Diusir Ipar Setelah Suami Tiada

Diusir Ipar Setelah Suami Tiada

Oleh:  Astika Buana  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
56Bab
5.4KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Nisa tidak lagi memiliki tempat di rumah mertuanya setelah Ridwan—suaminya— hilang saat berlayar. Belum sempat memproses luka, kedudukan Ridwan yang hanya anak angkat terus diungkit oleh iparnya. Bersama kedua anaknya yang masih kecil, Nisa akhirnya memutuskan untuk merantau ke kota besar. Keahlian memasaknya ternyata menjadi penyelamat hidup ketiganya, bahkan membuat Nisa mulai bangkit kembali. Berhasilkah Nisa untuk terus bertahan setelah terusir? Belum lagi, ada seorang pria yang mulai mencoba masuk di kehidupan Nisa ….

Lihat lebih banyak
Diusir Ipar Setelah Suami Tiada Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
56 Bab
Bab 1. Kapan Kamu Pulang?
"Kapan kamu pulang ke rumahmu?"'DEG!'Spontan gerakan tanganku mengelap piring berhenti. Pertanyaannya langsung menorehkan luka di hati ini yang masih basah. Apa tidak bisa bersabar menunggu sedihku usai?"Tadi malam sudah empat puluh harinya Ridwan. Kalau kamu membutuhkan uang untuk pulang, kasih tahu saya. Tidak usah dikembalikan. Saya hanya bisa bantu kasih uang transport satu kali jalan saja," ucapnya memperjelas maksudnya. Dia Mbak Rini, iparku yang juga tinggal di rumah mertuku ini. Aku hanya diam tidak menjawab, hanya memalingkan wajah ke arahnya, dan kembali mengelap piring yang masih bertumpuk ini. Awalnya aku dan Mas Ridwanlah yang menemani kedua mertuaku yang sudah lanjut usia. Namun, Mbak Rini kakak Mas Ridwan beberapa bulan yang lalu bercerai dan tinggal di rumah ini juga. "Lap piringnya yang cepat. Orang RT akan segera mengambilnya! Tidak enak membiarkan mereka menunggu!" perintahnya dengan nada berubah kasar, sambil menaruh keranjang kosong di sebelahku. Kemu
Baca selengkapnya
Bab 2. Jangan Pergi
"Dek Dwi kayaknya pipis," ucap anak lelakiku ini. Segera aku menyelesaikan pekerjaanku. Piring kumasukkan di dalam keranjang dan aku siapkan di dekat pintu. Semua harus beres, aku berusaha tidak membuat celah Mbak Rini untuk melontarkan kata-kata pedas yang membuat sakit hati ini. Lebih baik aku mengalah, daripada menjawab dan hanya menambah masalah saja. Iya, dari segi umur memang Mbak Rini lebih tua dari pada aku, sekitar lima tahunan. Namun, sikap dan pemikirannya tidak mencerminkan kedewasaan. Dulu sering aku protes ke Mas Ridwan tentang sikapnya yang membuatku tidak nyaman. Walaupun hanya sekadar keseharian, kalau setiap saat dilontarkan bisa mengikis kesabaranku juga. "Mbak Rini kok tidak tahu, ya. Kalau tempe setengah matang, kalau disimpan di kulkas proses penjamurannya bisa terhenti. Ini kok malah marah ke Nisa. Katanya Nisa tidak becus belanja! Padahal Nisa sengaja beli itu kemarin karena akan dimasak sekarang!" keluhku kesal."Dek Nisa, yang sabar ya. Kita harus mem
Baca selengkapnya
Bab 3. Janji Seorang Istri
Emak adalah istri kedua dari Bapak Mertua. Dari istri pertamalah Mbak Rini lahir. Ibu Mbak Rini sudah menikah lagi dan berpindah di kampung yang berbeda. Sedari kecil, dia ikut bersama ibunya, tetapi karena sering mendapatkan kekerasan verbal, akhirnya diboyong Bapak ke rumah ini. Saat itu dia tertekan dan dirawat Emak.Walaupun Mbak Rini bukan anak kandung, Emak sangat menyayanginya. Apapun kebutuhannya dipenuhi, walaupun Mbak Rini seperti menutup diri karena trauma di masa kecilnya itu. Dorongan Emak untuk meneruskan sekolah tidak digubrisnya. Dia lebih suka berdagang, walaupun berulang kali gagal karena ketidak pintarannya. Emak Sayuti, dia begitu cantik dan lincah dalam berdagang. Kesehariannya di pasar, sedangkan Bapak menjadi juru tulis di kantor desa. Praktisnya secara keuangan, Emak mempunyai peran yang begitu besar. Keinginan Emak Sayuti mempunyai anak sendiri tidak terkabulkan, walaupun segala cara sudah di coba. Akhirnya, Emak Sayuti dan Bapak mengangkat bayi laki-laki
Baca selengkapnya
Bab 4. Aku Harus Bicara
"Nisa ...! Bangun!" Suara teriakan terdengar di depan pintu kamarku. Mataku yang masih berat untuk kubuka, begitu juga kesadaranku. Jam dinding menunjukan pukul empat pagi, sebentar lagi Subuh. "Bangun! Bangun!" Teriakan lagi dan sekarang ditambah dengan gedoran pintu. Aku segera bangun, dengan langkah diseret aku membuka pintu kamar. Biasanya, Mas Ridwan lah yang membangunkan aku dengan mencium pipi ini. Karena dia tahu benar, kepalaku akan sakit kalau terbangun karena kaget."Nisa bangun! Kamu harus beres-beres rumah dulu, terus ke pasar!" perintah Mbak Rini yang sekarang berdiri di depanku."Ya, Mbak. Saya salat Subuh dulu," ucapku lirih sambil menahan sakit kepala sambil menutup pintu. "Numpang hidup di rumah orang yang rajin, jangan malas. Dasar tidak tahu malu!" gumannya dan berlalu.'DEG!'Hatiku seperti tertusuk belati, sakit. Sakit kepalaku langsung lenyap terganti dengan sakitnya hati ini. Aku menatap Mbak Ririn yang berlalu sembari mengelus dada.'Mbak, begitu bencinya da
Baca selengkapnya
Bab 5. Tamu Penghasut
Aku langsung berdiri ingin menghampirinya, akan aku buat dia tersadar! Kekesalan yang sudah terpatik membulatkan tekadku yang selama ini tertahan. Langkah kakiku terhenti tiba-tiba, ketika suara hatiku berbisik mengingatkan apa yang dikatakan suamiku. Berbicara dengan kekesalan tidak akam menyelesaikan masalah, justru hanya akan menimbulkan keributan. Namun, dengan apa menyadarkan Mbak Rini? Dengan perkataan? Mana dia mengerti, pikirannya sudah dibutakan dengan apa yang dia yakini. Sama saja aku bicara dengan tembok, hanya membuat ribut tanpa ada penyelesaian.Percuma!Aku terduduk kembali dan menyebut nama-Mu. Menghilangkan amarah yang sudah menguasai hati ini.*"Rini .... Pokoknya, kamu harus kuat. Jangan sampai dikalahkan si Nisa. Dia itu pinter mengambil hati, bisa jadi Hasan anakmu tidak mendapat warisan karena dikuasai dia." Suara bisik-bisik, tetapi masih terdengar jelas dari kamarku. Dari suaranya seperti Bu Rusmini, adik dari ibu Mbak Rini. Dia memang dekat dengannya
Baca selengkapnya
Bab 6. Penolakan Halus
"Dek Nisa, kamu yang sabar, ya," ucap Mas Wawan Kakak kandungku. Dia mengucapkan bela sungkawa untuk kedua kalinya. Pertama, saat musibah yang terjadi dan ke dua sekarang ini."Mas Wawan, mohon doanya, di sini posisiku sulit. Mbak Rini mulai menyindirku terus. Aku harus bagaimana, Mas?" Aku berkeluh kesah meminta dukungannya."Kamu harus bertahan demi anak-anakmu. Bagaimanapun rumah mereka di sana, kan. Jangan di ambil hati lah. Perempuan memang sering ngomong pedes. Sabar, ya," ucapnya menghiburku."Ya, Mas. Aku mengerti. Tetapi dia itu ngeyel, Mas.""Dengar, ya. Rumah yang kamu tempati itu rumah Pak Sardi dan Bu Sayuti, Ridwan kan anak tunggal mereka walaupun anak angkat. Ya itu haknya kalian. Haknya Alif dan Dwi. Apalagi ada surat pengesahan dari pengadilan. Secara hukun, yang numpang itu malah si Rini itu! Diakan anak bawaaan Pak Sardi! Sedangkan rumah itu ada karena perkawinan kedua," jelasnya dengan berapi-api."Iya Mas. Aku tahu benar itu. Tetapi Mas, kemarin Mbak Rini ....""S
Baca selengkapnya
Bab 7. Sandiwara Kakak Ipar
"Bapak, Emak, Mbak Rini, kami pamit. Mohon maaf kalau kami ada salah. Selama ini, kami merepotkan," ucapku setelah travel pesananku memberi kabar kalau sudah diperjalanan menjemputku."Jangan berkata seperti itu!" teriak Emak langsung memelukku dan mencium pipi Dwi dan Alif. "Kalian anugrah dan kebahagiaan kami," ucapnya lagi seraya mengusap air mata di pipinya."Nisa, sampai kapanpun kamu menantu kami. Alif dan Dwi, selamanya cucu kami kami," tambah Bapak Mertuaku. "Terima kasih," ucapku mencium tangan Emak dan Bapak, kemudian berakhir dengan Mbak Rini yang memberikan tangannya sedikit."Mbak Rini, saya pamit," ucapku."Kamu membawa barangmu saja, kan. Tidak bawa sesuatu yang kau ambil tanpa ijin?" tanyanya dengan sinis."Rini! Jaga bicaramu! Bapak selama ini diam, karena menganggap kamu sudah dewasa! Tapi ternyata kamu tidak berubah. Tetap bodoh!" teriak Bapak dengan keras. Tidak pernah sekalipun aku mendengar bapak teriak seperti ini. Beliau memang tidak banyak bicara, apalagi sa
Baca selengkapnya
Bab 8. Menuju Kota Harapan
Bab 8. Menuju Kota Harapan-------------------------------------Mobil semakin cepat jalannya, kami langsung berangkat ke tujuan karena kami penumpang terakhir yang dijemput.Rumah-rumah seperti berlarian ke belakang dengan kecepatan yang sebanding dengan cepatnya laju mobil. Awalnya aku menyibukkan diri membaca tulisan-tulisan di pinggir jalan, lambat laun tulisan itu mengabur terhalang titik hujan yang membasahi kaca jendela.Buliran air menetes sedikit demi sedikit, kemudian membentuk aliran-aliran air yang semakin deras. Hujan mengguyur bumi mengantarkan kepergian kami. Dwi, bayi kecilku tertidur pulas di pangkuanku. Wajahnya begitu damai dan sesekali ada senyum yang tersungging di sana. Aku menoleh ke sampingku, Alif juga sudah tertidur. Begitu nyenyak, kepalanya sedikit menengadah dengan mulut yang terbuka terdengar deru halus nafasnya yang teratur. Aku usap rambutnya, dia beringsut dan menyandarkan kepalanya di lenganku.Mas Ridwan, lihatlah kami bertiga yang merindukanmu. Sam
Baca selengkapnya
Bab 9. Akhirnya Ketemu
Sebersit sinar matahari menyilaukan mataku. Gerakan Dwi dipangkuanku membuatku terjaga. Aku ngerjapkan mata dan berlahan kubuka mata ini. Gedung-gedung besar menjadi pemandangan. Kendaraan bermotor dengan berbagai jenis terlihat lalu lalang. Sesekali aku melihat sepeda motor saling berebut untuk mendahului. Semuanya bergerak aktif, seperti tidak mau ketinggalan akan waktu. Inilah kota tujuan kami menggantungkan harap. Memperjuangkan hidup untuk mengantar anak-anak ke masa depan yang lebih cerah.Alif yang sudah bangun terlihat menikmati pemandangan ini, dia menoleh setelah menyadari aku sudah terbangun. Dwi pun mengerjapkan mata sambil menggoyang-goyangkan kaki dan tangannya. "Adek! Ci luuuk, ba!" Candaan Alif disambut tawa terkekeh Dwi. Aku dudukkan Dwi di antara kami, mereka meneruskan bercanda dengan riang. Tubuhku aku regangkan, mengurai penat dan pegal ini.Aku melihat sekeliling, hanya tinggal beberapa penumpang saja. Berarti tujuanku akan segera sampai. Kemarin, aku sudah t
Baca selengkapnya
Bab 10. Aku Merindukanmu
"Nisa, ya?!"Ucapanku terpotong dengan teriakan dari dalam rumah. Bersamaan kami menoleh ke arah suara itu. Seorang wanita tua berdiri di depan pintu yang terbuka. Persis dengan foto di ponselku. Beliau, Umi Inayah.Alhamdulillah ....***"Wik! Bantu cepat, bawakan tasnya ke dalam. Pasti berat, ya?" teriak Umi Inayah menghampiriku. Laki-laki di sebelahku ini terdiam sesaat, memandang aku dan Umi bergantian, kemudian mengambil tas pakaian yang berada di sampingku. Dia tersenyum sekilas dan tanpa berkata-kata, masuk membawakan tas besar itu. Aku langsung menghampiri Umi dan mencium tangannya diikuti Alif. "Saya Nisa, Umi Inayah." "Panggil saya Umi saja," ucapnya sambil tersenyum hangat. "Ini, pasti Dwi! Dan, ini Alif, ya!" Umi mengelus Dwi kemudian mengirimku orang-orang baik yang menolongku. Mereka bukan saudara tetapi rela untuk menolongku, ini karena kehendak-Nya. "Ini Mbok Sarinem panggil saja Mbok Sari. Sebelumnya ada Mbok Iyah juga, tetapi sekarang ikut anaknya. Nah dia in
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status