เข้าสู่ระบบ私の娘、四季(しき)は誕生日パーティーで、ロウソクに向かってドイツ語で願いごとをする。 「今年こそ秋子さんがママになるように」 私の夫、岩村遥輝(いわむら はるき)が笑いながら彼女の頭を撫でる。 「もうすぐ叶うよ」 私はその場で固まってしまい、手にしていたケーキが床に落ちる。 遥輝が心配そうに言う。「どうした?」 私は慌てて首を振り、笑って答える。「手が滑っただけよ」 でも、本当の理由は自分だけがわかっている。ドイツ語が理解できて、思わず動揺したからだ。
ดูเพิ่มเติม"Erika!"
Suara teriakan yang menggema terdengar di sebuah ruangan tamu. Trinita melangkah masuk dengan amarah yang terpancar pada wajahnya.
Matanya memindai keadaan sekitar, lalu mendengus saat tak melihat keberadaan sang menantu yang paling dia benci.
"Erika! Kau ada di mana?!"
Sekali lagi teriakan itu terdengar, dan kali ini Erika yang sedang menggendong Kayla, putrinya datang tergopoh-gopoh. Keringat pun bercucuran dari pelipisnya.
"Ada apa, Bu?" tanya Erika dengan napas tersengal.
"Dasar pemalas. Mentang-mentang Gerry nggak ada di sini, kerjamu hanya tidur saja!" teriak Trinita dengan suara menggelegar.
Kayla yang baru saja terlelap, otomatis menangis karena kencangnya suara sang nenek. Dan Erika segera menenangkan putrinya yang baru berusia 6 bulan itu.
"Cepat tenangkan tangisan anak itu. Kepalaku pusing mendengarnya!" bentak Trinita sembari menutup kedua telinganya.
"Tapi Kayla demam semalam dan baru turun panasnya jam tiga subuh, Bu," ucap Erika memberikan pembelaan.
Namun bukannya tersentuh, Trinita malah menatap Erika dengan sinis. "Dasar anak dan ibu sama saja. Sama-sama menyusahkan!"
"Bu, jangan bicara seperti itu! Kayla menangis karena terkejut dengan suara teriakan Ibu," sahut Erika.
"Diam kau. Beraninya kau membantahku! Memangnya kau pikir, kau ini siapa?! Nanti akan kuadukan kelakuanmu pada Gerry, biar dia tahu cara mengajar istri yang tak becus mengurus rumah!" hardik Trinita.
Erika hanya dapat menghela napas panjang, selama ini dia mencoba sabar dengan perlakuan buruk yang dilakukan oleh sang mertua. Tapi ternyata sikap Trinita kepada dirinya malah semakin menjadi.
"Jadi aku harus diam saja, saat Ibu membuat Kayla menangis karena terkejut dengan teriakan Ibu," sahut Erika yang tetap berusaha mempertahankan intonasi suaranya.
"Kau ini ...."
Belum sempat Trinita melanjutkan perkataannya, ponselnya berdering. Wanita itu mengambil benda pipih itu dan berjalan keluar dari rumah.
Melihat sang mertua yang meninggalkan rumahnya, membuat Erika dapat bernapas lega. Dia menidurkan Kayla yang sudah tenang di boks bayi yang ada di ruang keluarga.
"Syukurlah Ibu hanya sebentar di sini," ucap Erika yang kini menuju dapur.
Kepalanya yang sakit memaksa Erika untuk mengisi perut dan meminum paracetamol. 30 menit kemudian, rasa nyeri pada kepalanya perlahan menghilang, tapi berganti dengan rasa cemas yang tidak Erika tahu apa penyebabnya.
Suara tangis Kayla membuat Erika yang sedang melipat baju langsung melompat, dia menghela napas lega saat mengetahui jika popok sang putri sudah penuh. Bukannya demam seperti semalam. Demam akibat efek imunisasi kemarin pagi. Dia lantas memandikan Kayla sebelum menyuapi putrinya bubur MPASI.
Namun lagi-lagi ketenangannya harus terganggu karena ponselnya berdering, dengan langkah berat Erika mengambil benda pipih yang tergeletak pada meja TV.
Dahinya mengerut saat mendapati pesan gambar dari nomor yang tak dia kenal. Merasa penasaran dengan isi dari gambar itu, membuat Erika membuka ruang obrolan.
Beberapa detik kemudian, matanya terbelalak saat melihat foto seorang wanita setengah bugil. Dan yang lebih membuatnya terkejut, foto wanita itu adalah dirinya.
Tangan Erika seketika bergetar, dia tidak pernah berfoto se-vulgar ini, tapi foto yang ada di dalam ponselnya tidak dapat dia bantah. Meskipun dia tahu jika foto itu jelas adalah editan semata.
Selang beberapa saat kemudian, sebuah pesan kembali masuk, kali ini pesan teks biasa, namun bernada penuh ancaman.
'Erika. Bagaimana dengan hadiah yang kukirimkan? Apa kau menikmatinya? Aku tidak sabar menunggu reaksi orang-orang saat melihatnya.'
Tangan Erika bergetar karena menahan amarah, sudah jelas kalau orang yang mengirimkan pesan dan gambar ini memiliki dendam pribadi, atau bahkan ingin menghancurkan rumah tangganya.
Erika pun mengetik balasan pesan untuk pengirim pesan misterius itu.
'Siapa ini? Jangan bermain-main denganku!'
Tak menunggu lama, balasan pun dia terima.
'Siapa aku itu tidak penting, Erika. Yang aku inginkan adalah kehancuran dirimu. Aku mengirim pesan untuk memperingatkanmu untuk bersiap-siap keluar dari kehidupan Gerry.'
Erika hanya dapat menatap nanar layar ponselnya yang menampilkan percakapan pesan dirinya dan orang misterius itu. Dia pun memutuskan untuk mengabaikan orang yang menurutnya kurang kerjaan itu.
Karena masih merasa pusing, membuat Erika merebahkan tubuh pada sofa ruang tamu. Berdekatan dengan boks bayi di mana Kayla kembali tertidur lelap.
Suara pintu pagar yang dibanting keras, membangunkan Erika, disusul dengan langkah sepatu hak tinggi menghentak lantai ruang tamu.
"Erika!!"
Trinita kembali. Wajahnya merah padam, napasnya memburu seperti baru saja berlari dari neraka.
Erika lagi-lagi merasakan kepalanya berdenyut akibat terbangun secara paksa.
“Ibu ... ada apa lagi Ibu berteriak? Lihat Kayla kembali kaget karena teriakan Ibu," tanya Erika dengan suara bergetar.
"Kau benar-benar perempuan tak tahu malu!!" Trinita langsung mengangkat ponselnya dan memperlihatkan layar galeri.
Gambar yang terpampang di sana adalah foto Erika. Foto setengah telanjang, dengan ekspresi yang menggoda.
Erika tercekat. Napasnya tertahan. Ini ... foto itu lagi. Ternyata orang misterius itu sudah mengirim foto itu kepada mertuanya.
"Semua keluarga besar sudah melihat foto menjijikan ini! Aku malu memiliki menantu murahan seperti dirimu!" teriak Trinita.
Erika menggelengkan kepala. “Bukan aku, Bu … wanita dalam foto itu bukan aku … itu hanya editan. Aku ... aku tidak tahu siapa yang—”
Plaaak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Erika. Tubuhnya terdorong ke dinding.
Sementara Kayla kembali menangis kencang saat mendengar keributan yang tak kunjung mereda.
“Selama ini aku sudah cukup sabar. Sudah cukup aku diamkan kelakuanmu yang malas, lusuh, dan cuma bisa ngabisin uang anakku! Sekarang kau malah mempermalukan keluarga ini. Sungguh menyesal aku mengizinkan Gerry menikah denganmu!" Trinita mencecar Erika tanpa ampun.
“Bu, jangan, tolong ....”
Erika bersandar ke dinding, tangan kirinya memegangi pipinya yang terasa perih dan panas.
"Kau ini memang wanita murahan. Baru tiga bulan Gerry berangkat ke luar negeri, kamu sudah buka-bukaan! Jujur saja apa sudah jadi kamu tidur dengan pria lain!" Tuding Trinita yang membuat Erika merasakan hatinya nyeri.
“Aku ... tidak pernah melakukan hal yang Ibu tuduhkan itu," ucap Erika membela diri.
“Kau kira aku bodoh?! Seorang wanita yang ditinggal suami bekerja di tempat yang jauh, pasti tidak akan bisa menahan hasratnya. Cepat mengaku saja kalau kau berselingkuh." Tuding Trinita sembari mengacungkan telunjuknya ke arah sang menantu.
Erika hanya terisak pelan, dia segera menggendong Kayla yang semakin menangis histeris. Sang putri tampak ketakutan, terlihat dari tubuhnya yang sedikit gemetar. Dia memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi buruk.
Namun sayangnya, itu hanya harapan kosong. Trinita kembali berteriak dan mengeluarkan segala caci maki dan umpatan kepada dirinya.
"Dasar wanita pembawa sial! Cepat mati saja kau kalau kerjamu hanya membuat malu nama keluarga ini!"
Segala kesabaran Erika akhirnya luluh lantak, air mata mengucur deras dan memburamkan pandangan matanya.
Erika berdiri di tengah ruangan dengan tubuh bergetar. Tangannya erat menggenggam tubuh kecil Kayla yang menangis tanpa henti, matanya yang sembab menatap sosok wanita di depannya.
Wanita yang seharusnya memiliki posisi yang sama dengan ibu kandungnya. Kini tidak hanya terlihat kejam, tetapi juga menjelma menjadi sosok yang benar-benar mengancam kewarasannya.
"Cukup, Bu. Jangan berteriak lagi, kasihan Kayla." Suara Erika terdengar pelan, namun mengandung keberanian di dalamnya.
"Kau berani melawanku sekarang?!" sahut Trinita dengan nada suara meninggi.
Erika menarik napas dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh. Air matanya masih menetes, tetapi kali ini bukan karena takut, melainkan keteguhan.
“Ibu ...,” suaranya bergetar sedikit, “aku tidak akan diam jika terus-terusan diperlakukan seperti ini. Aku ini ibu dari cucu Ibu."
Trinita yang terpancing emosinya, melayangkan tangan siap untuk kembali menampar Erika. Namun terdengar sebuah suara yang menggelegar.
"Berhenti!"
遥輝が正式に離婚を突きつけられたのは、国に戻ってからだった。彼らが帰国した瞬間、玄関先で私が事前に送っておいたお届け物を受け取った。それを見る四季は、跳ねるように喜ぶ。「やった!本当にママを替えられるんだ!」だが、遥輝は顔色を曇らせ、手にした書類を今にも引き裂きそうになる。「なぜだ……どうして離婚が成立してるんだ!それにお前だ!なぜわざわざ怜奈の前で挑発する!」名指しされた秋子は一瞬怯えたものの、すぐに強がりの声を返す。「ただ真実を伝えただけよ!何が悪いの?あんたこそ、彼女と別れたかったんじゃん!」その瞬間、遥輝は彼女の荷物を掴んで外に放り投げる。「出て行け!」四季は呆然とし、慌てて遥輝に縋りつく。「どうしてママを追い出すの?これって私たちの望みじゃなかったの?」だが、遥輝は後悔する。あの日、四季の誕生日にその願いを承諾したことを。私にまで聞かせてしまったことを。彼は四季を見据え、冷ややかに言う。「じゃあ、あなたも一緒に行け」四季は呆然とする。「え、なんで、パパ……」秋子も立ち尽くして目を赤くする。「最初にあたしを誘ったのはあなたでしょ。妻なんてうんざりだって、あたしと結婚したいって……」「黙れ!」遥輝はもう聞きたくなく、目を閉じる。「僕は後悔してる。愛してるのは怜奈だけだ。お前なんか、出て行け!」堰を切ったように、秋子の涙が頬を伝う。四季は慌てて取りなそうと手を伸ばすが、彼女に突き飛ばされる。「どいて!」四季は地面に倒れ込む。「ママ……」「ママなんて呼ぶな!お前の父に取り入るために仕方なく相手してただけよ!本当は誰が好きであんたの相手なんかするもんだか!」怒鳴り捨てると、秋子は荷物を掴み、そのまま家を飛び出して行く。四季は目が完全に涙で濡れ、かすれる声で問う。「じゃあ……私のママは?私にはもうママいないの?」遥輝はその場に立ち尽くし、書類を開ける勇気が出ない。彼はもう、妻を失うのだ。その後、彼は一気に転落していく。会社は傾き、株は暴落し、最後に破産してしまう。四季は私の心遣いを失い、ろくに食べられず、夜も眠れない。苛立ちと絶望の果てに、遥輝はぼんやりして四季の首を絞めかける。気づく時には、四季は意識を失いかけて
私はもう遥輝と関わることなんて二度とないと思っていた。けれど、ドイツは国内と異なり、たった二日で再会してしまった。しかも皮肉なことに、彼も仕事で来た様子じゃないし、私もそう見えない。私は堂々とドイツ語で声をかける。「こんにちは」その瞬間、遥輝は立ち尽くす。「君、ドイツ語話せたのか?」私が答える前に、母も彼に声をかける。「このクソガキ、私だって話せるわよ」母親があまりに直球で、私は思わず吹き出してしまう。遥輝の顔色がどんどん青ざめていく。きっと思い出したんだろう、私がドイツ育ちだってことを。「君、何を知ってる?」私は淡々と、あの誕生日に耳にした会話をなぞるように話す。遥輝は動揺し、すぐに口を開く。「ただの冗談だって……」私は冷笑し、秋子とのチャット記録を突きつける。「じゃあこれは?全部冗談?」遥輝は慌てて私のスマホを受け取る。その顔は死んだように青ざめ、足元が崩れそうになり、スマホを落としかける。彼は頭を垂れ、低い声で呟く。「ごめん……」私はただおかしくて、冷笑した。「どうするの?私に許してほしい?」彼が近寄って私の手を掴んで言い訳しようとする。だが父が駆けつけて、思い切り彼を蹴り飛ばす。「この野郎!うちの娘に近づくな!」ジムで鍛え続けた父の蹴りに、遥輝は地面に叩きつけられ、しばらく立ち上がれない。ようやくよろめきながら起き上がろうとするも、咳き込みながら涙を流している。「聞いてくれよ、秋子とのことは、本当にただの出来心で……」私は聞きたくもなく、近づいて思い切り平手打ちする。「忘れたの?私が一番嫌いなのは嘘だよ。なのにあんたたちは平気で私の目の前で芝居して、問い詰めても認めず、私をバカにしてきた。今さら言い訳?消えろ!」私は立ち上がり、両親を連れてその場を離れる。タクシーに乗り込もうとするとき、遥輝が必死に追いすがってくる。「せめて……せめて連絡先だけでも!四季は?四季のことも捨てるつもりか!」彼が窓に縋りつく瞬間、父が力ずくで引き剥がし、冷たく警告する。「二度とうちの娘に近づくな。次やったらただじゃ済まさんぞ」私は座るまま、静かに前を見据える。「言ったでしょ。四季にプレゼントをあげるって。ママを取り替えたいって
その日、遥輝は昔みたいな姿を取り戻した。そして彼と秋子のドイツ旅行も、予定通り進んでいる。遥輝は「僕も出張だ」なんて言い訳をして、四季はわざとらしく「パパと一緒がいい」なんて言った。すごいね、みんなは嘘の出張をする。私も出張する。ただ、私が大事な荷物を全部持ち出すのを見る瞬間、遥輝の呼吸が止まる。「怜奈……それ、持って行かなくてもいいんじゃないのか?」私は振り返らずに荷物をまとめる。「いるものだから」遥輝はじっと私を見て、何か探るように視線を外さない。私は彼に安心させるために、笑って振り返る。「別に帰ってこないわけじゃないでしょ。あなたへのプレゼントも用意してあるし。一週間後に届くから、楽しみにしててね!」遥輝の目が一気に輝き、横で聞いている四季もすぐに割り込んでくる。「ママ!私のは?」私は笑って四季の頭を撫でる。「もちろん、四季の分もあるよ」ただ、本当は少しだけ残念だ。二人が真実を知る時の顔を、この目で見られないのが。きっと最高に面白いのに。夜、ベッドに入ると、遥輝が後ろから私を強く抱きしめ、不安げに呟く。「怜奈……本当に、僕に隠してることはないんだよな?」一瞬、バレたのかと心臓がドキドキする。けれど彼はただ私の背中に顔を埋め、低い声を漏らす。「なんでだろ……すごく不安なんだ」私はそっと安心して、彼を抱き返す。「考えすぎだって。多分ね、あなたも四季も、私と長く離れるのが初めてだから、慣れないだけ」遥輝はただ「うん」と呟く。彼に安心させるために、眠りに落ちるまで私はずっと背中をさすってあげる。窓の外のかすかな灯りに照らされながら、私は目の前の男をじっと見つめる。大学、結婚、そして四季が五歳になるまで。その目は、昔よりもずっと深くなる。その瞳も優しげに見える。もし今回の事件がなければ、私もそれに気づかないかもしれない。実は優しさなんか嘘で、薄情こそ本性だ。私が一番嫌うのは嘘だ。なのに彼らが一番得意なのは、私を騙すこと。翌朝、遥輝は私より先に空港へ行く。彼の視点では、私が出張するのは明日のはずだ。四季はとても嬉しくて、朝からずっと私とおしゃべりする。一言一言に、旅行を心待ちにしている気持ちがあふれている。私は笑いながら黙って
ドイツへ行くまで、あと三日。遥輝は起きた後、酔いで昨夜のことをほとんど覚えていないみたいで、起きるなり私の肩に寄りかかって「夜もまた……」なんて呟いてくる。私は思わず、その場で吐き気がする。胃の中がひっくり返るみたいに、目の前がくらくらする。まさか自分がここまで拒否反応を示すなんて思ってもない。ちょっと触れられるだけでも耐えられないほどに。遥輝は一気に酔いが覚めるのか、私の背中をさする。「怜奈、どうしたんだ?どこか具合悪い?」私はとっさに嘘をつく。「お腹が、ちょっと痛くて……」遥輝の表情が一瞬で強張り、すぐに服を着て私を病院へ連れて行こうとする。ちょうど出かけるとき、四季が起きる。彼女は一瞬きょとんとして、それから小走りで駆け寄ってくる。「ママ、どうしたの?」私は何も言わなく、代わりに遥輝が答える。すると四季は「私も病院行く!」と駄々をこねる。昔なら、そんな娘を見て素直に感動していただろう。優しくて、気が利いて、なんていい子なんだろうって。でも今は、心のどこかで思ってしまう。この子の胸の奥に、また一つ私への恨みが積み重なったんじゃないかって。眉をひそめて車に乗り込むと、四季は私のお腹を気遣うようにそっと撫でてくれる。ハンドルを握る遥輝は、信号を三つも無視して病院へ飛ばして、医者を呼んで私を診察させる。主治医の診察室の前に着くとき、私はそこに見覚えのある顔を見る。四季の目が一瞬で輝きを帯びる。ドアに掛かっているネームプレートを見て、やっぱりと思う。秋子だ。だから、四季は誕生日の夜に病院へ行きたがったんだ。秋子がいるから。ドアが開く瞬間、秋子の瞳孔が大きくなり、けれど遥輝は気づかず、私を支えながら言う。「先生、妻のお腹を診てもらえますか。胃腸の問題じゃなさそうで……」秋子は呆然として固まっている。それでも遥輝はさらに問いかける。「先生、どうしましたの?」バレたくないじゃないと、マジで彼に拍手送りたいくらいだ。これだけの演技力、映画賞も取れる。秋子は深く息を吸い、医者としての職業意識を取り戻したかのように私を診察した。それから理由をつけて私を一人だけオフィスに残す。「……おめでとう。妊娠してるわ」そう言って、彼女は検査結果を私の目の前に投
ความคิดเห็น