Pagi ini aku berdiri di depan cermin, mencoba mengikat dasi yang selalu terasa seperti belenggu. 'Lagi-lagi hari yang sama,' bisikku, sementara kopi di meja sudah dingin separuh. Puisi hidupku adalah baris-baris yang tertulis di tiket kereta komuter yang menumpuk, di layar laptop yang tak pernah benar-benar mati, dan di tawa palsu saat rapat Zoom. Aku menyusun bait-bait dari halte bus yang terlewat, dari dompet yang semakin tipis, dari mimpi yang tertunda di folder 'nanti saja'.
Tapi di antara semua itu, ada jeda-jeda kecil yang membuatku terus menulis: senyum anak penjual gorengan yang mengenaliku, pesan ibu yang tiba-tiba masuk siang hari, atau saat hujan turun tepat ketika aku lupa membawa payung. Mungkin perjuangan sehari-hari ini justru sajak terindah—yang tak pernah selesai, tapi selalu punya ruang untuk stanza baru.