Antara Ambisi dan Cinta
“Tuhan … akhirnya, perjuangan kamu selama hampir dua puluh tahun ini enggak sia-sia.”
Papa Nico meletakkan koran, memandangi putranya. Tatapannya dalam dan tenang, seperti biasa. Tapi sorot matanya melunak.
“Kamu serius, Ezra?”
“Serius, Pa. Sudah saatnya. Aku sudah habis-habisan membuktikan semuanya ke dia, dan … dia akhirnya memilih aku. Dia melihat masa depan dalam perjuangan aku.”
Rex mendorong kursinya ke belakang, berdiri dan menepuk bahu Ezra keras-keras. “Bro! Akhirnya lo bukan jomblo kompetitif lagi!”