"Jangan khawatir soal masalah pernikahan, kami yang akan urus persiapannya. Kamu cuma perlu kembali tepat waktu. Orang yang kami pilihkan buat kamu sudah diseleksi dengan cermat oleh aku, Ayah, dan Ibu. Latar belakang keluarga, kepribadian, dan penampilannya sempurna. Dia pasti sesuai seleramu."
"Oh iya. Kali ini, kamu kan balik buat nikah. Jangan lupa gantikan aku untuk undang sahabat lamaku, si Nicholas. Waktu kamu bersikeras mau kuliah di Kota Jabura dulu, kamu kan juga sempat tinggal di rumahnya untuk sementara. Waktu itu, dia juga menjagamu dengan sangat baik. Jadi, ingat mau undang dia ke pernikahanmu."
Fiona tidak tahu harus bagaimana menanggapi hal itu. Setelah terdiam cukup lama, dia akhirnya menjawab dengan suara pelan, "Dia nggak bisa hadir."
Baru saja Fiona menjawab, pintu rumah sudah dibuka. Dia segera menutup telepon dan menatap Nicholas Winata yang baru saja pulang. Pria itu mengangkat sebelah alisnya. Di wajahnya yang memancarkan aura bad boy, tersungging senyum penuh percaya diri.
"Aku nggak bisa hadir? Nggak bisa hadir di mana?"
'Pernikahanku,' jawab Fiona dalam hati. Namun, ekspresinya tetap tenang saat menjawab, "Nggak usah dipikirkan."
Nicholas juga tidak memasukkannya ke hati. Dia dengan santai membuka kancing kemeja hitamnya sambil bertanya, "Tadi kamu lagi teleponan sama kakakmu?"
Fiona mengiakan sambil bangkit untuk kembali ke kamarnya. Namun, Nicholas menarik tangannya dan mendekapnya. Embusan napas hangat pria itu menyentuh telinganya, menciptakan suasana intim di antara mereka.
"Jadi, apa kamu sudah kasih tahu dia hubungan kita?"
Fiona tersenyum, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Bukannya kamu nggak mau dia tahu?"
"Bukannya nggak mau, tapi nggak bisa. Mengingat sifat kakakmu, kalau tahu sahabatnya dan adik kesayangannya pacaran, dia pasti akan langsung terbang ke Kota Jabura dan menghajarku sampai aku nggak bisa bangun dari tempat tidur."
Mendengar nadanya yang penuh gurauan, sorot mata Fiona sedikit bergetar. Dia bertanya dengan nada yang tetap tenang, "Jadi, di hatimu, apa aku ini pacarmu?"
Mendengar pertanyaan mendadak itu, Nicholas mengangkat alisnya. "Kalau kamu bukan pacarku, apa aku akan tinggal bersamamu selama enam tahun? Kalau kamu bukan pacarku, apa aku akan langsung peluk kamu begitu aku pulang? Kalau kamu bukan pacarku, apa aku akan melakukan ini padamu?"
Sambil berbicara, bibir hangat Nicholas menyentuh leher Fiona dan membuat tubuhnya seketika menegang. Dia segera memalingkan wajah untuk menghindari ciuman itu. "Aku ... aku lagi nggak enak badan hari ini."
Nicholas mengira Fiona hanya sedang malu. Dia pun tak kuasa menahan tawa. "Sayang, kita sudah bersama begitu lama. Kenapa kamu masih begitu malu?"
Seusai berbicara, Nicholas mengelus kepala Fiona, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Mendengar suara langkah kaki yang perlahan menjauh, Fiona bergumam pelan, "Pacar? Bukankah seharusnya ... cuma pengganti?"
Fiona pertama kali bertemu Nicholas pada delapan tahun yang lalu. Dia dan Francis adalah teman sekamar saat kuliah. Berhubung mereka sangat akrab, Francis sering mengajaknya pulang ke rumah untuk bermain video game bersama.
Saat pertama kali mengenal cinta di masa remaja, hampir pada pandangan pertama, Fiona jatuh hati pada sosok kakak yang terlihat dingin, santai, dan begitu tampan hingga membuat jantungnya berdegup kencang.
Kemudian, Fiona lulus SMA, sedangkan Nicholas juga lulus kuliah dan kembali ke kampung halamannya, Kota Jabura. Berhubung tidak dapat melupakan Nicholas, meskipun ditentang keluarganya, dia diam-diam mendaftar ke universitas di kota tempat Nicholas tinggal.
Fiona memiliki paras yang sangat cantik. Jadi, dia sering diganggu oleh para pemuda nakal sejak masa SMA. Berhubung khawatir Fiona tinggal sendirian di kota asing, Francis menitipkannya kepada Nicholas, bahkan mengatur agar Fiona tinggal di apartemen Nicholas.
Awalnya, interaksi di antara mereka sangat minim. Fiona sibuk dengan kuliahnya, sedangkan Nicholas sibuk dengan dunia balap dan bergonta-ganti pacar. Pria itu berganti pasangan hampir setiap tiga hari sekali.
Situasinya baru berubah pada semester kedua tahun pertama kuliah Fiona. Saat itu, Nicholas pulang dalam keadaan mabuk berat. Jadi, Fiona merawatnya dengan kewalahan.
Malam sudah larut. Saat menatap pria yang sepertinya sudah tertidur lelap di sofa, Fiona tiba-tiba merasakan dorongan yang tak bisa dijelaskan untuk menghaluskan kerutan di antara alis pria itu. Tepat saat tangannya menyentuh dahi Nicholas, sepasang mata yang tadinya terpejam rapat itu tiba-tiba terbuka.
Nicholas membuka kelopak matanya dengan malas. Suaranya terdengar rendah, memikat, dan santai. "Kamu suka sama aku?"
Fiona yang rahasianya terbongkar sontak bangkit sambil menjawab, "Ng ... nggak."
Pria itu tersenyum santai. "Kalau nggak, kenapa wajahmu selalu memerah setiap kali melihat Kakak?"
Fiona tidak menyangka bahwa Nicholas ternyata menyadari setiap lirikan yang diam-diam dilemparkannya. Saat dia makin panik, pria itu tersenyum, menangkup belakang kepalanya, lalu mencondongkan tubuh untuk mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. Dia benar-benar terhanyut, tak mampu melepaskan diri dari ciuman yang lembut dan penuh perasaan itu.
Setelah malam penuh gairah itu, kehidupan Fiona yang semula tenang berubah total. Nicholas yang sebelumnya hidup layaknya playboy tanpa beban, terlihat mulai serius menjalani hidup dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada hubungan mereka.
Fiona juga berulang kali menolak desakan keluarganya untuk pulang dan menerima perjodohan yang diaturkan untuknya. Dia bersikeras tetap tinggal di Kota Jabura agar bisa berada di sisi Nicholas.
Kakaknya sering bertanya, "Siapa sebenarnya yang ada di Kota Jabura? Sampai-sampai kamu betah hidup di sana selama enam tahun, tanpa pernah pulang sekali pun?"
Berkali-kali, Fiona ingin mengungkapkan kebenaran tentang hubungannya dengan Nicholas. Dia ingin memberi tahu semua orang bahwa dia sedang berpacaran dengan sahabat kakaknya. Namun, Nicholas selalu mencegahnya dan dia tak pernah tahu alasannya.
Sampai beberapa hari yang lalu, Nicholas mabuk berat di sebuah acara kumpul-kumpul. Saat Fiona datang menjemputnya, salah satu teman Nicholas yang juga sudah mabuk menunjuk ke arahnya sambil berkata dengan nada prihatin, "Kenapa Nico juga tega hancurkan hidup gadis secantik kamu?"
"Dik, dengar baik-baik. Jangan sampai kamu jatuh cinta sama Nico. Dia nggak punya hati. Kamu dan semua mantannya dulu cuma pengganti Brenda."
Itu adalah pertama kalinya Fiona mendengar nama Brenda. Sejak saat itu, dia tidak pernah bisa melupakannya. Setelah mencari tahu lebih lanjut, dia akhirnya mengetahui kebenarannya.
Nicholas dan Brenda adalah cinta pertama satu sama lain. Di masa Nicholas paling mencintainya, Brenda memutuskan hubungan mereka dan dengan tegas memilih pindah ke luar negeri. Berhubung tidak mampu melupakan masa lalu, dia pun menjalani hidup sebagai playboy yang terus bergonta-ganti pacar.
Setiap pacar Nicholas juga selalu memiliki kemiripan dengan Brenda, termasuk Fiona. Keputusannya untuk tidak meneruskan bisnis keluarga setelah lulus, malah bersikeras menjadi pembalap mobil, berawal dari ucapan Brenda di masa muda mereka.
"Pria yang balapan mobil itu keren banget. Calon suamiku nanti haruslah seorang pembalap."
Ternyata, enam tahun masa muda dan ketulusannya hanyalah mimpi semu. Saat itulah, Fiona memutuskan untuk pulang dan menerima perjodohan. Dia tidak menginginkan Nicholas lagi, juga tidak akan mencintai pria itu lagi.
reviews