อดีตอนุผู้นี้ จะไม่มีท่านอีกต่อไป

อดีตอนุผู้นี้ จะไม่มีท่านอีกต่อไป

last updateLast Updated : 2026-10-09
By:  ม่านอวี้Updated just now
Language: Thai
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
19Chapters
20views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

กู้จื่อเวยเคยเชื่อว่า ต่อให้โลกทั้งใบเปลี่ยนไป ซือหม่าตวนก็ไม่มีวันเปลี่ยน เขารักนาง ตามใจนาง และเคยบอกว่านางเป็นเช่นนี้ก็ดีอยู่แล้ว กระทั่งวันหนึ่ง เขากำลังจะแต่งบุตรีราชครูเป็นภรรยาเอก “แล้วข้าเล่า?” “ข้ายังจะแต่งเจ้า เวยเวย” เพียงแต่ครั้งนี้ นางไม่ได้แต่งเข้าจวนในฐานะภรรยา แต่เป็นเพียงอนุของชายที่นางรัก กู้จื่อเวยเคยคิดว่าไม่เป็นไร ขอเพียงท่านพี่ตวนยังรักนาง ทุกอย่างย่อมเหมือนเดิม จนกระทั่งนางได้เรียนรู้ว่า... ฐานะเปลี่ยน คนก็เปลี่ยน และบางครั้ง ความรักเพียงอย่างเดียวก็รักษาทุกสิ่งไว้ไม่ได้

View More

Chapter 1

บทที่ 1 แล้วข้าเล่า

“Dek, kamu mau nggak bantuin Kakak?” tanya Aisyah yang terlihat cemas setelah membaca pesan dari kekasihnya.

Andin menghampiri sang kakak yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur. Kemudian ia menaruh gaun pengantin itu di tempat tidur kakaknya.

“Ih … Kakak dari tadi nggak dengerin aku?” tanya Andin pada Kakak sepupu yang sudah ia anggap sebagai Kakak kandungnya sendiri sambil mengerucutkan bibir.

Andin, gadis berusia 21 tahun, kulit kuning langsat, hidung mancung, bulu mata yang lentik, manik mata coklat gelap, rambut lurus dan body yang aduhai dari tadi sibuk mencoba gaun pengantin sang kakak.

Aisyah sangat baik terhadap Andin. Ia sangat menyayangi adik sepupunya. Bahkan Aisyah selalu mengakui kesalahan yang diperbuat Andin supaya sang adik tidak kena marah Ayah dan bundanya. 

“Bantu Kakak untuk kabur dari sini!” ucap Aisyah dengan serius.

“Hah! Kakak yang benar aja! Satu jam lagi Kakak bakal nikah.” Andin tersentak saat sang kakak ingin kabur dari pernikahannya.

Sebelumnya Aisyah setuju dengan perjodohan ini karena ia ingin membalas budi kepada Mama dan papanya yang sudah memberikan kasih sayang yang berlimpah. Walaupun ia bukan anak kandung mereka.

“Mas Fadil mau bunuh diri, kalo Kakak nggak datang. Tolong Kakak ya!” ucap sang kakak sambil mengatupkan kedua tangannya. Ia memohon pada adiknya. 

“What?!” teriak Andin. 

Aisyah menutup mulut sang adik dengan telapak tangannya. “Jangan berisik!” 

“Ya udah, Kakak cepetan pergi! Tapi, lewat mana? Nggak mungkin ‘kan lewat pintu depan,” pikir Andin.

Ia tampak berpikir bagaiman caranya membantu sang kakak. “Kakak ganti baju dulu sana! Pake celana ya biar gampang manjatnya!” titah Andin yang membuat kakaknya tersentak. 

“Yang bener aja? Kakak bukan kamu yang suka manjat pohon,” protes Aisyah. Ia tidak bisa membayangkan jika harus loncat dari balkon. 

“Ya udah, kalo gitu lewat depan aja, sekalian pamit sama Papa, Ayah dan juga Papi yang sedang berbahagia karena putri kebanggaan mereka mau menikah.”

Aisyah tampak berpikir. Ia merasa bersalah kalau harus kabur dari pernikahannya, tapi ia juga akan sangat merasa bersalah kalo sang kekasih sampai membuktikan ucapannya untuk bunuh diri. 

“Cepetan putusin! Mau melihat keluarga Kakak bahagia, tapi Kak Fadil mati. Atau mengecewakan keluarga untuk menyelamatkan nyawa Kak Fadil?” tanya Andin pada sang kakak.

“Kenapa nggak ada pilihan yang bagus?” tanya Aisyah. 

“Kak, jangan kelamaan mikirnya! Keburu Kak Fadil modar.” Andin tampak kesal dengan kakaknya. 

“Kamu kasar banget si, Dek.” Aisyah tampak kesal dengan ucapan kasar sang adik, padahal ia sudah terbiasa dengan ucapan Andin yang ceplas-ceplos, tapi kali ini ia kesal karena sang adik berbicara kasar tentang orang yang dicintainya. 

“Iya, iya, maaf. Aku gemes sama Kakak,” ucap Andin, “Cepetan ganti baju Kakak!Aku siapin tali dulu,” titah Andin. Aisyah pun menuruti perintah sang adik. 

Sementara sang kakak berganti pakaian, Andin tampak berpikir bagaimana caranya ia mendapatkan tali. 

“Mbak eh Mas, bantuin dong! Gimana caranya Kakak bisa turun dari balkon.” Andin meminta bantuan kepada sang perias pengantin yang merupakan pria setengah mateng. 

“Panggil eike Inul!” ucap sang perias pengantin dengan manjanya. Ia berbicara sambil melipat tangan kirinya di perut dan tangan kanannya melambai. 

“Ok. Inul tolong bantu aku mencari tali untuk kakakku agar bisa turun dari balkon ini,” pinta Andin pada Inul, sang perias pengantin. 

“Pakarena indang anjas,” kata Inul sambil menujuk tempat tidur. 

“Aduh, kamu ngomong apa sih? Jangan pake bahasa planet! Aku nggak ngerti,” geram Andin pada Inul yang berbicara menggunakan bahasa bangsa pria setengah mateng. 

“Artinya, pake ini aja!” Inul menarik sprei berwarna merah muda yang berumbai. 

“Oke juga ide kamu,” puji Andin pada Inul. Kemudian ia dan Inul mengikat ujung sprei pada pagar balkon. 

“Kurang panjang, Nul. Masih jauh ke tanah, kasian Kakak kalo jatuh,” ujar Andin setelah ia selesai mengikat sprei ke pagar balkon. 

“Adindang lenggang indang, tinta?” ( Ada lagi ini, nggak? ) tanya Inul sambil menunjuk sprei yang udah terikat. 

“Busyet dah, apalagi tuh? Tambah migrain pala gue kalo denger nih cowok setengah mateng ngomong,” ujar Andin sambil memijat pelipisnya. 

Inul tertawa terbahak-bahak dengan suara laki-lakinya. 

“Busyet dah. Mateng bener tuh suara.” Andin terperanjat saat mendengar Inul tertawa dengan suara laki-lakinya. 

Aisyah menghampiri Andin dan Inul di balkon sambil membawa gaun pengantin berwarna putih. Ia sudah berganti pakaian, memakai celana jeans dan kaos oblong berwarna putih. 

“Gimana, Dek, udah siap belum?” tanya Aisyah yang membuat Anin menoleh ke belakang. Sebentar lagi, Kak. Kayaknya kurang deh,” jawab Andin sambil menjatuhkan ujung sprei yang sudah ia ikat. 

“Di lemari Kakak ada sprei satu lagi,” ucap sang kakak. Lalu ia bergegas untuk mengambilnya. 

Ia pun segera memberikan sprei yang ia ambil dari lemari kepada sang perias pengantin. “Ini spreinya, Mbak.” Aisyah menyodorkan sprei pada Inul. 

“Panggil eike Inul,” sahut Inul sambil tersenyum. Kemudian mengambil sprei dari tangan Aisyah dan menyambungnya dengan sprei yang sudah diikat di pagar. 

“Ok,” jawab Aisyah sambil tersenyum. 

“Sutra!” ( sudah )seru Inul sambil tersenyum puas. 

“Aman nggak nih?” tanya Aisyah sambil melihat ke bawah. Lalu ia memberikan gaun pengantin itu pada Andin. 

“Kenapa dikasihin ke aku?” tanya Andin sambil membolak-balikan gaun pengantin sang kakak. 

“Pake aja! Itukan gaun pilihan kamu, yang keteknya ke mana-mana,” sahut Aisyah 

sambil terus melihat ke bawah. 

“Yiuk, sis!” ajak Inul. 

“Ngomong apaan sih, Mbak?” tanya Aisyah yang kebingungan. 

“Ayo, Mbak,” jawab Inul sambil tersenyum.  "Maaf, Mbak, udah permanen soalnya," lanjutnya sambil tertawa manja ala banci. Ia sudah terbiasa berbicara bahasa banci kalau berbicara dengan sesama banci.

“Papa, maafin Kakak,” kata Aisyah sambil menyeka air mata yang menetes di pipinya. 

“Dek, doain Kakak, semoga Kak Fadil nggak kenapa-kenapa!” 

“Iya udah, makanya Kakak cepetan,” suruh Andin pada Kakaknya, “Roy, udah nungguin Kakak di gerbang belakang,” ujar Andin pada sang kakak. 

“Roy? Si berandal itu? Kamu masih pacaran sama dia” tanya Aisyah. Ia tidak suka kalau Andin pacaran dengan Roy. Ia merasa kalau Roy bukan laki-laki yang baik. 

“Iya, tadi aku minta tolong buat nganterin Kakak ke rumah Kak Fadi,” jawab Andin. Ia tahu kalau keluarganya nggak ada yang suka dengan pacarnya, termasuk Aisyah yang selalu membelanya. 

“Aku nggak suka sama Roy,” ujar sang kakak sambil merapatkan giginya. 

“Emangnya siapa yang nyuruh Kakak pacaran sama Roy? Anggap aja dia Bang ojol,” sahut Andin dengan santainya.

“Kakak gimana turunnya?” tanya Aisyah yang kebingungan sambil celingak-celinguk mencari jalan untuk ia turun. 

“Yaelah, lama bener dah,” gerutu Andin, “Kakak, naik ke sini!” geram Andin melihat sang kakak.

“Kalo Kakak jatuh gimana?” Aisyah terlihat sangat gugup sambil meremas-remas jemarinya. 

“Ya mati bareng Kak Fadil,” sahut Andin sewot. Ia gemas dengan sang kakak.

Aisyah memukul tangan adiknya. “Kamu nyumpahin Kakak?!” 

“Bercanda, Kak. Gitu aja sewot,” kilah Andin sambil menyeringai. 

“Kakak gimana naiknya?” Aisyah mencoba menaikkan kakinya ke pagar, tapi diturunkan lagi karena Ia takut jatuh. 

“Kenapa nggak jadi?” tanya Andin yang sudah semakin gemas dengan kakaknya. 

“Kakak takut jatoh,” sahut Aisyah sambil menengok ke bawah. “Kalo jatuh lumayan juga,” ucapnya. 

“Tenang, saya pegangin,” ujar Inul dengan suara laki-lakinya. 

Aisyah yang berada di depan Inul terperanjat mendengar suara tegas seorang laki-laki. Kemudian ia menoleh ke arah belakang. “Astaga! Kaget aku.” Aisyah mengelus dadanya. 

Andin tertawa melihat kakaknya yang terkejut gara-gara suara asli Inul. 

“Maaf, Sis,” ucap Inul, kembali ke suara bencongnya. 

“Iya, nggak apa-apa,” jawab Aisyah sembari tersnyum. 

Aisyah nekat turun dibantu Andin dan Inul. Walaupun takut, tapi ia memberanikan diri demi sang kekasih. 

Akhirnya, berhasil juga,” ucap Andin, setelah Aisyah berhasil turun dari balkon. Gadis seksi itu melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di kasur sambil memegangi gaun pengantin sang kakak. 

“Kak, udah siap belum?” teriak sang mama sambil mengetuk pintu kamar pengantin. 

***

Selamat datang di novel terbaruku. Salam kenal semuanya! Ini merupakan sekuel dari My Absurd Wife. Follow Instagramku nyi.ratu_gesrek jika kalian kepo dengan My Absurd wife. My Readers! Mana nih suaranya? Andin si pewaris kegesrekkan telah kembali.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
19 Chapters
บทที่ 1 แล้วข้าเล่า
บทที่ 1 แล้วข้าเล่า?ข่าวที่ว่าซือหม่าตวนกำลังจะแต่งบุตรีท่านราชครูไป๋เป็นภรรยาเอก ลอยข้ามกำแพงสองจวนมาถึงหูกู้จื่อเวยในยามสายตอนนั้นนางกำลังนั่งอยู่ใต้ต้นไห่ถังในเรือนของตนเอง มือหนึ่งถือขนม อีกมือโยนเศษเนื้อแห้งให้สุนัขที่นอนหมอบอยู่ข้างเท้า“คุณหนู...”หลิงหลิงวิ่งเข้ามาจนเกือบสะดุดชายกระโปรง สีหน้าร้อนรนผิดจากทุกวันกู้จื่อเวยเงยหน้าขึ้นมอง“วิ่งเสียขนาดนี้ จวนไฟไหม้หรือ”“ไม่ใช่เจ้าค่ะ แต่...แต่จวนข้าง ๆ ...”คำพูดขาดหายสีหน้ากระอักกระอ่วน กู้จื่อเวยกลับหัวเราะกับท่ามีเช่นนั้น พลางถามอย่างไม่ใส่ใจว่า “จวนซือหม่าทำไม”สาวใช้เม้มริมฝีปาก มองชิงเยว่ที่ยืนอยู่ไม่ไกลคล้ายต้องการความช่วยเหลือ ทว่าอีกฝ่ายเพียงนิ่งเงียบ สุดท้ายหลิงหลิงจึงต้องกัดฟันเอ่ยเอง“บ่าวได้ยินมาว่า ท่านราชครูไป๋กับฮูหยินผู้เฒ่าซือหม่ากำลังหารือเรื่องมงคลเจ้าค่ะ”ขนมในมือกู้จื่อเวยปริแตกตามแรงมือของนาง “เรื่องมงคลของผู้ใด” ไม่มีใครตอบทันที นางจึงถามซ้ำ“ของผู้ใด”“ใต้เท้าซือหม่า...กับคุณหนูไป๋เจ้าค่ะ”คราวนี้แม้แต่เสียงนกร้องบนกิ่งไม้ก็ดูเหมือนจะเงียบลงไปชั่วขณะ กู้จื่อเวยมองสาวใช้ของตนอยู่ครู่หนึ่ง ก่อนหัวเราะ
last updateLast Updated : 2026-10-01
Read more
บทที่ 2 ข้าไม่อยากเป็นอนุ
บทที่ 2 ข้าไม่อยากเป็นอนุกู้จื่อเวยไม่รู้ว่าตนเองยืนอยู่ตรงนั้นนานเพียงใด คำว่า อนุ ไม่ใช่คำที่นางไม่เข้าใจ นางเติบโตมาจนอายุสิบแปด ย่อมรู้ดีว่าภรรยาเอกคืออะไร อนุคืออะไร และรู้ด้วยว่าสตรีสองฐานะนี้แตกต่างกันเพียงใดเพียงแต่นางไม่เคยคิดว่า วันหนึ่งคำคำนี้จะมาเกี่ยวข้องกับตนเอง ยิ่งไม่เคยคิดว่าคนที่พูดมันออกมา จะเป็นซือหม่าตวน“ข้าไม่อยากเป็นอนุ”นางพูดออกมาตรง ๆซือหม่าตวนมองนาง“เวยเวย”“ข้าไม่อยากเป็น”กู้จื่อเวยย้ำอีกครั้ง ดวงตาที่แดงอยู่แล้วเริ่มมีน้ำใสคลอขึ้นมา แต่นางยังคงเงยหน้ามองเขา“ท่านเคยบอกว่าจะแต่งกับข้า ข้าก็คิดมาตลอดว่า...”นางหยุดไปครู่หนึ่ง สิ่งที่เคยมั่นใจมาตลอดหลายปี พอถึงวันนี้กลับพูดออกมาอย่างยากลำบาก“ข้าคิดว่าข้าจะเป็นภรรยาของท่าน”“เจ้าก็ยังเป็น”“ไม่เหมือนกัน”ครั้งนี้นางตอบทันทีซือหม่าตวนขมวดคิ้วเล็กน้อย กู้จื่อเวยมองสีหน้าของเขาก็รู้แล้วว่า คนตรงหน้าไม่เข้าใจจริง ๆ ว่ามันต่างกันอย่างไร หรืออาจเข้าใจ เพียงแต่สำหรับเขา ความแตกต่างนั้นไม่ได้สำคัญเท่าความรู้สึกนาง“หากท่านแต่งนางเข้ามา ข้าต้องคำนับนางหรือไม่” ชายหนุ่มเงียบ“ต้องเรียกนางว่าฮูหยิน ต้องฟังคำสั่ง
last updateLast Updated : 2026-10-01
Read more
บทที่ 3 บุตรสาวข้าไม่เป็นอนุผู้ใด
บทที่ 3 บุตรสาวข้าไม่เป็นอนุผู้ใดกู้จื่อเวยกลับถึงจวนกู้ในยามใกล้เที่ยง สุนัขที่ถูกนางสั่งไม่ให้ตามไปก่อนหน้านี้ยังคงนอนอยู่ใต้ต้นไห่ถัง พอเห็นเจ้าของเดินเข้าประตูเรือนมา มันก็ลุกพรวดแล้ววิ่งเข้าหา หางสะบัดไปมาอย่างดีใจหากวันนี้กู้จื่อเวยกลับไม่ได้ย่อตัวลงเล่นกับมันเช่นทุกครั้ง นางเพียงลูบศีรษะมันสองครั้ง ก่อนเดินผ่านไปหลิงหลิงกับชิงเยว่ที่ตามอยู่ด้านหลังสบตากัน“คุณหนู” หลิงหลิงรีบเดินตาม “ท่านยังไม่ได้กินอะไรเลยนะเจ้าคะ เมื่อครู่ขนมก็...”“ข้าไม่หิว”เป็นคำตอบที่ทำให้หลิงหลิงเงียบลงทันทีกู้จื่อเวยไม่เคยพูดว่าตนไม่หิว ต่อให้โกรธเพียงใด ต่อให้ทะเลาะกับผู้ใดมา นางก็ยังกินข้าวได้สองชามเสมอชิงเยว่ไม่พูดอะไร เพียงเดินตามผู้เป็นนายเข้าเรือน แต่กู้จื่อเวยยังไม่ทันได้กลับเข้าห้อง เสียงพ่อบ้านก็ดังมาจากด้านหลัง“คุณหนู นายท่านเรียกพบขอรับ”นางไม่จำเป็นต้องถามด้วยซ้ำว่าบิดาเรียกด้วยเรื่องใด ข่าวจากจวนข้าง ๆ มาถึงหูนางได้ ย่อมไม่มีทางรอดพ้นหูท่านแม่ทัพกู้เมื่อกู้จื่อเวยไปถึงห้องหนังสือ บิดาของนางกำลังยืนหันหลังอยู่ข้างหน้าต่าง หลายปีก่อนอาการบาดเจ็บทำให้เขาต้องถอนตัวจากชายแดนกลับมาอยู่เมือ
last updateLast Updated : 2026-10-01
Read more
บทที่ 4 ข้าไม่ยกบุตรสาวให้
บทที่ 4 ข้าไม่ยกบุตรสาวให้ท่านแม่ทัพกู้ไปถึงจวนซือหม่าในเวลาไม่นาน สองจวนอยู่ติดกัน เพียงออกจากประตูใหญ่ เดินเลียบกำแพงไปไม่ไกลก็ถึง ทว่าระยะทางสั้น ๆ ในวันนี้กลับทำให้บ่าวที่ติดตามมาด้วยรู้สึกหนักอึ้งกว่าทุกครั้งขาข้างหนึ่งของท่านแม่ทัพกู้บาดเจ็บมาหลายปี ยามอากาศเปลี่ยนมักกำเริบจนต้องพึ่งไม้เท้า เสียงปลายไม้กระทบพื้นหินดังเป็นจังหวะสม่ำเสมอ ไม่มีความรีบร้อน กระทั่งสีหน้าก็สงบนิ่งแต่คนในจวนกู้ล้วนรู้ดีว่า ยิ่งนายท่านสงบเท่าใด ยิ่งไม่มีผู้ใดกล้าเข้าใกล้พ่อบ้านจวนซือหม่าออกมาต้อนรับด้วยตนเอง เขารู้จักท่านแม่ทัพกู้มาหลายปี ทั้งสองจวนไปมาหาสู่กันตั้งแต่คุณหนูกู้ยังเป็นเด็ก หลายครั้งหญิงสาววิ่งผ่านประตูนี้เข้ามาโดยไม่ต้องมีผู้ใดรายงานเสียด้วยซ้ำไม่มีใครคิดว่าวันหนึ่ง บิดาของนางจะเดินเข้ามาด้วยสีหน้าเช่นนี้ซือหม่าตวนยังอยู่ในเรือนหนังสือ ถ้วยชาที่กู้จื่อเวยเห็นก่อนจากไปยังวางอยู่บนโต๊ะ ชาในนั้นเย็นชืดกว่าเดิมมากแล้ว หลังจากนางจากไป เขาไม่ได้ทำงานต่อในทันทีประโยคสุดท้ายของนางยังคงวนเวียนอยู่ในความคิด หากทุกอย่างเหมือนเดิมจริง ๆ เหตุใดคนที่เป็นภรรยาของท่านจึงไม่ใช่ข้าเขาย่อมมีคำตอบ เพ
last updateLast Updated : 2026-10-01
Read more
บทที่ 5 ครั้งแรกที่นางไม่มา
บทที่ 5 ครั้งแรกที่นางไม่มาท่านแม่ทัพกู้กลับถึงจวนยามบ่าย กู้จื่อเวยยังคงอยู่ในเรือนของตนเอง นางไม่ได้ถามว่าบิดาไปพูดอะไรกับซือหม่าตวน และท่านแม่ทัพกู้ก็ไม่ได้เรียกนางไปเล่าให้ฟังสองพ่อลูกต่างเงียบราวกับรู้ว่า เรื่องบางเรื่องต่อให้พูดออกมา ก็ไม่ได้ทำให้สิ่งที่เกิดขึ้นเปลี่ยนไปอาหารกลางวันที่ชิงเยว่นำเข้ามาถูกวางทิ้งไว้จนเย็น กู้จื่อเวยนั่งอยู่ริมหน้าต่าง มือหนึ่งลูบขนสุนัขที่หมอบอยู่ข้างกายอย่างเลื่อนลอย สายตากลับทอดมองกำแพงสูงด้านนอกอีกฝั่งหนึ่งคือจวนซือหม่า เป็นสถานที่ที่นางคุ้นเคยเสียยิ่งกว่าจวนญาติบางแห่ง ตั้งแต่อายุสิบสาม นางแทบไม่เคยอยู่ห่างจากที่นั่นแรกเริ่มเพียงเพราะเจ้าตัวเล็กที่นอนอยู่ข้างกายนี่เอง หลายปีก่อน มันยังเป็นลูกสุนัขผอมโซ วิ่งลอดช่องกำแพงเข้าไปในสวนข้างจวน นางในวัยสิบสามกลัวมันหาย จึงมุดตามเข้าไปโดยไม่คิดอะไรชุดใหม่เปื้อนดิน แขนเสื้อเกี่ยวกิ่งไม้จนขาด และเมื่อนางเงยหน้าขึ้น ก็เห็นเด็กหนุ่มผู้หนึ่งยืนมองอยู่ไม่ไกลตอนนั้นซือหม่าตวนอายุสิบเก้าแล้ว เขามองนางตั้งแต่ศีรษะจรดเท้า ก่อนมองช่องกำแพงที่นางเพิ่งคลานออกมา สีหน้าประหลาดเสียจนกู้จื่อเวยคิดว่าเขาคงไม่เคยเ
last updateLast Updated : 2026-10-01
Read more
บทที่ 6 ของที่นางเคยชอบ
บทที่ 6 ของที่นางเคยชอบเช้าวันต่อมา ขนมจากร้านฝั่งตะวันตกถูกส่งมาถึงจวนกู้ตั้งแต่ยังไม่พ้นยามเฉิน อาเฉิงเป็นผู้ถือกล่องอาหารมาด้วยตนเองเขาคุ้นเคยกับคนในจวนกู้เป็นอย่างดี เมื่อก่อนหากใต้เท้าซือหม่าสั่งให้นำสิ่งใดมาส่ง คนเฝ้าประตูแทบไม่ต้องถามด้วยซ้ำว่าเป็นของผู้ใดทั้งเมืองหลวงมีร้านขนมมากมาย แต่ร้านฝั่งตะวันตกแห่งนั้นอยู่ไกลจากสองจวนไม่น้อย กู้จื่อเวยกลับชอบขนมแป้งนึ่งไส้ถั่วของที่นั่นเป็นพิเศษ เพราะแป้งบางและไม่หวานจนเกินไปครั้งแรกที่นางได้กิน นางบ่นเสียดายอยู่หลายวันว่าร้านอยู่ไกลเกินกว่าจะไปซื้อบ่อย ๆหลังจากนั้นขนมชนิดนี้ก็มักปรากฏบนโต๊ะของนางเป็นครั้งคราว บางครั้งซือหม่าตวนนำมาเอง บางครั้งให้อาเฉิงมาส่งกู้จื่อเวยเคยถามว่าเขาผ่านไปแถวนั้นบ่อยนักหรือ ซือหม่าตวนเพียงตอบว่าคนของเขามีมาก ใช้ให้ไปซื้อขนมสักกล่องจะเป็นอะไรนางจึงรับมากินอย่างสบายใจมาตลอด วันนี้ก็เป็นขนมชนิดเดิมหลิงหลิงเปิดกล่องออก กลิ่นหอมอ่อน ๆ ลอยขึ้นมาพร้อมไออุ่น ขนมถูกจัดเรียงอย่างสวยงาม เห็นได้ชัดว่าเพิ่งทำเสร็จไม่นานหากเป็นเมื่อก่อน กู้จื่อเวยคงหยิบชิ้นแรกเข้าปากตั้งแต่ฝากล่องยังเปิดไม่สุด แต่วันนี้นางเพียงม
last updateLast Updated : 2026-10-02
Read more
บทที่ 7 ไม่มีอะไรเปลี่ยนจริงหรือ
บทที่ 7 ไม่มีอะไรเปลี่ยนจริงหรือฮูหยินผู้เฒ่าซือหม่าอาศัยอยู่ในเรือนสงบทางทิศตะวันออกของจวน กู้จื่อเวยคุ้นเคยกับทางเส้นนี้มาตั้งแต่อายุสิบสาม เมื่อก่อนนางมักเดินเร็วเสียจนสาวใช้ตามไม่ทัน วันนี้กลับเดินตามสาวใช้ของฮูหยินผู้เฒ่าอย่างเรียบร้อยเมื่อเข้าไปถึง หญิงชรากำลังนั่งรออยู่ข้างหน้าต่าง บนโต๊ะเตี้ยมีน้ำชาและขนมวางไว้หลายอย่าง ราวกับรู้ว่าคนที่กำลังจะมาหาชอบกินอะไร“เวยเวย”เพียงได้ยินเสียงเรียกที่คุ้นเคย กู้จื่อเวยก็รู้สึกแสบจมูกขึ้นมาอย่างไม่มีเหตุผลฮูหยินผู้เฒ่าซือหม่าเอ็นดูนางมาตลอดความเอ็นดูนั้นไม่เคยเป็นเรื่องหลอกลวง หญิงสาวเดินเข้าไปหา ก่อนยอบกายทำความเคารพอย่างที่ควรทำทว่าการกระทำธรรมดานั้นกลับทำให้ฮูหยินผู้เฒ่าสะท้อนใจ หลายปีมานี้ กู้จื่อเวยไม่เคยมีพิธีรีตองกับนาง หากไม่มีคนนอกอยู่ด้วย เด็กสาวมักเดินมานั่งข้างกายอย่างสนิทสนม บางครั้งยังกล้าหยิบของกินบนโต๊ะก่อนกล่าวทักทายด้วยซ้ำ วันนี้นางกลับทำทุกอย่างถูกต้อง ถูกต้องเสียจนดูห่างเหินฮูหยินผู้เฒ่าจึงรีบดึงมือหญิงสาวให้นั่งลงข้างกายเช่นเคย กู้จื่อเวยมองมือนั้นแล้วความอึดอัดในอกคลายลงเล็กน้อยไม่ว่าซือหม่าตวนจะใจดำเพียงใด
last updateLast Updated : 2026-10-03
Read more
บทที่ 8 คู่ควรกันยิ่งนัก
บทที่ 8 คู่ควรกันยิ่งนักข่าวมงคลของจวนซือหม่าและจวนราชครูถูกประกาศออกมาในอีกสามวันต่อมา เรื่องนี้ไม่ได้เหนือความคาดหมายของผู้ใดซือหม่าตวนอายุยี่สิบสี่ปีแล้ว ทั้งยังดำรงตำแหน่งรองเจ้ากรมอาญาตั้งแต่อายุยังน้อย อนาคตในราชสำนักยาวไกล ส่วนไป๋หลานเป็นบุตรีของราชครูไป๋ ชาติกำเนิดไม่ต่ำต้อย ทั้งยังมีชื่อเสียงเรื่องความรู้และกิริยามารยาทเมื่อชื่อของคนทั้งสองถูกนำมาวางไว้ด้วยกัน ผู้คนจึงมีเพียงคำชื่นชม ไม่มีผู้ใดเห็นว่าไม่เหมาะสมเช้าวันนั้น กู้จื่อเวยเพิ่งกลับจากเรือนบิดา นางกำลังนั่งอยู่ใต้ต้นไห่ถังในลานเรือน สุนัขตัวใหญ่หมอบอยู่แทบเท้า ส่วนชิงเยว่กำลังช่วยจัดด้ายที่พันกันอยู่ข้างโต๊ะหลิงหลิงกลับเข้ามาจากด้านนอกด้วยสีหน้าที่ต่างจากทุกวันปกตินางเป็นคนเก็บเรื่องในเมืองมาพูดให้ผู้เป็นนายฟังมากที่สุด ร้านใดมีของกินใหม่ คุณหนูจวนใดทะเลาะกับใคร หรือแม้แต่ร้านผ้าเปิดใหม่ตรงถนนสายไหน นางล้วนรู้เร็วกว่าคนอื่นอยู่เสมอแต่วันนี้กลับเงียบสงัด กู้จื่อเวยเห็นตั้งแต่แรก เพียงไม่ได้ถามกระทั่งหลิงหลิงวางของที่ซื้อกลับมาลงบนโต๊ะ นางจึงเอ่ยด้วยน้ำเสียงคับข้องใจว่า ข่าวเรื่องการแต่งงานของจวนซือหม่าแพร่ออกไ
last updateLast Updated : 2026-10-03
Read more
บทที่ 9 ท่านไม่เคยถามข้า
บทที่ 9 ท่านไม่เคยถามข้าลมยามเย็นพัดชายแขนเสื้อของคนทั้งสอง กู้จื่อเวยยังคงมองซือหม่าตวน รอคำตอบจากคำถามที่นางไม่น่าถามออกไปตั้งแต่แรก“แล้วข้า...ไม่เหมาะสมกับท่านหรือ?”เขาไม่เคยคิดว่านางจะถามเช่นนี้ ตลอดหลายปีที่ผ่านมา กู้จื่อเวยไม่ใช่คนที่นำตนเองไปเปรียบเทียบกับผู้อื่น นางไม่เคยสนใจว่าคุณหนูจวนใดเย็บปักเก่งกว่า หรือสตรีคนไหนได้รับคำชมว่ามีกิริยางดงาม นางเป็นกู้จื่อเวยของนางเช่นนั้นมาตลอดและเขาก็ชอบที่นางเป็นเช่นนั้น“ไม่ใช่”ซือหม่าตวนตอบในที่สุด“ข้าไม่เคยคิดว่าเจ้าไม่เหมาะสมกับข้า”กู้จื่อเวยควรจะโล่งใจ ทว่านางกลับไม่ได้รู้สึกดีขึ้นแม้แต่น้อย“เช่นนั้นเพราะเหตุใด”ซือหม่าตวนมองหญิงสาวตรงหน้า ก่อนถอนใจออกมา เขารู้ว่านางยังคงไม่ยอมรับเรื่องนี้ และยิ่งปล่อยให้นางคิดเอง นางก็คงยิ่งคิดไปไกล“เวยเวย การเป็นนายหญิงของจวนหนึ่งไม่ใช่เพียงมีชื่ออยู่ในทะเบียนสมรส”เขาอธิบายให้นางฟังอย่างใจเย็น นายหญิงของจวนซือหม่าต้องดูแลคนทั้งจวน ต้องรู้เรื่องบัญชี การจัดสรรเบี้ยหวัดของบ่าวไพร่ การต้อนรับแขก ไปจนถึงเรื่องเล็กน้อยภายในเรือนนอกจวนก็ไม่ต่างกัน เมื่อมีงานเลี้ยงต้องออกงาน เมื่อมีเทียบเชิญต้
last updateLast Updated : 2026-10-04
Read more
บทที่ 10 ว่าที่ฮูหยินซือหม่า
บทที่ 10 ว่าที่ฮูหยินซือหม่ายามเช้าของจวนราชครูไป๋เงียบสงบเช่นทุกวัน ภายในเรือนของคุณหนูใหญ่ กลิ่นชาหอมอ่อนลอยปะปนกับกลิ่นกำยาน หน้าต่างทุกบานเปิดรับแสงพอดี เครื่องเรือนทุกชิ้นวางอยู่ในตำแหน่งที่ควรอยู่ แม้แต่สาวใช้ที่ยืนรอรับคำสั่งยังแทบไม่มีผู้ใดส่งเสียงไป๋หลานนั่งตัวตรงอยู่หน้าโต๊ะ เบื้องหน้าของนางมีสมุดบัญชีสามเล่ม เทียบเชิญอีกหลายฉบับ และรายชื่อของขวัญซึ่งมารดาให้นางตรวจดูตั้งแต่เช้าหมัวมัววัยห้าสิบกว่ายืนอยู่ด้านข้าง คอยชี้สิ่งที่นางตกหล่นเป็นครั้งคราว เรื่องเหล่านี้ไป๋หลานเรียนมาตั้งแต่อายุยังน้อยตั้งแต่จำความได้ นางก็ถูกสอนว่าบุตรีของราชครูจะทำสิ่งใดตามใจไม่ได้ แม้แต่การหัวเราะเสียงดังเกินไปต่อหน้าแขกก็เคยทำให้นางถูกมารดาเรียกไปอบรมอยู่ครึ่งชั่วยามเมื่ออายุสิบสอง นางเริ่มเรียนรู้การดูบัญชีเรือน อายุสิบสี่สามารถจัดการรายชื่อของขวัญในเทศกาลต่าง ๆ ได้ ทุกวันนี้เพียงเห็นชื่อของฮูหยินคนหนึ่ง นางก็รู้แล้วว่าสามีของอีกฝ่ายดำรงตำแหน่งใด ควรเรียกขานอย่างไร และหากพบกันในงานเลี้ยงผู้ใดควรเป็นฝ่ายทักทายก่อนนางถูกเลี้ยงมาเพื่อเป็นภรรยาเอกของบุรุษจากตระกูลที่ดี และอีกไม่นาน สิ่งที่เร
last updateLast Updated : 2026-10-04
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status