Kisah Para Penggetar Langit
Ia menangis terharu, lalu tersenyum simpul ketika Cio San menyanyikan lirik ‘tempat telaga kesukaanmu, tempat dimana kau suka memetik bunga Tho, dan berlari mengejar kupu-kupu’.
Saat ini memang hanya mata yang berbicara. Cio San bisa menangkap sinar yang begitu bahagia di mata yang teduh dan berbinar itu. Seperti sinar mata anak gadis sedang kasmaran!
“Apakah kau tahu judulnya, Cio San?”
“Tentu saja, Hujin. Judulnya ‘Salam Untuk Ting Ai’.”
Khu-hujin tersenyum. “Tahukah kau siapa Ting Ai?”