiknya?” Aisyah mencoba menaikkan kakinya ke pagar, tapi diturunkan lagi karena Ia takut jatuh.
“Kenapa nggak jadi?” tanya Andin yang sudah semakin gemas dengan kakaknya.
“Kakak takut jatoh,” sahut Aisyah sambil menengok ke bawah. “Kalo jatuh lumayan juga,” ucapnya.
“Tenang, saya pegangin,” ujar Inul dengan suara laki-lakinya.
Aisyah yang berada di depan Inul terperanjat mendengar suara tegas seorang laki-laki. Kemudian ia menoleh ke arah belakang. “Astaga! Kaget aku.” Aisyah mengelus dadanya.
Andin tertawa melihat kakaknya yang terkejut gara-gara suara asli Inul.
“Maaf, Sis,” ucap Inul, kembali ke suara bencongnya.
“Iya, nggak apa-apa,” jawab Aisyah sembari tersnyum.
Aisyah nekat turun dibantu Andin dan Inul. Walaupun takut, tapi ia memberanikan diri demi sang kekasih.
Akhirnya, berhasil juga,” ucap Andin, setelah Aisyah berhasil turun dari balkon. Gadis seksi itu melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di kasur sambil memegangi gaun pengantin sang kakak.
“Kak, udah siap belum?” teriak sang mama sambil mengetuk pintu kamar pengantin.
***
Selamat datang di novel terbaruku. Salam kenal semuanya! Ini merupakan sekuel dari My Absurd Wife. Follow Instagramku nyi.ratu_gesrek jika kalian kepo dengan My Absurd wife. My Readers! Mana nih suaranya? Andin si pewaris kegesrekkan telah kembali.
บทที่ 19 คนที่ควรรู้จักถอยเรื่องที่กู้จื่อเวยออกไปเที่ยวทะเลสาบกับซือหม่าตวน นางไม่ได้คิดว่ามีสิ่งใดควรเก็บเป็นความลับดังนั้นสามวันต่อมา เมื่อได้รับเทียบเชิญจากจวนเสนาบดีให้ไปร่วมงานชมดอกไม้ นางจึงไปตามปกติท่านพ่อไม่อยู่ หลิงหลิงตื่นเต้นกว่านางเสียอีก ตั้งแต่เช้าก็รื้อเสื้อผ้าออกมาเลือกหลายชุด จนสุดท้ายถูกชิงเยว่เก็บกลับเข้าหีบไปเกือบทั้งหมด“ไปชมดอกไม้ ไม่ได้ไปเลือกคู่”กู้จื่อเวยนั่งกินขนมอยู่หน้าโต๊ะเครื่องแป้ง พลางหัวเราะเมื่อหลิงหลิงทำหน้ามุ่ยหลายวันมานี้อารมณ์ของนางดีขึ้นมากบิดาไปพบพี่ชาย แม้จะยังอดกังวลไม่ได้ แต่เมื่อไม่มีข่าวร้ายส่งกลับมา นางก็พยายามไม่คิดมากส่วนเรื่องซือหม่าตวน...กู้จื่อเวยรู้สึกว่าตนเองคิดตกแล้ว นางไม่ต้องเป็นฮูหยิน ไม่ต้องเป็นอนุ ไม่ต้องเข้าไปอยู่ใต้ชายคาของผู้ใด จวนกู้คือบ้านของนาง ท่านพี่ตวนยังคงเป็นท่านพี่ตวน เพียงเท่านี้ก็ดีแล้วงานชมดอกไม้คึกคักกว่าที่คิดหญิงสาวจากตระกูลใหญ่ในเมืองหลวงมารวมตัวกันไม่น้อย กู้จื่อเวยรู้จักบางคน แม้ไม่ได้สนิทสนมเป็นพิเศษ แต่ก็เคยพบกันตามงานต่าง ๆทุกอย่างเป็นปกติในช่วงแรก กระทั่งมีคนเอ่ยถึงทะเลสาบนอกเมือง“คุณหนูกู
บทที่ 18 ฝากนางไว้กับเจ้าจดหมายจากชายแดนมาถึงในเช้าวันที่ห้าท่านแม่ทัพกู้อ่านมันอยู่ในห้องหนังสือเพียงลำพังนานกว่าปกติกระดาษในมือไม่ได้เขียนสิ่งใดชัดเจน บุตรชายเพียงเล่าถึงการผลัดเปลี่ยนกำลังพล การตรวจคลังเสบียง และเรื่องม้าศึกจำนวนหนึ่งที่ส่งมาถึงช้ากว่ากำหนด ทุกอย่างดูเหมือนเรื่องธรรมดาที่เกิดขึ้นได้ในกองทัพ แต่ท่านแม่ทัพกู้เคยอยู่ชายแดนมาครึ่งชีวิต เขารู้จักบุตรชายของตนดีหากเป็นเรื่องธรรมดา เด็กคนนั้นไม่มีทางเขียนจดหมายกลับมาถึงสามฉบับภายในเวลาไม่ถึงสองเดือน และยิ่งไม่มีทางถามถึงรายนามนายทหารเก่าซึ่งเคยอยู่ใต้บังคับบัญชาของเขาเมื่อหลายปีก่อนปลายนิ้วหยาบกร้านเลื่อนไปหยุดตรงประโยคสุดท้าย ท่านพ่อ หากสุขภาพยังดี ข้าอยากพบท่านสักครั้ง ท่านแม่ทัพกู้พับจดหมายเก็บ“เตรียมรถม้า”เขาตัดสินใจออกเดินทางในวันรุ่งขึ้น กู้จื่อเวยรู้เรื่องตอนอาหารกลางวัน“ท่านจะไปชายแดน?”“ไปพบพี่ชายเจ้าสักหน่อย”นางวางตะเกียบลงทันที“เกิดเรื่องอะไรขึ้นหรือ”“ยังไม่มีอะไร”คำว่า ยัง ทำให้นางขมวดคิ้ว ท่านแม่ทัพกู้เห็นแล้วกลับคีบเนื้อใส่ชามนางอย่างใจเย็น“กินข้าว”“ท่านพ่อ”“เรื่องในกองทัพ เจ้ายังช่วยอะไรไม่ได
บทที่ 17 ทุกอย่างยังเหมือนเดิมสามวันหลังงานแต่ง กู้จื่อเวยก็ได้เห็นซือหม่าตวนอีกครั้งเขามาในยามเว่ยไม่มีคนล่วงหน้ามาแจ้ง มีเพียงร่างสูงในชุดขุนนางสีเข้มที่เดินผ่านประตูจวนกู้เข้ามาอย่างคุ้นเคย ราวกับสามวันที่ผ่านมาไม่มีสิ่งใดเปลี่ยนแปลงตอนนั้นกู้จื่อเวยกำลังนั่งอยู่ใต้ต้นไห่ถัง โต้วโต้วนอนหมอบอยู่ข้างเก้าอี้ ส่วนสมุดบัญชีที่เคยเปิดทุกวันถูกวางทิ้งไว้บนโต๊ะมาสองวันแล้วเมื่อเห็นเขา นางจึงส่งเสียงทักทาย “ท่านพี่ตวน”ซือหม่าตวนมองนาง เสียงเรียกนี้ไม่ได้ยินมาหลายวันแล้ว ไม่ใช่คำว่าใต้เท้าซือหม่าที่สุภาพจนห่างเหิน ไม่ใช่น้ำเสียงเรียบเฉยอย่างช่วงก่อนงานแต่ง แต่เป็นเสียงของเวยเวยที่เขาคุ้นเคยดี เขาจึงยิ้ม“ข้านึกว่าเจ้าจะไม่ยอมเรียกข้าเช่นนี้อีกแล้ว”กู้จื่อเวยเม้มริมฝีปาก“ข้าก็เคยคิดเช่นนั้น”แต่สุดท้ายก็ยังเรียก โต้วโต้วจำเขาได้ มันลุกขึ้นสะบัดหางเดินเข้าไปดมชายเสื้อ ซือหม่าตวนก้มลงลูบหัวมัน ก่อนนั่งลงตรงที่ซึ่งเขาเคยนั่งประจำมานานปีทุกอย่างดูธรรมดาเหลือเกิน ธรรมดาจนกู้จื่อเวยเกือบลืมไปแล้วว่า บุรุษตรงหน้าเพิ่งแต่งภรรยาเมื่อสามวันก่อนชิงเยว่นำชามาวางแล้วถอยออกไปเงียบ ๆ ซือหม่าตวนเหล
บทที่ 16 เจ้าสาวเข้าประตูเช้าวันแต่งงานมาถึงพร้อมเสียงประทัด กู้จื่อเวยตื่นขึ้นตั้งแต่เสียงแรกดังขึ้นจากหลังกำแพง ทั้งที่เมื่อคืนกว่าจะหลับก็ล่วงเข้ายามดึกนางนอนนิ่งอยู่บนเตียง ฟังเสียงผู้คนจากจวนข้างเคียงดังแว่วมาเป็นระยะ วันนี้ท่านพี่ตวนจะแต่งงานแล้วความคิดนั้นยังทำให้หัวใจเจ็บปวด เพียงแต่ไม่เหมือนหลายวันก่อนอีกปลายนิ้วเผลอแตะริมฝีปากโดยไม่รู้ตัว ถ้อยคำเมื่อคืนยังชัดเจนอยู่ในความทรงจำข้าไม่มีวันเปลี่ยน...คนที่ข้ารักคือเจ้า ข้าจะไม่ทอดทิ้งเจ้า...เวยเวย กู้จื่อเวยหลับตาลงอีกครั้งนางเชื่อเขา เมื่อตัดสินใจเชื่อแล้ว ความหนักอึ้งที่กดอยู่กลางอกมาหลายวันก็คลายลง นางก็ไม่ต้องพยายามเป็นคนอื่น ไม่ต้องฝืนชอบสมุดบัญชี ไม่ต้องท่องจำกฎเกณฑ์จนปวดศีรษะ ไม่ต้องนั่งคิดว่าตนขาดสิ่งใดจึงไม่ถูกเลือกเพราะเขาไม่เคยต้องการให้นางเปลี่ยนเมื่อชิงเยว่เข้ามาช่วยแต่งตัว จึงพบว่าคุณหนูของตนสงบกว่าที่คิด“วันนี้ไม่ต้องเปิดหน้าต่างนะ”กู้จื่อเวยเอ่ยขึ้นชิงเยว่ชะงักมือ ก่อนรับคำเบา ๆ“เจ้าค่ะ”นางไม่ได้ถามเหตุผล ด้านนอกหน้าต่างคือกำแพงที่กั้นระหว่างสองจวน และพ้นกำแพงนั้นออกไป วันนี้คงเต็มไปด้วยสีแดง กู้











