SUJUD TERAKHIR EMAK
“Mbak, jangan bilang gitu. Dia adik kita. Kalau aku kerja, siapa lagi yang bisa jagain dia? Aku janji, nggak akan merepotkan. Cuma butuh tempat aman untuk Farhan sementara.”
Rini melipat tangan di dada, matanya menyipit penuh hinaan. “Man, dengar ya. Aku ini bukan panti sosial! Aku kerja keras untuk bisa tinggal di sini, bukan untuk ngurusin orang sakit. Apalagi orang lumpuh! Mau seberapa pun kamu memohon, jawabanku tetap sama yaitu TIDAK.”
Arman terdiam. Napasnya tercekat, tenggorokannya seperti tersumbat batu besar. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu itu hanya akan mempermalukannya sendiri.