LOGIN“หยางอี้เหริน วาสนาด้ายแดงในชาตินี้ข้าขอตัดขาดกับท่านด้วยตัวเอง หากแม้นชาติหน้าพบกัน ข้าเล่อชุนหลันไม่ขอผูกวาสนาใด ๆ กับคนใจร้ายเช่นพระองค์อีก!!”
View MoreHari itu, suara burung di taman keluarga Hartono terdengar seperti biasa, tetapi di dalam rumah megah itu, suasana jauh dari tenang. Keira duduk di sofa ruang tamu dengan kaki disilangkan, memelototi ayahnya yang duduk berhadapan dengannya. Di tangannya, sebuah cangkir kopi hampir tumpah karena tangannya yang bergerak-gerak gelisah.
“Kenapa sih, Ayah selalu memaksakan kehendak?” sergah Keira dengan nada tinggi. “Aku bukan anak kecil lagi!” Tuan William Hartono, pengusaha dengan reputasi keras dan disiplin, tetap tenang menghadapi protes putrinya. Dengan rambut mulai memutih dan wajah tegasnya, ia menyampaikan pendapatnya dengan nada dingin. “Keira, sudah berapa kali aku bilang, ini soal keamanan. Kau mungkin merasa bisa menjaga dirimu sendiri, tapi nyatanya kau ceroboh. Sudah dua kali kau hampir terlibat kecelakaan dalam satu bulan terakhir,” katanya “Kalau soal itu, aku bisa lebih hati-hati! Tidak perlu menyewa orang asing untuk mengikuti aku ke mana-mana.” Tuan William menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menghela napas, lalu berkata, “Keira, kau tidak punya pilihan. Sopir itu mulai bekerja hari ini, dan aku tidak mau mendengar lagi keluhan tentang ini.” Keira memutar bola matanya. Ia tahu ayahnya tak pernah berubah pikiran jika sudah memutuskan sesuatu. Ketika bel pintu berbunyi, Keira langsung menoleh dengan rasa jengkel. “Jangan bilang itu sopirnya,” gumamnya. Ayahnya tidak menjawab, tetapi berdiri dan melangkah ke pintu. Keira tetap di tempatnya, enggan menunjukkan antusiasme. Pintu terbuka, dan suara rendah ayahnya memperkenalkan tamu itu. “Keira, ini Adrian. Mulai hari ini dia akan menjadi sopirmu.” Keira mendongak dengan malas, tetapi matanya berhenti sesaat pada sosok pria yang masuk. Pria itu tinggi, mungkin sekitar 185 cm, dengan wajah yang bersih dan rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam yang pas di tubuhnya. Rambut hitamnya disisir ke belakang dengan gaya sederhana. “Senang bertemu dengan Anda, Nona Keira,” kata Adrian sambil menundukkan sedikit kepalanya. Suaranya lembut, tetapi ada nada percaya diri yang sulit diabaikan. Keira menatapnya dari atas ke bawah, lalu menyilangkan tangan di dada. “Mari kita lihat apakah kau bisa bertahan lebih dari seminggu,” katanya dingin, sebelum berdiri dan pergi ke kamarnya tanpa melirik kembali. Adrian tiba di rumah Keira tepat pukul 08.00 pagi keesokan harinya, sesuai jadwal. Mobil sudah dibersihkan dan diparkir di depan pintu utama. Ia mengenakan seragam yang sama sederhana seperti hari sebelumnya, tetapi kali ini Keira memperhatikan bahwa pria itu tidak membawa ponsel seperti kebanyakan orang. “Tidak punya ponsel, ya? Apa kau terlalu sibuk dengan hidup sederhana?” tanya Keira dengan nada mengejek saat mereka memasuki mobil. Adrian hanya tersenyum tipis. “Tentu saja saya punya, Nona. Tapi saat bekerja, prioritas saya adalah memastikan kenyamanan Anda.” Keira mendecak kecil. “Kita lihat saja sampai kapan kau bisa bertingkah sempurna seperti itu.” Hari itu, Keira sengaja memberikan jadwal yang rumit untuk menguji Adrian. Ia meminta Adrian mengantarnya ke butik terkenal di pusat kota, lalu ke salon mewah yang letaknya di ujung lain kota, dan terakhir ke kafe favoritnya. Semua lokasi itu berada di kawasan yang terkenal macet, dan ia sengaja memberi waktu yang sangat sempit. “Cepat! Aku tidak punya banyak waktu,” katanya dengan nada menggurui. Adrian tetap tenang, bahkan ketika jalanan mulai padat. Dengan keahlian mengemudi yang luar biasa, ia berhasil melewati kemacetan tanpa sedikit pun keluhan. Ketika Keira memerhatikan kaca spion, ia melihat wajah Adrian tetap tenang, tidak terganggu oleh sikapnya yang sengaja merepotkan. “Dia sopir atau robot, sih?” gumam Keira pelan. Di tengah perjalanan menuju kafe, sebuah insiden terjadi. Sebuah truk besar muncul dari arah kiri dengan kecepatan tinggi, tampaknya kehilangan kendali. Keira yang sedang sibuk bermain ponsel tidak menyadari apa yang terjadi sampai suara klakson keras terdengar. “Keira, pegang sesuatu!” suara Adrian terdengar tegas, berbeda dari nada lembutnya biasanya. Sebelum Keira sempat merespons, Adrian sudah menginjak rem dengan keras dan memutar setir, membuat mobil mereka berhenti hanya beberapa inci dari truk yang melintas. Keira terkejut. Tangannya gemetar saat memegang kursi. “Apa yang baru saja terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar. Adrian menoleh ke arahnya dengan tatapan lembut. “Kita hampir ditabrak truk, Nona. Apakah Anda baik-baik saja?” Keira mengangguk perlahan. Namun, sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Refleks cepat Adrian dan ketenangannya di situasi genting membuatnya terkesan, meskipun ia enggan mengakuinya. Saat mereka tiba di kafe, Keira masih terngiang-ngiang insiden tadi. Adrian tetap tenang seperti biasa, tetapi Keira merasa ada sesuatu yang aneh. “Kenapa kau begitu tenang tadi?” tanya Keira tiba-tiba sebelum keluar dari mobil. Adrian menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Itu bagian dari tugas saya, Nona. Saya harus memastikan Anda selalu aman.” Keira memperhatikan wajahnya, mencari tanda-tanda ketegangan, tetapi tidak menemukan apa pun. “Kau sopir yang aneh,” gumamnya sebelum masuk ke kafe. Dari jendela kafe, Keira sempat melihat Adrian berdiri di luar mobil, berbicara dengan seseorang melalui earphone. Meski percakapan itu tidak terdengar, gerak tubuh Adrian menunjukkan bahwa dia sedang membicarakan sesuatu yang serius. “Kenapa sopir harus bicara seperti itu?” pikir Keira. Malam itu, Keira duduk di kamarnya, memikirkan hari yang panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa Adrian “Ayah mungkin benar. Dia memang sopir yang bagus,” gumamnya. Tapi kemudian, ingatan tentang percakapan misterius Adrian membuat rasa penasaran muncul. Keira membuka ponselnya dan mulai mencari informasi tentang pria bernama Adrian. Sayangnya, tidak ada hasil yang relevan. Tidak ada media sosial, tidak ada latar belakang yang mencurigakan. “Aneh,” katanya pelan. Sementara itu, di kamar Adrian, pria itu sedang duduk di depan laptopnya. Ia memeriksa laporan keuangan sebuah perusahaan besar, matanya menatap grafik dengan fokus. “Semua berjalan sesuai rencana,” gumamnya dengan suara rendah. Ia menutup laptopnya, lalu melirik foto keluarganya di atas meja kecil. “Keira Hartono… kau akan menjadi bagian penting dari rencana ini, meskipun kau belum tahu apa-apa.”“เจ้าคนบ้าจวินซานหรง ท่านออกไปเลย”“แต่ว่าท้องของเจ้า...ไม่ปวดแล้วงั้นหรือ”“โอ๊ยย!! นี่ท่านไม่รู้จริง ๆ หรือว่าข้าต้องการบอกอะไรกับท่าน”“เร็วเข้าเจ้าบอกข้ามาว่าเจ็บตรงไหน แล้วเมื่อครู่ข้าก็กระแทกไปเยอะเสียด้วยสิ ไม่ได้ข้าว่าไปเรียกหมอหวังมาดีกว่ารอข้า...”“จวินซานหรงเจ้าคนซื่อบื้อหยุดนะ!!”จวินซานหรงที่ลุกจากเตียงต้องรีบหันมาทันที เขาเดินมานั่งข้าง ๆ ชุนหลันที่กำลังทำหน้าโมโหสุดขีดอย่างที่เขาไม่เคยเห็นและกำลังจะเริ่มร้องไห้ ไม่เข้าใจเลยว่าการที่เขาเป็นห่วงนางและจะรีบไปตามหมอนี่มันผิดตรงไหนแต่คนตรงหน้ากลับเริ่มร้องไห้เขาจึงต้องรีบซับน้ำตาให้นางก่อน“อาหลันข้าไม่ไปแล้ว ไม่ไปแล้วเจ้าอย่าร้องไห้นะบอกข้าสิว่าเจ็บตรงไหนข้าจะช่วยเจ้าเอง”“ท่านมันฉลาดทุกเรื่องแต่กลับโง่เรื่องนี้ ข้าไม่น่าแต่งงานกับท่านเลย”“ไม่ได้นะเจ้าอย่าพูดเช่นนี้ ใช้ได้ที่ไหนกันพึ่งจะเข้าหอกันคืนเดียวก็จะพูดแบบนี้เจ้าเป็นอะไรกันแน่บอกข้าเถอะข้าจะได้”“ข้าท้องเจ้าคนซื่อบื้อ”“ข้ารู้แล้วว่าเจ้าปวดท้อง…. ข้ากำลังจะไปเรียก… อะไรนะอาหลัน เมื่อครู่นี้เจ้าบอกว่า…”“หึ ตอนนี้ข้าไม่มีอารมณ์แล้ว จะนอน!!”“เดี๋ยวก่อน!! เดี๋ยวก่อนส
ห้องส่งตัวเล่อชุนหลันผล็อยหลับไปหลายครั้งและสะดุ้งอีกครั้งเมื่อประตูห้องเปิดและเสียงของคนด้านนอกที่มาส่ง นางจึงรู้ว่าได้เวลาที่เจ้าบ่าวจะเดินมาเปิดผ้าคลุมแล้ว“อาหลันเจ้ารอนานหรือไม่ ข้ามาแล้ว”จวินซานหรงเดินมาพร้อมกับจับไม้มงคลและเดินไปที่เจ้าสาวก่อนจะค่อย ๆ เปิดออกมา ใบหน้าของเจ้าสาวที่แต่งแต้มด้วยชาดสีแดงสดตรงหน้าทำให้เขารู้สึกตกตะลึงไปนิดหน่อยเพราะเขาไม่เคยเห็นเล่อชุนหลันแต่งหน้าด้วยสีจัดจ้านและงดงามเช่นนี้มาก่อน“อาหลันวันนี้เจ้างดงามราวโบตั๋นในอุทยานหลวง”“จวินซานหรงท่านเมาแล้ว”“ข้าดื่มมาเพียงเล็กน้อยเท่านั้น ไม่เมาถึงขนาดมองเจ้าผิดหรอก ปกติเจ้าก็งดงามอยู่แล้ว”“ช่างปากหวานเสียจริง”“ข้าช่วยเจ้าถอดเครื่องประดับดีหรือไม่เจ้าคงหนักแล้วสินะ”“ไหล่ข้าปวดไปหมดแล้วเพคะ ชุดนี้หนักมากจริง ๆ ไหนจะเครื่องประดับนี่อีก”จวินซานหรงเพียงแค่ยิ้มและค่อย ๆ ช่วยนางถอดเครื่องประดับ ถ้าจะพูดให้ถูกคือเขาพยายามจะถอดชุดของนางต่างหาก“ซานหรงท่านไม่ต้องเลยนะ ท่านบอกจะมาช่วยถอดแต่นี่กลับเอาแต่ถอดชุดของข้า ท่านไปจัดการตัวเองเลยไป”“แต่ว่าชุดนี้มันดูจะสวมยากแล้วก็หลายชั้น ข้าคิดว่าคงจะเสียเวลานานที่จะถอด
มู่หรงเฉิงยิ้มค้างและหันมามองใบหน้าของผู้ที่พูดให้ชัด ๆ เขารู้เพียงว่าที่สกุลเล่อมีหมอมาพักอยู่ด้วยเป็นสตรี แต่ก็ไม่ได้คิดว่านางจะเกี่ยวข้องอะไรกับเขาแต่เมื่อมองเช่นนี้นางก็ช่างละม้ายคล้ายกับน้องสาวแท้ ๆ ของเขาอยู่หลายส่วน“เจ้า…. เจ้าคือ…”“ข้า… หวังเจียวเมิ่ง อ้อ จริงสิข้ามีนี่ด้วยท่านดูสิ”นางหยิบกำไลข้อมมือสีเงินที่นางเก็บเอาไว้เป็นอย่างดีออกมาและยื่นให้เขาดู มู่หรงเฉิงเมื่อเห็นกำไลข้อมือนี้เขาก็น้ำตาไหลลงมาทันที“กำไลของท่านแม่ เป็นสิ่งเดียวที่ท่านเหลืออยู่เพื่อให้ข้าเอาไว้ยืนยันตัวเองเมื่อเจอท่าน”“กำไลนี้… เป็นของท่านแม่ของข้า…เช่นนั้นเจ้า…”สองคนที่ยืนร้องไห้จนตาแดงมองสบตากันและกันด้วยความแปลกใจ ดีใจจนไม่สามารถเอ่ยออกมาเป็นคำพูดได้ มู่หรงเฉิงมองไปที่กำไลไม่หยุด หวังเจียวเมิ่งหันมาเรียกเขาอีกครั้ง“พี่ใหญ่!! ข้าตามหาท่านมานานหลายเดือน ในที่สุดข้าก็พบท่าน”“น้องเล็ก เป็นเจ้าจริง ๆ เมิ่งเอ๋อร์ของพี่”มู่หรงเฉิงเดินมากอดนางเอาไว้แน่น หวังเจียวเมิ่งเองก็กอดเขากลับพร้อมกับร้องไห้โฮออกมาสุดเสียงเพราะความดีใจ มู่หรงเฉิงนั้นค่อย ๆ สงบสติอารมณ์เอาไว้ได้ก่อนจะค่อย ๆ คลายอ้อมกอดของน้องสาว
“ท่านว่าอะไรนะ… ละ ลี่จินเซียนงั้นหรือ”เล่อชุนหลันค่อย ๆ ทรุดตัวอย่างหมดแรง ซานหรงค่อย ๆ พยุงนางลงมานั่งและจับมือนางเอาไว้เพราะเขารู้ดีว่านางคงต้องตกใจมากดังนั้นเมื่อจางหลิงรีบมาบอกข่าว เขาก็รีบตามมาเพราะรู้ว่านางจะต้องอยากไปที่จวนอ๋อง“นาง… ตายแล้วหรือเพคะ ทำไมกัน”“ลี่จินเซียนไปหาเรื่องหวังเจียวเมิ่งถึงในตำหนักกลางและไปพบหวังเจียวเมิ่งที่กำลังดูแลน้องแปดอยู่ นางทนไม่ไหวจึงได้ดึงตัวหวังเจียวเมิ่งออกมาหวังจะทำร้าย น้องแปดดึงพวกนางแยกออกจากกัน ลี่จินเซียนล้มลงกับพื้นและวิ่งเข้าหาพวกเขาอีกครั้งแต่พวกเขาหลบทัน นางจึงพุ่งไปชนกับหน้าต่างและพลัดตกลงมาชั้นล่าง”“คิดไม่ถึงเลยว่านางจะพบจุดจบเช่นนี้ แล้วนี่ร่างของนาง…”“น้องแปดสั่งให้คนนำไปฝังที่สุสานสกุลลี่นอกเมืองแล้ว และให้กรมวังแจ้งว่านางป่วยตาย”“แล้วเจียวเมิ่ง!!”“เจ้าใจเย็น ๆ ก่อนหวังเจียวเมิ่งปลอดภัยดี ทุกคนไม่มีผู้ใดบาดเจ็บเจ้าต้องตั้งสติก่อนนะ ที่ข้ายังไม่ให้เจ้าไปที่นั่นในตอนนี้เพราะศพของสนมลี่ยังไม่ได้ถูกนำออกไป ข้าไม่อยากให้เจ้าไปเห็นภาพไม่งามเช่นนั้น อยากให้เจ้าจดจำนางเอาไว้ด้วยภาพที่ดีก็พอแล้ว”“ข้า… เข้าใจแล้วเพคะ ลี่จินเซียนคิ
เสียงนกร้องในยามเช้าพร้อมกับเปลือกตาที่หนักอึ้งทำให้เล่อชุนหลันรู้สึกราวกับว่าตกจากที่สูง หนักจนนางแทบจะลุกไม่ขึ้นและไม่อยากคิดเลยว่านางจะถูกช่วยเอาไว้ นางอยากตายแต่กลับไม่ตายงั้นหรือ แม้แต่สวรรค์ก็ไม่อยากต้อนรับนางเช่นนั้นหรือ“ท่านตื่นแล้วหรือเจ้าคะคุณหนู ท่านจะล้างหน้าเลยหรือไม่เจ้าคะ”“อะไรนะ เ
ห้าวันถัดมา“เจ้าบอกว่าท่านอ๋องไปพักที่เรือนพักของหมอหวังทุกคืนงั้นหรือ”“เพคะ ตอนนี้พระชายารองก็กำลังจะไปที่นั่นเพคะ”“ช่างเถอะไม่ใช่เรื่องของข้าเสียหน่อย เขามีชายารองได้หนึ่งคนจะมีอนุเพิ่มอีกสักคนก็ไม่เห็นแปลก ก่อนหน้านี้พวกเขาก็อยู่ในกองทัพมาด้วยกัน”“พระชายาเพคะ หรือเราจะกลับจวนสกุลเล่อดีเพคะ”
รอยยิ้มที่แฝงไปด้วยความเป็นห่วงนั้นทำให้เขารู้สึกอบอุ่นใจอย่างน่าประหลาด และไม่ใช่ความอุ่นจากขนมที่เขารับมาอย่างแน่นอน รอยยิ้มของนางทำให้เขารู้สึกไม่อยากนำทัพออกไปแต่ก็ต้องสลัดความคิดนั้นทิ้งเพราะในสายตาของเขานางยังคงเป็นสตรีที่เสแสร้งเก่งไม่ต่างจากวันวานที่เคยรู้จัก เขาจะไม่มีวันตกหลุมพรางนี้โดยเด
“พระชายาเพคะ หรือว่าเราจะกลับจวน…”“ช่างเถอะ ในเมื่อข้าเลือกเส้นทางนี้เองก็ไม่มีเหตุผลใดที่ข้าจะแก้ไขเองไม่ได้หากจะตายเพราะรักเขาก็ต้องยอมรับให้ได้”“พระชายา ฮือ…อย่าทรงตรัสเช่นนั้นเลยเพคะ อย่าทำให้จินถิงกลัวเพคะ”สองนายบ่าวร้องไห้กอดกันในตำหนักที่เย็นเยือกซึ่งตั้งแต่นางแต่งเข้ามาที่นี่พึ่งจะมีวันน






reviewsMore