Cinta Terbalut Benci
gumam Pak Raden sesaat setelah menyesap kopi hambar dari gelas belimbing, bukan lagi cangkir mewah yang senilai ratusan bahkan jutaan rupiah.
Sementara itu, Ibu Medina hanya bisa menghela napas dari ambang pintu utama rumah sempit tersebut. Pandangannya terlempar jauh ke arah depan, dan pikirannya melayang entah ke mana. Gaya sosialita kini tidak lagi membalut setiap jengkal bagian tubuhnya. Perhiasan mewah sudah habis dijual, kecuali satu cincin pernikahan. Tidak ada lagi kumpul-kumpul ceria bersama geng sosialita-nya.
Kemudian, Ibu Medina mendengkus kesal. "Aku tidak bisa hidup begini, Pa," ujarnya kepada Pak Raden yang posisinya tidak jauh darinya.
Bab Populer