Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan
“Langit tak menulis takdir, Ki Juru. Manusia yang menentukannya, dengan keberanian dan pengorbanan. Aku sudah turun ke medan perang, menumpahkan darah, membawa kemenangan. Tapi rupanya, itu belum cukup untuk menyaingi seorang putra permaisuri yang hanya berdiri di balik istana.”
Suasana hening sesaat. Hanya suara angin dan denting senjata dari kejauhan yang terdengar. Ki Juru Martani menatapnya lama, kemudian berkata pelan, seolah menasihati seorang anak yang keras kepala tapi berjiwa besar.
“Hati yang terbakar ambisi akan sulit melihat cahaya, Raden. Waspadalah... sebab dari bara kecil bisa lahir api besar yang membakar Mataram dari dalam.”