Senja Valentia mewarnai langit dengan warna jingga dan merah muda ketika mobil kami berkelok naik di jalan yang dipagari pohon cemara. Setelah dua belas jam di pesawat bersama mertua dan hari yang menguras tenaga di Virelia, tubuhku benar-benar butuh istirahat. Namun mataku tetap terjaga, tak sanggup menutup diri dari keindahan yang menyelimuti kami."Kita hampir sampai," kata Adriel sambil menunjuk ke tikungan di depan.Begitu mobil melewati tikungan terakhir, napasku tercekat. Di hadapan kami, diterangi cahaya emas senja, berdiri sebuah vila Eldoria yang tampak seperti keluar dari film. Dinding batu berwarna madu, jendela-jendela tinggi berbingkai hijau, dan bangunannya menjulang anggun di puncak bukit. Di sekitarnya, deretan kebun anggur mengalir menuruni lembah, membentuk pola hijau dan tanah yang begitu memikat."Vila Mahendra," ujar Adriel, kebanggaan terasa jelas dalam suaranya, berbeda dari caranya biasa berbicara tentang mansion di Verdania."Itu .…" Aku mencari kata yang tepa
อ่านเพิ่มเติม