Pertanyaan ini mengingatkan saya pada diskusi seru di forum sejarah beberapa waktu lalu. Sistem penanggalan Masehi memang dominan secara global, terutama dalam urusan bisnis dan diplomasi, tapi bukan satu-satunya. Di Timur Tengah, kalender Hijriah masih dipakai untuk acara keagamaan, sementara Tiongkok menggunakan kalender lunar untuk festival tradisional seperti Tahun Baru Imlek. Bahkan di Jepang, meski secara resmi pakai Masehi, mereka masih sering merujuk tahun era kekaisaran - contohnya 'Reiwa 5'.
Yang menarik, sistem ini sebenarnya produk kolonialisme Eropa. Dulu waktu kuliah antropologi, dosen pernah bilang kalau penetapan Masehi sebagai standar internasional lebih soal kekuasaan daripada kepraktisan. Sekarang sih udah jadi konvensi global, tapi tetep aja ada komunitas yang mempertahankan sistem lokal dengan bangga. Gue sendiri suka penasaran gimana rasanya hidup di masyarakat yang sehari-harinya pakai kalender berbeda.