'도SS'의 퍼펙트 배터리(The SS-Class Perfect Battery)

'도SS'의 퍼펙트 배터리(The SS-Class Perfect Battery)

last updateHuling Na-update : 2026-06-30
By:  silver구슬Kumpleto
Language: Korean
goodnovel18goodnovel
10
3 Mga Ratings. 3 Rebyu
130Mga Kabanata
2.9Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

너만을 위한 배터리가 되기 위해 회귀했다. 도S 천재 투수 유환을 사랑하는 도S 천재 포수 장하늘. 과연 우린 그라운드에서도 침대에서도 환상의 배터리가 될 수 있을까? --------------------- *이 작품은 본 작가가 [주은찬] 필명으로 출간한 [환장의 퍼펙트 배터리]의 스핀오프 작품입니다. *Image by whif.io(위프 플랫폼 제공/캐릭터 상품화 계약 완료)

view more

Kabanata 1

#1. 프롤로그 [빗속의 폭군]

Di sudut kota Makassar, dalam sebuah rumah tua yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun, hidup dua pemuda bersaudara, Aaron dan ILHAM. Rumah itu, terletak di kawasan Tamalate yang dikenal angker oleh penduduk sekitar, menjadi tempat mereka berteduh sejak kecil. Sejak orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan misterius, Aaron dan ILHAM memutuskan untuk mempelajari ilmu supranatural guna melindungi diri dan membantu sesama.

Malam itu, angin bertiup kencang, memecah keheningan malam di rumah tua itu. Aaron, yang berusia lebih tua, duduk bersila di ruang tengah yang diterangi oleh cahaya temaram dari lilin yang menyala di sudut ruangan. Di hadapannya, terbuka kitab kuno yang ditulis dalam aksara Jawa. ILHAM, adik bungsunya, duduk di sebelahnya, menatap kakaknya dengan penuh keseriusan.

"Kak, apa benar kita bisa menggunakan ilmu ini untuk menolong orang?" tanya ILHAM, suaranya sedikit bergetar. Aaron mengangguk, matanya masih terpaku pada kitab di depannya.

"Ilmu ini adalah warisan leluhur kita. Bukan untuk menyakiti, tapi untuk melindungi. Namun, kita harus selalu ingat untuk menggunakan bacaan Islami sebagai perlindungan. Guru kita sudah mengajarkan itu," jawab Aaron dengan nada tenang.

ILHAM menatap kakaknya, merasa sedikit lega. Sejak mereka memulai perjalanan ini, banyak hal aneh yang mereka alami. Namun, ILHAM percaya pada kakaknya dan pada ilmu yang mereka pelajari dari guru mereka, seorang ulama dan ahli spiritual dari sebuah pesantren di Maros.

Malam semakin larut, dan suara burung hantu yang melengking terdengar dari kejauhan. Aaron menutup kitabnya dan berdiri. "ILHAM, sudah saatnya kita melakukan doa malam. Mari kita persiapkan diri," katanya sambil berjalan menuju sebuah ruangan kecil di ujung rumah yang mereka jadikan tempat ibadah.

Mereka berdua mengambil air wudhu dan mulai melafalkan doa-doa, diiringi dengan dzikir. Suasana yang semula tenang tiba-tiba berubah mencekam ketika angin bertiup lebih kencang, dan pintu ruangan berderit pelan, seperti ada sesuatu yang berusaha masuk.

Aaron dan ILHAM segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. ILHAM bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti ruangan itu. "Kak, kamu merasakan ini?" tanyanya dengan suara rendah.

Aaron mengangguk, matanya waspada. "Tetap tenang. Jangan biarkan rasa takut menguasai dirimu," bisiknya sambil melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lorong depan. Aaron segera menoleh, matanya menyipit menatap kegelapan di luar pintu ruangan. "Siapa di sana?" teriaknya, namun hanya keheningan yang menjawab.

ILHAM, yang duduk di sampingnya, mulai merasakan kehadiran sosok lain di dalam rumah mereka. "Kak, sepertinya ada yang masuk," bisiknya. Aaron mengangguk dan mengambil sebuah keris pusaka yang tergeletak di sampingnya, keris yang diberikan oleh guru mereka sebagai pelindung dari makhluk halus.

Mereka berdua keluar dari ruangan ibadah, berjalan perlahan menuju lorong. Di ujung lorong, tampak bayangan seorang wanita berdiri membelakangi mereka. Gaun putihnya yang panjang menyentuh lantai, dan rambutnya yang terurai menutupi wajahnya. Aaron menelan ludah, mencoba mengendalikan rasa takut yang mulai merayap.

"Siapa kamu?" tanya Aaron dengan suara tegas, namun wanita itu tidak menjawab. Sebaliknya, dia mulai berbalik perlahan, menampakkan wajahnya yang pucat dengan mata yang kosong.

ILHAM mundur beberapa langkah, merasakan bulu kuduknya meremang. "Kak, itu bukan manusia," bisiknya.

Aaron mengangguk, lalu dengan cepat melafalkan ayat Kursi dengan lantang. Wanita itu menjerit dengan suara yang memekakkan telinga, tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya lenyap dalam sekejap, meninggalkan aroma anyir di udara.

Mereka berdua berdiri di sana, terdiam dalam ketegangan yang mencekam. ILHAM menoleh kepada kakaknya, matanya penuh ketakutan. "Kak, ini baru permulaan, bukan?" tanyanya.

Aaron menghela napas panjang. "Iya, ILHAM. Sepertinya ada sesuatu yang ingin menguji kita. Tapi kita tidak boleh takut. Kita harus kuat, karena tugas kita adalah melindungi," jawabnya dengan suara tegas.

***

Malam berikutnya, mereka memutuskan untuk pergi ke rumah guru mereka, Ustadz Abdullah, yang tinggal di pinggiran kota. Aaron dan ILHAM merasa ada sesuatu yang harus mereka tanyakan tentang kejadian malam sebelumnya.

Ketika mereka tiba di rumah Ustadz Abdullah, suasana di sana terasa lebih tenang, seakan semua masalah duniawi tidak memiliki tempat di dalamnya. Ustadz Abdullah menyambut mereka dengan senyum hangat, namun wajahnya berubah serius ketika mendengar cerita mereka.

"Anak-anakku, kalian sedang diuji. Apa yang kalian alami adalah bagian dari perjalanan kalian. Kalian telah memilih jalan ini, dan akan banyak rintangan yang harus kalian hadapi," kata Ustadz Abdullah dengan nada bijak.

Aaron dan ILHAM mendengarkan dengan penuh perhatian. "Apa yang harus kami lakukan, Ustadz?" tanya Aaron.

"Kalian harus memperkuat dzikir dan selalu menjaga niat. Bacaan Islami yang kalian lafalkan adalah perlindungan terkuat kalian. Dan ingat, jangan pernah biarkan rasa takut menguasai hati kalian," jawab Ustadz Abdullah.

Malam itu, setelah memberikan beberapa amalan tambahan, Ustadz Abdullah mengantarkan mereka ke pintu. "Ingatlah, anak-anakku, kalian tidak sendiri. Ada banyak makhluk di sekitar kita, yang baik maupun yang jahat. Tetap waspada, dan jangan lengah," pesannya sebelum mereka pergi.

***

Ketika Aaron dan ILHAM kembali ke rumah, mereka merasa lebih tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Malam berikutnya, setelah mereka melakukan ibadah malam, ILHAM mendengar suara bisikan di telinganya. Bisikan itu begitu jelas, seolah-olah ada seseorang yang berdiri tepat di sampingnya.

ILHAM membuka mata dan melihat sekeliling, namun tidak ada siapa-siapa. "Aaron, kamu dengar itu?" tanyanya, suaranya bergetar.

Aaron menggeleng. "Apa yang kamu dengar, ILHAM?"

"Sepertinya ada yang berbisik di telingaku. Tapi aku tidak bisa mengerti apa yang dikatakannya," jawab ILHAM dengan wajah pucat.

Aaron merasakan kegelisahan yang sama. Dia berdiri, meraih keris pusaka di dekatnya, dan mulai melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an. ILHAM mengikuti, namun bisikan itu semakin kencang, seakan mengejek mereka.

Malam itu, tidur mereka tidak tenang. Suara bisikan dan bayangan aneh terus menghantui mereka. Hingga pada suatu titik, ILHAM merasakan ada sesuatu yang menarik selimutnya dengan paksa. Dia terbangun dengan kaget dan melihat bayangan hitam berdiri di ujung ranjangnya, menatapnya dengan mata merah menyala.

Aaron terbangun oleh suara jeritan ILHAM dan segera melafalkan doa perlindungan. Bayangan hitam itu perlahan memudar, namun meninggalkan kesan mendalam pada ILHAM yang masih gemetar ketakutan.

"Kak, aku tidak tahu apakah kita bisa terus menghadapi ini," ucap ILHAM dengan suara lemah.

"Kita harus bisa, ILHAM. Kita tidak punya pilihan lain," jawab Aaron, matanya memandang keluar jendela yang tertutup. Di luar, angin malam kembali bertiup kencang, membawa serta misteri yang belum terungkap.

Aaron tahu, bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai, dan apa yang mereka hadapi hanyalah permukaan dari kegelapan yang lebih dalam. Sebuah kekuatan yang jauh lebih besar tengah mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Dan Aaron serta ILHAM harus bersiap menghadapi apa pun yang akan datang. 

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

굿노벨에 오신 것을 환영합니다. 굿노벨에 등록하시면 우수한 웹소설을 찾을 수 있을 뿐만 아니라 완벽한 세상을 모색하는 작가도 될 수 있습니다. 또한, 로맨스, 도시와 현실, 판타지, 현판 등을 비롯한 다양한 장르의 소설을 읽거나 창작할 수 있습니다. 독자로서 질이 좋은 작품을 볼 수 있고 작가로서 색다른 장르의 작품에서 영감을 얻을 수 있어 더 나은 작품을 만들어 낼 수 있습니다. 그리고 작성한 작품들은 굿노벨에서 더욱 많은 관심과 칭찬을 받을 수 있습니다.


Rebyu

bsj
bsj
완전 완전 재밌게 봤어요 새드엔딩이 아니어서 더 좋았습니다. 작가님~근데 123회와 124회 순서가 바뀐거 같습니다
2026-06-30 20:35:01
1
1
bsj
bsj
야구팬인데 넘 재밌게 읽고 있어요~^^
2026-06-16 14:31:06
1
1
몽글몽글
몽글몽글
병약수는 못참죠. 천재 투수 천재 포수 응원해용
2026-05-30 15:16:52
3
1
130 Kabanata
#1. 프롤로그 [빗속의 폭군]
이것은 분명 꿈이었다. 그러나 망막을 타고 비집고 들어오는 상(像)은 현실처럼 선연했다.뺨을 거칠게 후려치는 빗줄기가 난무하는 불펜 그라운드. 우산조차 포기한 채 대치한 두 남자 사이로, 폐부를 들쑤시는 숨소리가 축축한 공기의 진동을 타고 농밀하게 뒤섞였다.신이 공들여 빚어낸 듯한 완벽한 비율. 190cm에 달하는 유환의 단단한 체구는 젖은 흑발과 어우러져 야성적인 위압감을 뿜어내고 있었다. 빗물을 머금어 번들거리는 그의 근육은 마치 먹잇감을 목전에 둔 맹수처럼 금방이라도 터져 나갈 듯 팽팽했다.그 곁에 선 장하늘의 붉은 머리칼 역시 슬림한 어깨선을 따라 흘러내리는 빗물에 기묘하게 젖어 들었다. 투명하게 비쳐 얇은 피부에 딱 붙어버린 젖은 셔츠 너머로, 잘게 떨리는 하늘의 숨결이 유환의 짙은 시선에 적나라하게 꿰뚫렸다.“유환아, ······뭐라고?” “다시 말해줘? 널 안고 싶어졌어.”3월 초의 공기는 뼛속까지 파고들 만큼 시렸으나, 유환의 입술 사이로 터져 나온 언어는 비정상적으로 뜨겁고도 지독했다.첫 만남 이후 고작 하루.찰나 같은 시간 끝에 떨어진 유환의 요구는 폭력적이었고, 그 파괴적인 언사에 하늘의 목구멍은 경련하듯 꽉 막혀버렸다.불과 방금전까지 무구하게 공을 주고받던 동료의 얼굴은 어디에도 없었다. 하늘을 내려다보는 그의 깊은 눈동자에는 포식자의 집요함과 금기된 욕망이 소용돌이치고 있었다.‘내가 미쳤지. 그러니 이런 꿈을 꾸고 있지.’비에 젖어 몽롱해진 의식, 더그아웃을 메우던 비현실적인 열기. 불펜에서 나누었던 투구의 감각조차 수면 아래로 침잠하듯 아득해졌다. 하지만 꿈이라 치부하기엔 피부에 닿는 빗방울의 서늘한 감촉과 눈앞의 유환이 뿜어내는 농익은 체취가 지나치게 생생했다.머릿속을 관통하는 노골적인 정사의 잔상이 수치심이 되어 전신을 훑었다. 그러나 유환의 표정에는 추호의 망설임도 없었다. 오히려 네 짐작이 맞다고 선언하듯, 그는 오만하고도 저돌적으로 하늘의 영역을 파고들었다.장하늘은 이 사나운 폭언에 짓눌려 신음조차 내
Magbasa pa
#2. [궤도를 이탈한 너와 나-몽정]
녀석을 향한 제 눈빛만큼은, 수천 번의 윤회 속에서도 끝내 통제하지 못한 유일한 치부였다.부정하는 말조차 내뱉지 못한 채 몸을 빼려 했으나, 쳐내려던 손이 유환의 보물 같은 '황금 왼손'임을 깨닫고 본능적으로 힘을 뺐다.장하늘은 녀석에게 감히 손을 대지 못한 채, 제 발로 뒷걸음질 치며 거리를 벌렸다.그러자 유환이 포식자처럼 다시 성큼 다가와 숨통을 조였다.“장하늘, 얼굴도 몸도 곱상한 게 그라운드에서는 왜 그렇게 고압적으로 굴어?”결국 이것이 문제였구나. 이제야 장하늘은 모든 퍼즐이 맞춰지는 기분이었다. 유환이 이토록 분노를 쏟아내며 폭주하는 이유를.“그래서 선배들을 퍼펙트로 이겼잖아. 그럼 된 거 아니야?”녀석이 제멋대로 완력을 뽐내지 못하게, 철저히 계산된 볼 배합으로 녀석의 투구를 통제했던 것.그 오만함이 유환의 자존심을 긁어놓은 것이다.“이 세상에 나 무시하는 새끼는 너밖에 없어! 감히 네가 내 공에 대해 뭘 안다고 지껄여?” “난 다 알아. 네 공에 대해서는 너보다 더 잘 알고 있다고.” “뭐, 천재라도 되냐? 넌 아직 내 제대로 된 직구는 구경도 못 했잖아!”대화는 다시 불길처럼 격앙되었다. 유환이 린치에 가까운 폭력을 행사하려 했던 기저에는 이런 야구적인 갈등이 깔려 있었다.포수로서 녀석을 제 손바닥 위에 올려두고 휘둘렀던 것에 대한 야생마 같은 반항심.그 심리를 이해하게 된 장하늘은 물러서지 않고 정면으로 응수했다.“넌 내가 시키는 대로 던져. 그럼 돼. 모든 영광과 승리는 내가 네 손에 쥐여줄 테니까. 겨우 나은 어깨를 그딴 시시한 자리에서 낭비할 필요는 없잖아?”달래려 던진 말이 오히려 타오르는 불길에 기름을 부은 격이었을까. 유환의 미간이 험악하게 일그러졌다. 그는 늘 정직한 직구만을 신봉했고, 순수한 힘으로 상대를 압살 하는 쾌락만을 쫓는 녀석이었으니까.지금 녀석의 어깨 상태가 어떤지 본인은 모를 것이다. 고교 시절의 부상과 지독했던 1년의 재활···.대학 야구 동아리 입부 테스트 따위에서 그 소중한
Magbasa pa
#3. [이번 생도 망쳤나요?]
“헉! 헉······!”침대 시트마저 눅눅한 비에 젖은 듯 축축한 습기를 머금고 있자, 살갗에 닿는 그 서늘한 감각에 장하늘은 신음 섞인 비명을 삼키며 입술을 가차 없이 깨물었다.천천히 일렁이는 시야를 열었다. 오피스텔 천장의 익숙하고도 단조로운 무늬가 망막에 박히자, 그제야 지독한 현실로 생환했음을 깨달았다.식은땀이 척추를 타고 끈적하게 흘러내렸다.꿈속에서 유환이 뿜어내던 사나운 기운과 서늘한 거절의 말이 잔상처럼 남아, 장하늘의 등줄기는 전율로 팽팽하게 굳어졌다. 차갑게 젖은 얼굴이 델 듯한 숨결과 함께 코앞까지 다가왔던 그 찰나의 순간.[너 같은 새끼 질색이야.]꿈속에서 유환이 던진 차가운 혐오의 언어가 귓가를 짓이겼다. 꿈과 현실의 경계가 처참히 무너져 내린 잔상이 머릿속을 사정없이 헤집었다.분명 자신은 폭우 속 불펜에서, 인생 3회 차 동안 끝내 끊어내지 못한 연심의 대상인 유환과 위태로운 실랑이를 벌이고 있었는데.주변을 둘러보니, 비릿한 열망과 모멸감이 점철된 지독한 꿈이 맞았다.‘꿈이어도 아프네. 젠장.’혼자서 금단에 가까운 열망을 품고 있었기 때문일까. 잠에서 깨어났음에도 멍하게 굳어버린 온몸은 꿈의 잔혹한 여운을 놓아주지 않고 있었다. 그 녀석의 혐오 섞인 눈빛을 받아내면서도 심장이 가쁘게 뛰었던 제 자신이 처량하고 수치스러워 고개를 들 수 없었다.“에취!”갑작스러운 재채기가 터져 나오자, 꿈속의 차가운 빗물이 아직도 목구멍 깊숙이 걸려 있는 듯한 착각이 들었다.허무맹랑한 소리 같지만, 꿈에서 맞은 비가 현실의 오한이 되어 돌아오는 이 기묘한 현상조차 허투루 넘길 수 없었다. 이 세상은 이미 장하늘에게 수없이 많은 비상식을 강요해 왔으니까.어제 불펜에서 캐치볼을 하다 가랑비에 젖기 시작하자마자, 유환이 서늘한 기운을 남긴 채 먼저 자리를 떠났던 기억이 스쳤다. 타고난 신체가 유약하니, 녀석의 그림자만 스쳐도 이토록 저질 체력이 여실히 드러나는 모양이었다.어쨌든 조만간 ‘마구마구’ 동아리 합격 통보가 오면 녀석과 다시
Magbasa pa
#4. [같은 시각 너와 나]
지금쯤 유환도 합격 통보를 받고 먼저 그라운드에 도착해 그 거대한 몸을 풀고 있을 것이다.만약 자신이 가지 않는다면, 녀석의 공은 경영학과 3학년 유경호가 받아내게 되겠지.수려한 외모에 유들유들한 성격, 여자들의 선망을 한 몸에 받는 재벌가 막내아들 유경호를 떠올리자 장하늘의 속이 비틀렸다.‘아, 정말 싫다.’두 사람이 섞이는 꼴은 죽어도 보기 싫은데, 엊그제 겪은 그 껄끄러운 사건이 자꾸만 마음을 짓눌렀다.“에취! ······에취!”동기들의 시선이 따갑게 꽂혔다. 강의 종료를 알리는 시각이 임박해 오고 있었다.유경호라는 존재가 유환과 자신 사이에 비집고 들어올지도 모른다는 상상만으로도 혈관이 타들어 가는 듯한 질투가 치솟았다. 유려한 얼굴과 능글맞은 태도로 유환의 곁을 맴돌 그의 모습이 선명했다.분명 이번에도 같은 ‘유’ 씨라는 하찮은 공통점을 빌미로 유환을 살뜰히 챙길 것이 자명했다.‘에잇, 가자! 가!’민폐가 될 정도로 터져 나오는 재채기를 빌미 삼아 서둘러 가방을 챙겼다.남은 생이 얼마 남지 않았다 직시할수록, 단 한 찰나라도 더 녀석의 형상을 눈에 새기고 싶어 주먹을 꽉 쥐었다. 손톱이 손바닥을 파고들어 하얗게 질릴 정도의 강렬한 집착이었다. *** 같은 시각, 유환은 강남의 펜트하우스에서 침잠하는 시간을 보내고 있었다. 거실 깊숙이 붉은 노을이 스며들어 공간을 피처럼 물들일 때까지.트레이닝룸에서 육체를 한계까지 몰아붙이며 땀을 흘려보았지만, 요동치는 내면은 좀처럼 가라앉지 않았다.샌드백을 타격할 때마다 장하늘의 비에 젖은 유니폼 잔상이 시야를 어지럽혔다. 그 가느다란 몸을 타고 흐르던 빗물과, 하얀 천이 피부에 밀착되어 투명하게 속살을 비추던 그 찰나의 순간. 유환의 주먹에 파괴적인 힘이 실렸다.합격 메시지를 확인했을 때, 그것은 예정된 결과였음에도 불쾌한 갈증이 목구멍을 타고 올라왔다. 장하늘과 그라운드에서 마주하게 될 미래가 너무도 선명하고도 위태로웠기 때문이다.녀석의 이름을 씹어 뱉듯 되뇔 때마다 목젖이 파르르 떨
Magbasa pa
#5. [내 머리가 점점 이상해지다니]
S대로 향하는 내내 유환은 속내가 뒤틀려만 갔다.가죽 핸들을 쥔 손바닥이 축축한 땀으로 미끌거렸지만, 뇌리에 박힌 장하늘의 잔상은 지워지지 않아 액셀을 밟는 발끝에만 신경질적인 힘이 실렸다.머릿속은 여전히 장하늘 뿐이었다. 점점 바보가 되어가는 자신이 그래서 더 짜증났다.장하늘의 리드는 단순한 사인이 아니었다. 그것은 타자의 뇌를 해부하고 심리를 난도질하는 집도의의 메스와 같았다. 마운드 위에서 누구보다 오만하게 군림해야 할 유환조차 그의 미트 끝에 조종당하는 꼭두각시가 된 듯한 기분, 그것이 참을 수 없는 굴욕이자 분노를 자극했다.전대미문의 완벽한 포수. 타격 메커니즘을 꿰뚫는 통찰력에 영리한 주루 플레이까지, 마치 완성된 프로 선수가 아마추어 무대에 강림한 듯한 이질적인 압도감에 유환은 내심 경악을 금치 못했다.하지만 지금 유환의 머릿속을 헤집는 것은 녀석의 야구 실력뿐만이 아니었다. 사람의 이성을 마비시키는 그 묘한 존재감 자체가 독이었다.결백할 정도로 하얀 피부 위로 드리워진 속눈썹 그림자가 마치 정교한 도자기 인형의 장식처럼 선명했다. 그 오밀조밀한 이목구비가 자아내는 기묘한 조화는 유환의 마른 심장을 사정없이 간질였다.처음 눈이 마주친 순간부터, 손아귀에 넣고 으스러뜨리고 싶고, 기어이 울음을 터뜨리게 만들고 싶었던…….평생 남자에겐 눈길조차 주지 않고 건조하게 살아왔건만, 생애 처음 마주한 이 원초적인 욕망은 유환 스스로도 감당할 수 없는 괴물이 되어가고 있었다.‘게다가, 그 녀석의 손길 한 번 없이 혼자서 무너져버리다니.’그 생각을 떠올리자 유환의 뺨이 수치심으로 파르르 떨렸다. 역시 문제는 거기에 있었다. 녀석의 잔상만으로도 무너져 내린 어젯밤의 흔적이 가혹한 모멸감을 안겨주었다.왜 하필 그 녀석이었을까. 왜 녀석의 몸을 탐하고, 그 정갈한 영혼을 엉망으로 유린하고 싶다는 파괴적인 욕망이 자신을 좀먹는 것일까.사춘기 소년도 아니건만, 지독한 몽정의 여운은 녀석이 얼마나 요망한 존재인지를 증명하는 낙인과도 같았다
Magbasa pa
#6. [너만 보면 왜 화가 나지?]
시야가 닿지 않는 저 음습하고 은밀한 후미진 구석.어제의 파렴치했던 환상이 다시금 생생하게 재생되자, 맥동하는 아랫도리가 기다렸다는 듯 반응을 보이기 시작했다.‘이 미친 몸뚱어리가……! 생각도 녀석, 몸도 녀석. 나 진짜 미쳐버린 건가!’유환은 하마터면 눈앞의 철제 의자를 박살 낼 듯 주먹을 움켜쥐었다.난잡한 호색한도 아니거늘, 꿈속에서 장하늘에게 저질렀던 그 외설적인 행위들이 떠올라 홧홧한 열기가 뺨으로 번졌다. 이성과 본능이 장하늘이라는 덫에 걸려 제 기능을 상실하고 있었다.유환은 거칠게 심호흡을 하며 달아오른 열기를 식히려 애썼다. 그리고 유경호를 향해 싸늘한 거절을 내뱉었다.“감히 3학년 레귤러 선배님께 오자마자 신세를 질 수는 없죠.”“뭐?”황당한 듯 팔을 늘어뜨린 유경호가 유환을 빤히 응시했다.“전 1학년 신입 포수, 장하늘이 오면 그때 시작하겠습니다.”유환의 음성에는 서슬 퍼런 날이 서 있었다.유경호가 어처구니없다는 듯 미트를 툭 치며 웃음을 터뜨렸지만, 그 소리는 유환의 귀에 닿지 않았다. 오로지 장하늘이 나타날 방향만을 향해 유환의 시선은 집요하게 고정되었다.***“에취!”장하늘의 다리가 강의실 문턱을 넘어서자마자, 전생의 훈련된 근육들이 기억을 되찾은 듯 폭발적인 속도를 냈다.인생을 거듭할수록 신체 능력이 비약적으로 향상되는 기분은 묘했다.이전 생애의 고된 훈련조차 영혼에 저장되는 것일까. 참으로 기구한 축복이었다.첫 번째 생에서 단거리 육상선수로 살았던 그 감각이, 지금 이 절박한 순간에 빛을 발하고 있었다.유환이 유경호와 배터리를 이루어 호흡을 맞추는 꼴만은 죽어도 보기 싫다는 치기 어린 독기가 전력 질주를 부추겼다.교정의 학생들이 마치 모세의 기적처럼 좌우로 갈라지며 길을 터주었다. 뒤통수에 박히는 수많은 시선 따위는 안중에도 없었다.녀석은 분명 한 시간 먼저 도착해 있을 터였다. 지금 가면 유경호가 끼어들 틈 없이 공을 받아낼 수 있을 텐데.제발 유경호와 엮이지 않았기를. 숨이 턱밑까지 차오르는
Magbasa pa
#7. [들러붙지 마! 누가 할 소리]
그것은 기적을 넘어선, 명백한 궤변의 영역이었다.대체 꿈속에서 무슨 짓을 저질렀길래 현실의 유환이 저토록 살벌한 기세를 뿜어내며 들러붙지 말라는 으름장을 놓는 걸까. 불과 몇 시간 전, 꿈속의 어둠 속에서 짐승처럼 헐떡이며 제 몸을 구석구석 몰아붙이던 그 뜨거웠던 열기는 온데간데없었다. 오직 얼음장처럼 차갑게 벼려진 눈빛만이 비수처럼 날아와 꽂혀, 하늘의 심장을 사정없이 저릿하게 만들었다.전생의 그 오랜 기억을 송두리째 통틀어봐도 이런 반응은 하늘의 예상을 한참이나 벗어나 있었다. 유환은 늘 오만했지만, 이토록 날 선 방어기제를 드러낸 적은 없었다.‘의식하고 있는 걸까?’장하늘은 애써 떨리는 마음을 다잡으며 객관적인 상황을 좀 따져보았다. 누가 누구한테 들러붙어 강제로 앉혀놓고 있는 중인지 묻고 싶었다. 만일 인생 4회차라는 이 지독하고 잔인한 굴레에서 벗어나, 이번 생은 죽지 않고 기적처럼 살아남는다면 유환의 앞날은 탄탄대로일 것이다.메이저리그의 광활한 마운드조차 녀석의 천재성을 담아내기엔 좁을 만큼 찬란할 터였다. 그런 창창한 미래를 위해서라도 지금부터 싹싹하게 굴며 야구부 선배들과 인맥을 다져두는 게 본인에게 절대적으로 득이 될 텐데, 녀석의 독선적이고 안하무인 격인 성미는 회차를 거듭해도 도무지 깎일 줄을 몰랐다.“그럼 넌 여기서 쉬어. 난 몸 풀 테니까.”장하늘은 어떻게든 이 숨 막히는 텐션을 끊어내고 녀석을 마운드로 등 떠밀기 위해 먼저 몸을 일으키려 했다. 유환의 시선이 제 피부에 닿을 때마다 느껴지는 기묘한 열기가 견디기 힘들었기 때문이다.그 순간, 유환이 발끈하며 미간을 팍 찌푸렸다. “앉아.”낮게 가라앉은, 명백한 명령조의 음성이 귓전을 파고들었다. 그 위압적인 기세에 눌려 장하늘은 저도 모르게 흠칫 놀라 다시 벤치에 엉덩이를 붙였다. 전신을 옭아매는 듯한 유환의 고압적인 태도에 심장이 쿵쾅거렸다. 하지만 야구부원으로서, 포수로서 그라운드의 흐름을 완전히 놓칠 수는 없기에 팍- 유환의 손길을 뿌리치며 몸을
Magbasa pa
#8. [불청객이 던진 마구(魔球)]
꿈속에서 비를 좀 맞았다고 현실에서 이 난리라니, 스스로도 참 어이가 없고 한심했다. 최우현의 짓궂으면서도 따뜻한 부탁에 하늘의 눈동자가 파르르 떨렸다. 동기 사랑이 지극하다고? 누가? 저 냉혈한 폭군 유환이?장하늘이 의아함과 날 선 경계심이 섞인 시선으로 유환을 올려다보자, 유환은 뜻밖에도 덤덤한 표정으로 하늘의 손목을 더 강하게 꽉 움켜쥐며 선배를 향해 대답했다.“······알겠습니다. 제가 데려가죠.”긍정의 대답이라니. 장하늘은 순간 제 귀를 의심했다. 조금 전까지 잡아먹을 듯 으르렁거리며 혐오감을 드러내던 녀석이, 저렇게 순순히 자신을 돌보겠다고, 심지어 병원까지 직접 데려가겠다고 나설 리가 없었다. 이건 분명 또 다른 꿍꿍이가 있는 게 분명했다. 멋쩍은 미소 뒤로 서늘한 불안감이 엄습했다.그런데, 이 낯설고 기묘한 감각은 뭔지.유환은 선배들의 시선이 물러간 뒤에도 장하늘의 손목을 움켜쥔 채 놓아주지 않았다. 오히려 녀석의 체온이 움켜쥔 손길을 통해 하늘의 피부 속으로, 혈관 속으로 뜨겁게 침투해 들어왔다. 화상을 입을 듯 강렬한 유환의 체온이 장하늘의 맥박을 미친 듯이 불규칙하게 흔들어 놓았다. 숨이 막힐 듯한 긴장감이 녀석과의 간극을 가득 메웠다. 고압적이지만, 그 속에서 느껴지는 거부할 수 없는 의외의 행동에 이성은 조금씩 마비되어 갔다.의외로 살가운 구석이 있는 걸까? 아니, 그럴 리가 없을 텐데.장하늘이 혼란스럽고 위태로운 감정으로 유환을 의식하며 끌려가던 그 순간, 더그아웃 입구로 또 다른 인물이 짙은 그림자를 드리우며 다가왔다. 나른하면서도 묘하게 불길한 기운을 풍기는 목소리가 전장을 파고들었다. 대체 얼마나 많은 운명의 주인공들이 등장하려는 건지, 장하늘의 머릿속은 과부하가 걸린 듯 어지러웠고, 유환의 손은 더욱 거칠게 하늘의 손목을 옭아맸다. 새로운 폭풍이 임박해 있었다.***살다 살다 고작 기침 몇 번 했다고 이토록 전폭적인 대우를 받게 될 줄이야. 장하늘은 쏟아지는 염려가 송구스러워 당장이라도 이 더
Magbasa pa
#9. [원하지 않는 사랑도 폭력인 것을]
도대체 상황이 어떤 궤도로 굴러가고 있는 것일까.병원에 꼭 가보라는 선배들의 극성스러운 배웅을 뒤로하고, 장하늘은 유환의 억센 손에 이끌려 주차장까지 내려왔다. 정신을 차려보니 녀석의 차 조수석에 올라타 교정의 가로수들을 빠르게 스쳐 지나가는 중이었다.유환의 차는 위압적인 차체를 자랑하는 블랙 컬러의 독일제 M시리즈 SUV였다. 시트 포지션이 워낙 높아 올라탈 때 유환의 묵직한 부축을 받아야만 했는데, 허리춤을 단단히 감싸 쥐던 녀석의 커다란 손바닥 온도와 묘한 접촉의 잔상이 여전히 손등 위에 선명히 남았다.얼떨결에 사람들의 시선을 피해 차에 오르긴 했지만, 정신이 혼미한 건 비싼 차 때문이 아니었다. 손에 쥔 황금색 명함. 그 종이 조각이 주는 파동이 너무 커서 도무지 주머니에 집어넣을 수가 없었다.[T-매니지먼트 대표: 조기범. 010-XXXX-XXXX]아직 대학 4학년 학생 선수가 벌써 매니지먼트사 대표라니. 그 대단한 투수는 훗날 국가대표 마운드를 지키고 메이저리그를 평정한 뒤, 화려한 스타와 결혼까지 골인할 팔자 좋은 남자였다. 그런데 이번 생의 조기범은 벌써 사업가의 수완을 발휘하고 있는 것일까. 인생 4회차임에도 불구하고 이 생경한 변화들은 당혹스럽기 그지없었다.“야, 아주 닳아 없어지겠네. 플러팅 당하니까 그렇게 좋냐?”유환의 음성에 서릿발 같은 날이 섰다. 장하늘은 그 서늘한 기운에 어깨를 움찔했다. 조기범 같은 거물이 나 같은 놈한테 무슨 플러팅을? 반박하려던 입술이 파르르 떨렸다. 대체 왜 내게 명함까지 주며 사적인 만남을 제안한 걸까. 연애라고는 활자로만 배운 장하늘에게 ‘플러팅’이라는 개념은 그저 추상적인 단어일 뿐이었다.“아, 그럴 리가 없잖아.”자조 섞인 탄식이 흘렀다. 조기범이 내민 그 명함 한 장이 눈앞에서 나비처럼 어지럽게 펄럭였다. 남녀노소를 불문하고 영혼을 사로잡는 마성이라면 그건 옆에 앉은 유환의 전유물이었다. 녀석의 눈빛 한 번에 숱한 이들이 심장을 저당 잡히는 꼴을 봐오지 않았던가. 연애의 고
Magbasa pa
#10. [내 인생에 왜 불쑥 나타나?]
잠시 유환은 당혹감에 젖어 들었다. 평소의 자신이라면 결코 내뱉지 않았을 말과 행동들이 장하늘이라는 존재가 제 인생에 불쑥 침범한 이후부터 제멋대로였기 때문이었다.“너, 왜 자꾸 나 자극해?”참다못한 질문이 기어이 공중에 흩뿌려졌다.“……내가 뭘 어쨌는데.”“그 눈빛으로 날 훑고 있잖아, 지금도.”입매를 비틀면서도 유환의 눈동자는 집요하게 진실을 갈구했다.참 이상한 일이었다. 초면임이 분명한데도 오래전부터 알고 지낸 듯 낯익은 기분이 들었다. 저를 바라보는 장하늘의 시선에 눅진하게 묻어나는 아쉬움과 아련함. 그 지독한 농도에 유환 역시 속절없이 끌려가고 있었다.“네가…… 워낙 잘나서 좀 보게 됐다. 부담스러웠다면 미안해. 다른 오해는 하지 마라.”장하늘은 발뺌하거나 화를 내는 대신, 서슬 퍼런 유환의 기세를 순순히 받아내며 고개를 숙였다. 유환은 그런 하늘을 물끄러미 바라보다, 더 말해봤자 입만 아프겠다는 생각에 핸들을 거칠게 움켜쥐었다.“그놈의 미안하다는 소리. 너한테 사과는 유통기한 지난 껌처럼 흔하고 가볍나 보지? 아주 남발을 하는군.”“그건 또 그러네. 음.”녀석은 입을 꾹 다물었다. 비에 젖은 강아지처럼 제 눈치를 보며 잔뜩 웅크린 꼴을 보니 외려 기분이 묘하게 뒤틀렸다.왜 이 녀석은 나에게만 이토록 저자세일까. 그라운드 위에서 고압적으로 투수를 찍어 누르던 그 오만한 포수는 어디 가고, 제 앞엔 전혀 다른 온도의 남자가 서 있었다. 그 간극이 유환의 신경을 날카롭게 긁어댔다.“내가 잘나서 관심이 생긴다 이건가?”유환의 낮은 저음이 차 안을 울리자, 하늘은 천천히 숨을 고르고 또 골라냈다. 그러더니 이내 눈에 힘을 주며 입술을 삐죽였다.“유환, 하던 말이나 마무리 지어. 그래서 현재 넌 날 어떻게 보고 있는데?”퉁명스러운 말투였으나, 유환의 눈에는 그마저도 묘하게 자극적이었다. 거칠고 험한 그라운드와는 전혀 어울리지 않는 외모였다. 운동선수라기엔 지나치게 뽀얀 피부와 가늘게 뻗은 몸선. 포수라는 포지션을 감당하기
Magbasa pa
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status