Mengikuti Kata Hati
Aromanya masih tercium di sekitarku, dan aku menghirupnya dengan rakus.
Mengingat ekspresi tidak percayanya barusan, aku tersenyum getir.
Xavier, kali ini, aku serius.
Aku benar-benar nggak akan mengganggumu lagi.
Aku akan menjauh darimu, seperti adik tetangga yang tak akan pernah bertemu lagi.
Keesokan harinya, Papa memanggilku ke ruang kerjanya untuk membahas tentang pertunangan.
Kalimat pertamaku adalah, “Papa, aku nggak ingin menikahi Xavier lagi. Aku ingin pergi ke Selandia Baru untuk mengurus bisnis keluarga.”