เข้าสู่ระบบในโลกที่อย่างกับหนังแฟนตาซี เขาเกิดใหม่เป็นนักรบหุ่นล่ำพร้อมสกิลนักดาบเลเวล99 ทีแรกก็คิดว่าตัวเองเก่งที่สุด แต่ดันมีคนเจ๋งกว่า นั่นก็คือผัวเขา ใช่ผัว พระเจ้าให้เขาเกิดใหม่เป็นนักรบหล่อล่ำ..แต่ดันมีผัว
ดูเพิ่มเติมNamaku Amanda William. Tadinya aku sudah tidak ingin di pusingkan dengan urusan laki-laki, toh hidupku sudah cukup bahagia sendiri. Karir ku bagus, aku sudah memiliki rumah sendiri meski tak mewah. Kendaraan pun aku punya meski bukan kendaraan wah.
Nyatanya saat aku menikmati kesendirianku yang ke lima tahun ini, Ibuku malah terus-menerus menanyakan kabar hatiku. Berharap ada laki-laki yang menggantikan posisi Arjuna, mantan kekasih ku.
Terlebih ocehan kedua sahabat baik ku Fitria dan Jenny yang sudah mendahuluiku berkeluarga semakin membuat kepalaku sakit. Menurutnya hidupku tak normal, sebab aku memilih untuk sendiri selamanya. Mereka ingin aku hidup normal katanya.
Aku sudah melihat seorang perempuan cantik yang duduk memangku seorang bayi. “Ya ampun Jen, anakmu lucu sekali.” pujiku saat pertama kali melihat putra Jenny mengenakan kemeja rapi bak orang dewasa.
Jenny memutar bola matanya, “Makanya cepet bikin, biar kamu juga punya.” katanya ketus.
“Bikin? Emang dari tanah liat bisa bikin sendiri.” jawabku tak kalah ketus.
Jenny memicingkan matanya, menatapku dengan tatapan asing, seperti kesal yang tertahan. “Ya cari dong yang mau jadi partner buat bikinnya!”
“Aduh mulai ngelantur lagi. Mana nih si Fitria jam segini belum datang juga?” ujarku mengalihkan pembicaraan Jenny.
“Ayo Nak main sama Alex.” pinta Fitria pada anaknya agar mau bermain bersama Alex putra sulung Jenny.
Aku mulai resah saat Fitria yang kini ada di antara aku dan Jenny. Seperti obrolan-obrolan sebelumnya, pasti aku yang selalu terpojokan.
“Sorry ya, aku telat lagi. Maklum Pak Suami kalau libur maunya di kelonin terus. Hahaha.” lanjutnya di sambut tawa Jenny.
“Mulai deh.” protesku yang sudah badmood sejak tadi.
“Ye bukan salah kita lagi. Suruh siapa milih jomblo seumur hidup?” jawab Fitria di dukung anggukan Jenny.
Aku mulai menyalakan sebatang rokok Marioboro kesukaan ku, berbincang hangat dengan sahabat baik ku. Jenny dan Fitria sudah menjadi bagian dari keluargaku. Persahabatan kami sudah berjalan hampir lima belas tahun lamanya. Tepatnya saat kami masih sama-sama duduk di bangku SMA.
Jenny memang begitu, dia selalu galak pada topik-topik tertentu. Tapi karakter feminin nya lebih mendominasi saat mengambil keputusan-keputusan penting. Seperti keputusannya menggunakan dress bermotif bunga anggrek ungu di padukan bando rambut senada. Sempurna sekali membalut tubuhnya yang masih indah meski sudah memiliki dua orang putra. Selain memiliki anak-anak yang tampan, Tentu saja Jenny juga wanita bersuami. Samudera suaminya, seorang Dokter yang karirnya tak perlu diragukan lagi.
Lalu bagaimana dengan Fitria? Fitria itu mesum! Dia adalah orang yang paling ahli sepertinya dalam urusan ranjang. Kenapa begitu? Karena hanya dia yang selalu bersemangat mengangkat topik itu. Bahkan dahulu....
Saat kami masih duduk di bangku SMA dia punya koleksi beberapa dvd dewasa. Dan dia selalu antusias akan itu. Aku yang bekerja satu kantor dengannya kadang khawatir jika nanti ia akan meracuniku dengan kegilaannya itu. Beruntungnya, Fitria juga wanita bersuami dengan satu putra. Lexi nama putranya sedangkan suaminya Febri seorang yang paham sekali dengan teknologi.
Aku hampir tesedak asap rokok saat Jenny tiba-tiba menginjakan kakinya keras di bumi dan berkata, “Manda, udahan dong rokoknya! Makin ke sini aku perhatikan kecanduanmu malah semakin parah.” pinta Jenny sekilas menasehatiku dengan sebal.
“Maaf deh maaf.” pintaku seraya mematikan batang rokokku yang masih panjang.
Aku pun mulai tersedak kembali setelah berusaha menelan bakso berukuran kecil. Saat Fitria lagi, membuka topik yang membuat kupingku sakit.
“Man udah tahun kelima ini, masih aja belum move on dari Arjuna? Kamu juga berhak bahagia Man.” kata Fitria melanjutkan.
“Gak lah, Arjuna udah aku anggap mati. Tapi gak tau lah Fit, aku masih....”
“Masih takut kecewa lagi? Takut kalau kamu ketemu laki-laki berengsek kayak bapak mu?” cecar Jenny menyelaku.
Lagi, mereka mencecarku dengan pertanyaan yang sama yang sudah berulang hingga ratusan.
***
Awal pekan yang akan melelahkan, sebab aku di sambut tangung jawab pekerjaan baru yang lebih besar. Perusahaan memintaku untuk menangani projek apartemen baru di luar kota. Pekerjaan yang mewajibkanku untuk tinggal di Surabaya selama enam minggu lamanya.
“Proyek besar honor besar Man.” seru Doni bersemangat saat kami mulai menyiapkan berkas-berkas yang akan kami bawa ke Surabaya.
“Lumayan lah buat jajan anakmu Don.” jawabku datar. Doni menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia melempar senyum bahagia. “Jajan anaknya sama jajan ibunya Man.” Aku terkekeh kemudian. “Iya.”
Sebagai seorang Arsitek utama di perusahaan, kaki tangan dan rekan kerjaku memang lebih di dominasi laki-laki dan aku sudah terbiasa dengan itu.
***
Kepalaku mulai pusing. Penglihatanku juga terasa hilang sebagian saat aku bersiap untuk kembali ke Jakarta setelah enam minggu aku bekerja di Surabaya. Badanku juga lemas sekali.
Doni yang duduk di sampingku seperti melihat gerak-gerikku hingga ia bertanya, “Man, kamu sakit ya?” Aku mengepalkan kedua tanganku tanpa sadar. “Kayaknya sih gitu Don,” "Kamu terlihat pucat Man, apa mau ku antar ke rumah sakit Man?” tawar Doni mulai panik. Telapak tangan Doni sudah berkali-kali menyentuh dahiku untuk memastikan suhu tubuhku. Kali ini ku silangkan tangan ke dada. “Tidak usah Don, nanti biar di Jakarta aku ke Dokter, kebetulan suami sahabatku seorang Dokter.” kataku menolak kebaikan yang Dini tawarkan. Aku memang terbiasa dengan Samudera. Dia sudah seperti private dokterku. “Yakin kamu Man?" “Gak apa-apa Don. Thanks ya.” balasku mencoba menenagkan Doni.
***
Ku tahan setiap sakit yang menjalar tubuhku hingga aku meninjakan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Aku pamit mendahului Doni untuk pergi dengan memesan taxi online menuju klinik Dokter Samudera.
"Amanda! Tumben sekali tiba-tiba datang gak kasih kabar?" sapa Jenny merangkulku dengan menyilangkan tangan di balik tulang punggungku.
Aku hanya tersenyum seraya menahan kepalaku yang mulai terasa berat.
“Man, kenapa? Kamu sakit? Pucat sekali wajahmu. Yuk ke klinik!” Jenny sedikit berlari mengarahkanku ke pintu masuk klinik yang menyatu dengan kediamannya. Aku mengikutinya. “Hai Sam.” aku menyapanya lirih. Rasanya tenagaku sudah habis, tubuhku nyaris ambruk malah. Samudera sudah sejak tadi menyibukan tangannya untuk memeriksa keadaanku. “Hai Amanda, udah lama gak ketemu. Sekalinya ketemu malah minta obat.” Aku mengulum senyum dengan kata-kata Samudera.
Amanda mulai resah. Aku bisa merasakan dia tengah mengkhawatirkanku. “Gimana Mas? Amanda gak apa-apa kan?” Jenny menyela suaminya yang tengah memeriksa keadaanku. Samudera mengangguk pelan lalu berujar, “Sakit biasa aja Man, tekanan pekerjaan yang bikin stres, kurang istirahat jadi kecapekan dan kebiasaan rokok yang harus segera di hentikan.” jelasnya seraya menulis resep di secarik kertas. Jenny yang sebelumnya berdiri di samping kakiku kini meraih tanganku untuk sekedar membantuku agar bisa duduk di tepi brangkar. "Tuh kan Man, aku udah berkali-kali bilang. Buang sajalah rokokmu itu.” pinta Jenny yang di setujui suaminya.
Samudera beranjak dari tempat duduknya. Memutari meja kerjanya dan menempatkan bokongnya disana. “Rokok itu hanya merusakmu Man. Apalagi kamu perempuan, kamu akan mengandung di kemudian hari. Sebelum kamu tidak bisa lepas, kamu harus mulai terapi untuk berhenti dari sekarang.” “Tenang saja Sam, aku tidak ingin mengandung jadi aku tidak akan menyakiti siapapun.” jawabku datar seraya beranjak dari tepi brangkar.
Benar sekali! Aku memang memutuskan untuk hidup sendiri saja, aku tak ingin mencari pasangan yang akan meributkan kehamilan atau yang lainnya. Aku sudah mati rasa.
“Kamu menyakiti dirimu sendiri Man!” pekik Jenny yang mulai kesal. Aku tentu saja kaget mendengar Jenny membentakku keras, segalak-galaknya Jenny dia tidak pernah membentakku sekeras itu.
Sedetik kemudian mata Jenny sayu. Tidak seperti sebelumnya yang melotot hingga bola matanya nyaris jatuh. Jenny meraihku. Dengan suara lirih dia berkata, "Man aku minta maaf ya. Aku khawatir sama kamu jadi terbawa perasaan sampe bicara terlalu keras." Aku tersenyum. Lebih dari itu, hatiku pun tersenyum sebab aku masih memiliki mereka yang menyayangiku tanpa sebab. “Makasih banyak ya Jen.”
Kami pun saling meleburkan pelukan Di saat yang sama juga melepaskannya untuk pamit pulang. Aku bahkan tak pernah membayar jasa Samudera setiap kali aku sakit. Pun dengan obat yang aku ambil di apotik samping kliniknya.
Ah mereka memang keluargaku di tanah perantauan ini.
***
Bersambung...
(จบ)อยู่กับเจ้าไปตลอดกาล"นั่นแสงอะไร"ซาว่าที่นั่งรอสเวนอยู่ตรงระเบียงเงยหน้าขึ้น แสงสีขาวกระจ่างเต็มท้องฟ้า เป็นสัญญาณว่าพลังของราชามังกรได้ถูกปลดปล่อยออกมาแล้ว"สีขาว อ่า มังกรขาว""อ่าาา หรือเราจะตาฝาด"ซาว่าขยี้ตาแรงๆ แล้วเขาก็ได้คำตอบว่าตัวเองแค่ตาฝาดไปวันสถาปนาอาณาจักร"เอาล่ะนะ พวกเราเปิดมิติ"เสียงมิเกลปลุกใจให้พวกพ้องฮึกเหิม สไลม์ตัวกลมเด้งดึ๋งๆนำหน้าเพื่อน ได้เวลาที่เขาต้องทำตามสัญญาแล้วในวันหนึ่งสเวนติดต่อมาเพื่อบอกเขาว่าซาว่ากำลังตั้งท้อง"นึกว่าท่านอยากจะครองโลกซะอีก" "อะไรทำให้นายคิดแบบนั้น""อะ นั่นสินะครับ""แค่เปิดมิติพงไพร และช่วยกันดูดกลืนวิญญาณของรันคะเข้าไปก็พอ หวังว่าพวกนายทุกตนจะทำได้นะ""แน่นอนอยู่แล้วครับ พวกเราเกิดมาเพื่อกินวิญญาณ ไม่ว่าจะชั่วร้ายแค่ไหนก็จะกินไม่เหลือซาก""ถึงแม้กินไปแล้ว เขาจะกลับมากำเนิดในครรภ์ซาว่าอีกครั้งก็เถอะ""ความจริงทำไมไม่มอบลูกคนแรกให้ราชาคอลตัลกินตามสัญญาล่ะครับ แล้วท่านก็สังหารซาว่าในคืนเดือนดับที่ประตูนรกเปิดในรอบหนึ่งพันปี ตัดวงโคจรไม่ให้จอมมารรันคะกลับมาเกิดได้อีก""เพราะต่อให้ราชาคอลตัลกินลูกคนแรกไป แต่รันคะคนที่สองที่สาม
ปลดผนึกซาว่าคล้ายกลืนข้าวไม่ลง ภายในใจเขามีแต่ความกังวล"ได้เห็นแล้วว่าร่างกายนี้ยังคงอยู่""ทำไมกัน""ซาว่า บ่นพึมพำอะไร ทำไมไม่กินข้าว"สเวนตักข้าวป้อนภรรยา ไม่ใช่เขาไม่สงสัยในตัวนักดนตรีคนนั้น เพียงแต่ไม่อยากพูดอะไรให้ซาว่าลำบากใจเท่านั้นบางอย่างก็ไม่ใช่ว่าเขาจะไม่รู้เพียงแต่แกล้งมองข้ามไปก็แค่นั้น"นี่ท่านพี่" ซาว่าสบตาสเวน สายตาเศร้าสร้อยนั้นทำเอาคนเป็นสามีเจ็บหัวใจแปล๊บๆ"ว่าไง" เขาพูดเสียงนุ่ม ลูบหัวซาว่าอย่างเอ็นดู ตั้งแต่เมื่อไหร่กันนะที่เขาตกหลุมรักคนๆนี้รู้ตัวอีกทีก็ถอนตัวไม่ขึ้นซะแล้วสิ"ท่านพี่สเวน ท่านพี่ ออกมาหาน้องที ท่านพี่"แต่ก่อนจะได้คุยอะไรก็มีเสียงตะโกนโหวกเหวกดังมาจากด้านนอก สเวนคิ้วกระตุก "นั่นเสียงโดนัลนี่นา" ซาว่าหน้าตาเริ่มบึ้งตึง"ชู้รักท่านมาทำอะไรที่นี่""โธ่ ชู้อะไรกัน ตั้งแต่แต่งกับน้องพี่ก็ไม่ได้ยุ่งกับใครเลยนะ""เคยกอดกันต่อหน้าน้องอยู่นี่นา""ก็ตอนนั้น....""ตอนนั้นอะไร""ท่านพี่ ฮือๆๆๆๆ ออกมาหาน้องหน่อย""เฮ้อ!" สเวนจำใจเดินออกมาหน้าปราสาทอีกครั้ง ส่วนซาว่าก็เดินกระทืบเท้าตึงตังตามออกมาด้วย"ท่านพี่ ฮือออออ ท่านพี่ช่วยน้องด้วย ท่านพี่ฮาเกน ฮือออ
นักดนตรีพเนจร(พาร์ท ซาว่า)ดวงอาทิตย์เพิ่งเริ่มโผล่พ้นขอบฟ้าขณะที่ผมนอนอยู่บนเตียง ครุ่นคิดถึงความไร้สาระของชีวิต อารมณ์ต่างๆวนเวียนอยู่ในใจผม"นี่เราท้องจริงๆเหรอ"การตื่นขึ้นมาแล้วต้องยอมรับว่าผู้ชายอย่างผมกำลังตั้งท้อง มันเหมือนกับมีอะไรที่ทำให้ผมรู้สึกผิดแปลกมากๆเลยครับ"เอ่อ...พระเจ้าคุณอยู่มั้ย โผล่หัวมาให้คำปรึกษาผมสักครั้งได้ป่ะ" ผมเรียกหาพระเจ้าภายในใจ รู้สึกว่าเขาจะหายไปนานเกินไปแล้วนะ!!!!“อรุณสวัสดิ์ซาว่า!” เสียงของสเวนดังก้องไปทั่วห้อง ดึงผมออกจากความคิดบ้าๆบอ ๆ“อรุณสวัสดิ์ ท่านพี่สเวนนี่” ผมตอบยิ้มๆ แล้วหันหน้าไปหาสเวน เขาขมวดคิ้วเมื่อได้ยินชื่อเล่นใหม่ อ่า จะว่าไปเรียกแบบนี้ก็น่ารักดีนะ"ซาว่า....เด็กดื้อ"เขาโน้มตัวเข้ามาจูบแก้มผม “พี่มีเรื่องต้องไปจัดการ อาจจะไม่ได้กลับสักสี่วัน""สี่วัน?" ผมร้องลั่น ลุกขึ้นยืนบนเตียง “แต่ท่านพี่ นั่นมันนานเกินไปนะ” อยู่กับเขาแล้วเหมือนผมจะเอาแต่ใจมากขึ้นทุกวันสเวนหัวเราะเบาๆ นิ้วของเขาปัดปอยผมที่หลังใบหูของผม “เรื่องสำคัญ เลยต้องไปนานหน่อย แต่พี่สัญญาว่าไม่เกินสี่วันแน่นอน""จะรีบกลับมากอดน้องกับลูกเร็วๆนะ""มีเรื่องอะไร ให้น้องไป
เสียงกระซิบของโชคชะตาแสงแดดส่องผ่านผ้าม่าน ฉายแสงอันอบอุ่นไปทั่วห้องที่สเวนและซาว่านอนกอดกันหลังจากคืนอันเร่าร้อน นิ้วของสเวนไล่ตามบนแผ่นหลังเปลือยเปล่าของซาว่า ขณะที่ทั้งคู่พยายามกลั้นอารมณ์นั้นไว้“น้องก็รู้” สเวนพูดด้วยรอยยิ้มขี้เล่น “พี่คิดมาตลอดว่าตอนเช้าคือช่วงที่ดีที่สุดของวัน” ซาว่าหัวเราะเบาๆ พลางฟุบหน้ากับหน้าอกของสเวน"ท่านพี่พูดตอนนี้ น้องจะทำยังไงต่อล่ะ"สเวนหัวเราะ เสียงดังก้องกังวานไปทั่วอกของเขา "พี่พบเหตุผลที่จะรักน้องแล้ว""เหตุผลอะไร" ซาว่าชักอยากรู้แล้วสิ"น้องน่ารัก แค่นี้แหละ""ชิ เหตุผลไรไม่รู้"ขณะที่พวกเขาดื่มด่ำกับความสุขที่มีให้กัน สเวนก็นึกขึ้นได้ว่าใกล้ถึงเวลาที่หมอจะมาแล้ว เมื่อวานเขาให้ลูกน้องไปนัดหมอให้ อยากให้มาตรวจร่างกายซาว่าดูอีกที รวมทั้งเรื่องที่ซาว่าเคยปวดท้องมากๆตอนอยู่มิติพงไพรด้วย“น้องไปแต่งตัวเถอะ เดี๋ยวสักพักหมอจะมาตรวจ” ไม่กี่นาทีต่อมาก็มีเสียงเคาะประตู ซาว่ายังไม่ทันได้ลุกออกจากเตียงด้วยซ้ำ"มาตรงเวลาเป๊ะๆเลยนะ"สเวนเปิดประตูออก เผยให้เห็นชายร่างผอมสูงที่มีผมสีน้ำตาลยุ่งเหยิงและรอยยิ้มบนใบหน้าของเขาตลอดเวลา "อ่า สเวน! นายเป็นยังไงบ้างเพื
"ปล่อยได้แล้ว"ผมตื่นขึ้นมาเจอว่าตัวเองอยู่ในอ้อมแขนสเวน เขากอดผมแน่น นอนหลับตาพริ้มเหมือนสบายใจนักหนาทั้งที่นอนกอดผู้ชายอกสามศอก!!! ถ้าเป็นสาวน้อยน่ารักว่าไปอย่าง
ผ่านมาหนึ่งอาทิตย์แล้วกับชีวิตในโลกใบใหม่ ไม่เชื่อก็ต้องเชื่อว่าผมเอาตัวรอดจากการถูกสามีของร่างนี้จับกดมาได้โดยตลอด ถึงเขาจะหงุดหงิดบ้างแต่ก็ไม่ได้บังคับอะไรผมมากมายก็ขอให้เป็นอย่างนี้ไปตลอดแล้วกันก่อนที่ผมจะหาที่อยู่ใหม่และหนีไปได้เช้านี้มีจดหมายจากกองทัพมาส่งที่บ้าน ไททันตัวใหญ่ทำหน้าที่ส่งจดห
"มีอะไร ทำหน้าแปลกๆ" สเวนเอามือแตะแขนภรรยา ซาว่าขยับหนีเขาอีกแล้ว "จับมือกันหน่อย เร็ว" เขาออกคำสั่งภรรยาเป็นครั้งแรก ซาว่ายึกยักและเดินหนีไป"ซาว่า พี่บอกไม่ได้ยินรึไง"สเวนพูดเสียงเข้ม แต่มันดันได้ผล เพราะคราวนี้ซาว่ายอมทำตาม ปล่อยให้เขากุมมือเดินมาถึงท้องพระโรง"นายพลสเวนกับท่านซาว่ามาแล้วพ่ะยะค
"นั่น ไททัน" ผมชี้ไปที่ร่างสูงใหญ่ยักษ์ที่กำลังเดินอยู่ ในมือเขาถือหัวคนเคี้ยวไปด้วย!!!!แล้วทำไมไม่มีใครหนีเลยเนี่ย เดี๋ยวไททันก็จับกินหมดหรอก!!!!"เอ๊ะ นั่นสไลม์ใช่มั้ย" จะใช่ท่านริมุรุรึเปล่านะ"อ๋าาา คนมีปีกบิน อะ ม้าบินได้""เฮ้ยๆๆๆๆ ไททันเกราะก็มีด้วย" สไลม์ก็กระโดดดึ๋งๆไปทั่ว เสียงคนคุยกันก็





