Titik Nadir Sang Pendosa
“Maunya, sih, di panggil Sayang. Cuma kayaknya nanti saja kalau kita sudah sah, biar lebih berasa romantisnya. Kalau mau sekarang ya tidak apa-apa juga, buat latihan biar nanti sudah terbiasa.”
Naura ternganga mendengar enteng sekali kalimat itu meluncur dari mulut Fatih. Dengan jarak usia hampir tujuh tahun, Naura tidak menyangka kalau dia masih akan tersipu mendengar gombalan duda beranak satu itu.
Dia yang terbiasa mendengar kalimat indah serupa ungkapan cinta para pujangga dari Indra, ternyata bisa salah tingkah juga mendengar ucapan simpel yang keluar dari mulut Fatih. Sederhana, tapi mengena.