"Anda cantik sekali, Bu Elisa!" pekik Ririn bahagia. Hari itu, akhirnya hari yang dinantikan tiba yaitu hari pernikahan Leo dan Elisa. Sejak pagi, Elisa sudah bangun dan dibawa ke ruang VIP hotel untuk dimake up. Ada Bik Imah, Nila, Daisy, dan Ririn yang menemaninya di sana. "Terima kasih, Ririn. Tapi gaun ini mendadak sesak sekali, aku menjadi cebol dengan perut besarku." "Haha, tidak ada yang aneh, Elisa," seru Bik Imah. "Kau sangat cantik." "Itu benar, Bu Elisa. Justru saat hamil besar, aura Anda sangat memancar," timpal Nila. "Aku saja tidak berhenti mengagumi Anda yang masih begitu cantik dengan kehamilan sebesar itu, Bu Elisa," sahut Daisy juga. "Semoga saat aku hamil nanti, aku juga bisa secantik Anda." "Haha, itu pasti, Daisy. Tapi aku tegang sekali. Apa para tamu undangannya sudah datang?" "Sebagian besar sudah. Mereka menginap di hotel ini dan mereka sudah duduk di venue acara sejak tadi," lapor Ririn. "Oh, jantungku makin tidak karuan." "Sekali lagi selamat, Bu El
Mehr lesen