Cacian Keluarga SuamiKu
Arthayasa memperhatikan wajahnya dalam remang cahaya lampu kota—garis luka samar di pipinya, mata cokelat gelap yang dulu hanya berisi takut, kini memantulkan tekad.
“Tahu nggak, Yu,” kata Arthayasa pelan, “aku dulu nggak percaya sama kata ‘rumah’. Buatku rumah itu cuma tempat di mana lo bisa ngunci pintu dan nggak ada orang jahat masuk. Tapi… sekarang aku ngerti, rumah itu ternyata bisa ada di orang. Dan buat aku, rumah itu ya… kamu.”
Ayudia terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya—bukan karena sakit, tapi karena terlalu hangat untuk ia terima di tengah dunia yang dingin ini.
Bab Populer