Terjerat Pesona Papa Temanku
Tangisnya sudah bukan lagi suara—hanya sisa-sisa napas yang terputus-putus, seperti seseorang yang hampir tenggelam.
Rasanya… dunia runtuh tepat di atas kepalanya.
Ia memeluk lututnya erat-erat, seolah hanya itu yang bisa menahan tubuhnya tetap utuh. Tapi bahkan pelukan itu pun tak memberikan rasa aman. Hatinya hancur, benar-benar hancur, sampai ia tak tahu bagian mana yang harus ia rangkai lagi.
“Kenapa…” suaranya pecah, nyaris tak terdengar. “Kenapa semua orang yang aku cintai malah nyakitin aku?”