Tukang Pijat Tampan
Ia sedang berpikir keras, otaknya berputar cepat mencari celah, mencari solusi.
"Adit," gumamnya pelan, tapi cukup keras untuk didengar. Lelaki tua itu menghela nafas panjang. Lalu menatap anak buahnya, " Empat orangmu yang ditangkap tadi? Itu bisa kita atur alibi, kita bantah, kita bilang mereka cuma preman kriminal biasa yang kebetulan menyerang orang. Tidak ada hubungan dengan aku. Tidak ada bukti kuat yang menghubungkan langsung."
Bambang mengangguk hati-hati. "Jadi, Pak… kita fokus ke target utama lagi? Ke Adit?"