เข้าสู่ระบบเมื่อเจ้าพ่อตระกูลสุยถูกลอบสังหารด้วยระเบิดพลีชีพ สุยอวิ๋นสิง สามีของฉันซึ่งเป็นหัวหน้าทีมคุ้มกัน กลับกำลังพาบรรดาผู้คุ้มกันกลุ่มหนึ่งไปส่งเจียงเนี่ยนเนี่ยน เพื่อนสมัยเด็กของเขาดูแฟชั่นโชว์ ฉันไม่ได้กดแหวนสัญญาณฉุกเฉินค้างไว้ แต่กลับพยุงท้องแก่กระโจนเข้าหาเจ้าพ่อ ใช้ร่างกายของตัวเองกำบังระเบิดให้เขา ชาติที่แล้ว ฉันกดมัน สุยอวิ๋นสิงทิ้งเจียงเนี่ยนเนี่ยนแล้วรีบกลับมา เขาช่วยเจ้าพ่อเอาไว้ได้สำเร็จจนได้กลายเป็นมือขวาของตระกูล ทว่าเจียงเนี่ยนเนี่ยนกลับโกรธแค้นที่เขาจากไป เธอวิ่งตัดทางด่วนจนถูกรถชนตาย สุยอวิ๋นสิงดูเหมือนจะไม่พูดอะไร แต่ในวันที่ฉันเจ็บท้องคลอด เขากลับส่งฉันเข้าไปในลานประมูลใต้ดิน “ข้างกายเจ้าพ่อมีทหารคุ้มกันมากมาย ทำไมเธอต้องบังคับให้ฉันกลับมาด้วย ไม่ใช่เพื่อชื่อเสียงและภาพลักษณ์ในตำแหน่งภรรยามือขวาหรอกเหรอ” “ถ้าไม่ใช่เพราะเธอ เจียงเนี่ยนเนี่ยนก็คงไม่ต้องตาย ความทุกข์ทรมานที่เขาได้รับ เธอจะต้องชดใช้คืนเป็นพันเท่าหมื่นเท่า!” ฉันทำได้เพียงเบิกตากว้างมองดูอวัยวะของตัวเองถูกประมูลไปทีละชิ้น แม้แต่สายสะดือของลูกก็ไม่เว้น สุดท้าย ฉันก็ตายจากการติดเชื้อระหว่างการผ่าตัดอวัยวะ เมื่อลืมตาขึ้นมาอีกครั้ง ฉันก็ย้อนกลับมาในวันที่เจ้าพ่อถูกลอบทำร้าย
ดูเพิ่มเติมLuna menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah dan tubuhnya penuh dengan luka lebam. Bahkan sudut bibirnya masih ada darah, meninggalkan garis perih yang menusuk setiap kali ia mencoba mengatupkan mulut. Tubuhnya selalu dijadikan pelampiasan kemarahan sang suami.
Setiap kali pria itu marah entah karena urusan bisnis, masalah pribadi, atau sekadar suasana hati yang buruk, tubuh Luna selalu menjadi sasaran. Baginya, Luna hanyalah wadah untuk menampung segala amarah dan frustrasi. Segala sesuatu tentang Luna selalu tampak buruk di mata Arkana, suaminya. Menikahi pria yang ia kenal sejak kecil, pria yang dulu ia sebut sebagai sahabat kecil, ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Luna pernah percaya ia benar-benar mengenal pria itu, percaya bahwa pernikahan yang dijalani akan menjadi pelabuhan setelah badai panjang hidupnya bersama ibu tiri yang jahat. Namun kenyataannya tak seperti yang ia bayangkan. Arkana bukan pelabuhan terakhirnya, melainkan badai baru yang menghantam hidup Luna lebih dahsyat. Pria yang ia pacari selama lima tahun itu ternyata memiliki sisi kelam yang lebih tajam dari sembilu, lebih bengis dari ibu tiri yang ia benci. Belum lagi sang mertua yang seakan terlahir untuk merendahkan harga diri Luna hampir setiap melihatnya. Setiap kata dari bibir sang ibu mertua adalah jarum tajam, menusuk ke dalam jiwa Luna, menyebutnya sebagai perempuan mandul, beban, dan aib keluarga. Dan kini, masalah baru datang lagi. Bisnis Arkana yang bergerak di bidang tempat hiburan malam tengah di ujung kebangkrutan. Satu minggu terakhir, kabar buruk itu menjadi nyanyian yang memekakkan telinga. Orang kepercayaan Arkana kabur, membawa hampir semua uang perusahaan. Dan seperti biasa, pelampiasan kemarahan itu berakhir di tubuh Luna. Tanpa perasaan pria itu menjambak rambut Luna, mencengkeram, menampar, dan menginjak tubuh ringkih istrinya tanpa ampun. Tak ada belas kasihan sedikitpun. Tak pernah ada kata maaf yang terucap dari mulut pria itu karena sudah menyakiti istrinya lahir dan batin. “Lunaaaaaa!” Teriakan dari luar kamar membuyarkan lamunan Luna. Suaranya keras, nyaring, dan penuh perintah bagaikan cambuk yang memaksa Luna mengabaikan nyeri di sekujur tubuhnya. Ia menyeret langkah kakinya, memaksa kakinya untuk taat meski terasa berat seperti dipasangi beban besi. Luna mendekat, Arkana duduk di meja makan dengan tatapan yang dingin seperti baja. Di sebelahnya, Ibu Yuli menyeringai tipis, sorot matanya penuh penghakiman. “Iya, Mas… ada apa?” suara Luna lirih, nyaris tak terdengar. Tenaganya sudah habis, terkuras satu jam lalu saat tubuhnya menjadi samsak hidup bagi amarah suaminya ketika Luna menolak perintah pria itu. “Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus berhasil mendapat pinjaman itu dari Devan. Jadilah wanita yang berguna di rumah ini, bukan malah jadi beban keluarga terus-terusan,” ucap Arkana, datar namun jelas kalau dia tidak mau ada penolakan dari istrinya. Tak ada setitik pun penyesalan di matanya. Luka-luka di tubuh Luna bukan beban baginya, itu hanya noda yang tak layak mendapatkan perhatiannya. “Tapi, Mas—” ucapan Luna terpotong. “Dulu Papanya Arkana membiayai pengobatan ayahmu di rumah sakit. Bahkan kami menghabiskan miliaran rupiah untuk mendiang ayahmu. Sekarang sudah saatnya kamu membantu mengatasi masalah yang dialami suamimu. Kamu hanya disuruh meminjam pada tetangga kita yang kaya raya itu. Kalau usaha Arka sudah kembali seperti dulu, uang itu pasti akan dikembalikan utuh, bahkan lebih. Hanya pinjam, Luna,” sambar Ibu Yuli. Bukannya kasihan pada Luna, dia justru semakin memperkeruh keadaan. “Bu… uang dua miliar itu bukan uang yang sedikit. Mana mungkin Pak Devan mau percaya meminjamkan pada Luna? Harusnya Mas Arka yang meminjam, Bu,” jawab Luna, matanya mulai berkaca-kaca. “Lunaaaa!” bentak Arkana, suaranya menggelegar seperti petir di siang bolong. Dia paling benci mendapat penolakan dari istrinya. “Bisa nggak sih sekali saja kamu nurut pada suamimu ini, huh? Aku bilang kamu yang pinjam sama Devan!” Bentakan itu membuat dada Luna sesak seperti diremas tangan tak kasat mata, seolah ia hanyalah noda yang bisa dihapus kapan saja. Ia tahu tak ada ruang untuk membantah. Menentang Arkana berarti mengundang lebih banyak pukulan lagi di tubuhnya. Dengan napas yang berat, ia akhirnya mengangguk. Dia segera bersiap menuju ke kantor milik tetangganya. Luna pun menuju kantor Wijaya Group. Tepat pukul 09.00 pagi, Luna sudah tiba di kantor Wijaya Group milik Devan Wijaya. Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya Devan mau menemui Luna. Sekarang, Luna sedang duduk di depan meja kerja sang tetangga. “Mau pinjam uang berapa?” tanya Devan datar setelah tahu maksud kedatangan tetangganya ini. Devan pikir Luna akan meminta lowongan kerja, tapi ternyata dugaannya salah. “Du–dua miliar, Pak Devan,” jawab Luna terbata. “Dua miliar?” pekik Devan terkejut alisnya menukik tajam. “Sa–saya akan melakukan apa pun agar Bapak mau meminjamkan uang untuk suami saya.” kalimat itu terdengar sedikit memaksa. Devan berdecak, lalu dia kembali bertanya, “Uang 2 miliar itu sangat besar, Luna. Mau bayar pakai apa?” Luna terdiam. Dia menghapus jejak air matanya dengan punggung tangan. “Saya tidak berani meminjamkan suamimu uang sebesar itu,” ucap Devan. “Tolong saya, Pak Devan…” ujar Luna memohon. “Saya janji akan melakukan apapun agar Bapak mau meminjamkan uang pada saya,” sambung Luna. Matanya sudah basah. Hening beberapa saat. Namun mata Devan terus menatap ke arah tetangganya ini. Devan ingat kalau dulu ayahnya Arka pernah membantu perusahaan keluarga Devan. Sayangnya bukan Arka yang datang menemuinya. “Oke, tapi ada dua syarat yang harus kamu penuhi,” kata Devan setelah beberapa saat terdiam. Mendengar ucapan Devan, Luna mendongak menatap pria itu. “Ka–katakan, Pak… apa syaratnya?” Devan menatap Luna dingin. “Yang pertama, kamu harus menjadi sekretaris pribadi saya dan mematuhi semua aturan yang saya buat,” ucap Devan. “Sa–saya mau, Pak!” sambarnya cepat. Kalau hanya untuk menjadi sekretaris, dia siap bekerja sampai sang suami mengembalikan uang tetangganya ini. “Syarat kedua apa, Pak?” tanya Luna penasaran. “Tidur denganku… sampai hutang itu lunas.” Mata Luna melebar penuh, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.ครึ่งปีต่อมาแสงแดดของซิซิลียังคงเจิดจ้าแสบตาฉันสวมชุดเดรสยาวกำมะหยี่สีดำ ยืนอยู่หน้าป้ายหลุมศพใหม่ในสุสานของตระกูลบนป้ายไม่มีชื่อ มีเพียงตัวอักษรเล็ก ๆ สลักไว้แถวหนึ่ง:“แด่นางฟ้าตัวน้อยที่ไม่เคยได้พบหน้า”ฉันวางช่อกุหลาบขาวไว้หน้าป้าย ปลายนิ้วลูบไล้หินอ่อนเย็นเยียบรูโหว่ในใจไม่ได้สมานจนสนิท แต่เลือดหยุดไหลแล้วเวลาคือยาวิเศษเสียงฝีเท้าหนักแน่นดังมาจากด้านหลังไม่ต้องหันไปมอง ฉันก็รู้ว่าเป็นใครเสื้อสูทที่มีไออุ่นจากร่างกายคลุมลงบนไหล่ของฉัน“ลมแรงนะ”เสียงของเจ้าพ่อดังขึ้นเหนือศีรษะฉันกระชับเสื้อคลุม กลิ่นซิการ์และโคโลญจน์ที่เขาใช้ประจำทำให้รู้สึกอุ่นใจ“ข่าวจากเขตเหมืองแร่”เขายื่นเอกสารให้ฉันปึกหนึ่ง น้ำเสียงราบเรียบเหมือนกำลังพูดเรื่องดินฟ้าอากาศทั่วไปฉันเปิดเอกสารดูหน้าแรกเป็นรูปถ่ายใบหนึ่งสุยอวิ๋นสิงที่เคยองอาจอวดดี มองโลกไม่เห็นหัวใคร ตอนนี้ผอมจนหนังหุ้มกระดูกตัวเขาเต็มไปด้วยฝุ่นถ่านสีดำและแผลพุพอง กำลังคุกเข่าเลียรองเท้าผู้คุมเหมือนสุนัข เพื่อแลกกับขนมปังขึ้นราครึ่งก้อนแววตาขุ่นมัวเหม่อลอย ไม่เหลือเค้าโครงเดิมแม้แต่น้อยส่วนเจียงเนี่ยนเนี่ยนยิ่งน
คืนฝนตก ณ ร้านอาหาร ‘หลุยส์’ ในย่านบรูคลินรถลินคอล์นสีดำจอดเทียบที่หน้าประตูฉันกับเจ้าพ่อลงจากรถโดยไม่มีบอดี้การ์ดติดตามพอผลักประตูเข้าไป ร้านถูกเคลียร์คนออกจนหมด เหลือเพียงโต๊ะอาหารตัวเดียวที่มีหัวหน้าตระกูลศัตรู——มอเร็ตติกับผู้ติดตามหนึ่งคนนั่งอยู่เขากำลังยัดเนื้อวัวติดเลือดชิ้นโตเข้าปาก ท่าทางการกินดูตะกละตะกลามผู้ติดตามของมอเร็ตติเข้ามาขวางพวกเราไว้ "ขอความร่วมมือตรวจค้นร่างกายด้วยครับ"เจ้าพ่อกางแขนออก ปล่อยให้อีกฝ่ายตรวจค้นแต่โดยดีหลังจากยืนยันว่าไม่มีอะไรผิดปกติ บอดี้การ์ดก็หันมามองฉันมอเร็ตติเช็ดคราบมันที่มุมปาก ส่งเสียงหัวเราะน่ารังเกียจออกมา "สำหรับสุภาพสตรีท่านนี้ เดี๋ยวฉันค้นเอง"แววตาของเจ้าพ่อเย็นเยียบขึ้นทันที จังหวะที่กำลังจะลงมือ ฉันก็กดมือเขาไว้ฉันเดินหน้านิ่งเข้าไปหา ปล่อยให้มืออวบอ้วนของมอเร็ตติลูบคลำไปตามเสื้อโค้ทตัวนอกสายตาของเขาชวนให้อาเจียน แต่ฉันกลับมองเขาเหมือนมองศพไร้วิญญาณร่างหนึ่ง"เชิญนั่ง" มอเร็ตติค้นตัวเสร็จก็กลับไปนั่งที่เก้าอี้อย่างพึงพอใจพวกเราเองก็นั่งลงเช่นกันมอเร็ตติเป็นฝ่ายเริ่มบทสนทนาก่อน เนื้อหาไม่มีอะไรมากไปกว่าต้องการเ
ฉันหันกลับไปมองทหารสองนายที่ยืนรอคำสั่งอยู่หน้าประตู——พวกเขาคือผู้เชี่ยวชาญที่รับผิดชอบเรื่องการกำจัด ‘ขยะ’ ของตระกูลโดยเฉพาะ บนใบหน้าสวมหน้ากากสีดำ ในมือหิ้วกล่องเครื่องมือหนักอึ้ง“ส่งพวกเขาไปที่เหมืองกำมะถันทางตอนใต้ของซิซิลี”พอได้ยินคำว่า ‘เหมืองกำมะถัน’ สุยอวิ๋นสิงและเจียงเนี่ยนเนี่ยนต่างก็สูดหายใจเข้าเฮือกใหญ่ด้วยความหวาดกลัวคนงานเหมืองที่นั่นส่วนใหญ่เป็นสมาชิกแก๊งมาเฟียที่ทำความผิดร้ายแรง หรือไม่ก็นักพนันที่ไม่มีปัญญาใช้หนี้ที่นั่นคือนรกบนดินของจริง ทั้งความร้อนระอุ แก๊สพิษ และการใช้แรงงานเยี่ยงทาสทั้งวันทั้งคืนอย่างไม่มีที่สิ้นสุด“ไม่! เจียงซาน! เธอทำกับฉันแบบนี้ไม่ได้นะ! ฉันเป็นสามีของเธอนะ!” สุยอวิ๋นสิงร้องไห้คร่ำครวญอย่างสิ้นหวัง“อดีตสามีต่างหาก” ฉันพูดแก้ “อีกอย่าง ในเมื่อคุณเจียงเนี่ยนเนี่ยนชอบเล่นละครนัก ก็ให้เธอไปแสดงละครให้พวกคนงานเหมืองดูเถอะ ฉันเชื่อว่าคนงานพวกนั้นคงยินดีมากที่มีผู้หญิงสวย ๆ แบบเธอไปแสดงให้ดูทุกวัน”“ไม่!” เสียงกรีดร้องของเจียงเนี่ยนเนี่ยนโหยหวนบาดหู เธอกระแทกกรงเหล็กอย่างบ้าคลั่ง “พวกแกทำกับฉันแบบนี้ไม่ได้นะ! ตระกูลของฉันต้องส่งคนมาช่วยฉั
อากาศภายในห้องใต้ดินขุ่นมัว เต็มไปด้วยกลิ่นสนิม เชื้อรา และกลิ่นคาวหวานที่ชวนให้อาเจียน“ไม่...เป็นไปไม่ได้!” เจียงเนี่ยนเนี่ยนกรีดร้อง นิ้วมือจิกเกาะลูกกรงเหล็กแน่นจนเล็บฉีกขาดก็ยังไม่รู้สึกตัว “ฉันถูกใส่ร้ายนะ! นังสารเลวอันนาโกหก! หล่อนอิจฉาฉัน! เจียงซาน เธอห้ามเชื่อคำพูดของคนบ้านะ!”ฉันยืนอยู่นอกกรงเหล็ก สวมเสื้อโค้ทแคชเมียร์สีดำหนาหนักที่เจ้าพ่อให้คนนำมาให้เป็นพิเศษ เพื่อกันความหนาวเย็นในห้องใต้ดินฉันมองดูเจียงเนี่ยนเนี่ยน ราวกับกำลังมองดูหนูที่ดิ้นรนเฮือกสุดท้ายอยู่บนกับดัก“อันนาจะเป็นบ้าหรือไม่ ในบันทึกการสอบสวนเขียนไว้ชัดเจนแล้ว”ฉันล้วงเอกสารปึกหนึ่งที่มีรอยเลือดติดอยู่ออกมาจากกระเป๋าเสื้อโค้ท แล้วโยนเข้าไปในกรงเหล็กกระดาษกระจายเกลื่อนแทบเท้าของเจียงเนี่ยนเนี่ยน บนนั้นบันทึกประวัติการโทรและการทำธุรกรรมทางการเงินระหว่างเธอกับตระกูลศัตรูไว้อย่างละเอียดยิบ“เธอคิดว่าลบประวัติในมือถือแล้วทุกอย่างจะจบหรือไง เครือข่ายการสื่อสารของซิซิลีอยู่ภายใต้การจับตามองของตระกูลมาตลอด ที่ก่อนหน้านี้ไม่มีใครตรวจสอบเธอ เพราะเธอเป็นแค่คนไร้ตัวตนที่ไม่มีใครสนใจ แต่พอคิดจะตรวจสอบขึ้นมา แม้แต






ความคิดเห็น