My Beloved Trouble
Apalagi mengingat Daniel tadi menghinaku lagi, aku tidak mau terlalu ambil pusing masalah nyawanya.
Aku tertawa cekikikan pada Putra. “Hu’uh. Tapi…” tiba-tiba aku cegukan, “aku mau ke toilet dulu. Tunggu ya…”
“Okey, Sayang,” Putra mengecup pipiku.
Menerobos pengunjung club, aku kebingungan mencari toilet. Tubuhku dipenuhi energi, sayangnya kakiku tidak terkoneksi dengan baik. Aku tersandung kesana-kemari. Pandanganku juga sulit untuk fokus. Arah menuju toilet sudah berhasil kutemukan ketika aku melihat sepasang manusia berdiri di lekukan dinding club, tak jauh dari meja bar. Perasaan senangku menguap tiba-tiba, tergantikan dengan perasaan jengkel.
Sikat na Kabanata