Menuju Matahari
“Aku ini ahli dalam menanyai orang, untuk memeras keterangan. Ada ilmunya untuk itu, termasuk untuk melihat tanda-tanda kecil dari gerak tubuh atau roman muka bahwa seseorang bicara jujur atau tidak. Jadi jangan macam-macam denganku, Anak Muda!”
“Sok tahu!” Wisnumurti mendengus. “Daripada malah membicarakan urusan tubuh dan hubungan intim, kita harus bicarakan apa rencana terdekat kita besok pagi sesudah matahari terbit dan baju kita kering lagi. Apakah kita akan menyelinap masuk menyelidik ke istana kadipaten, atau mencoba menghubungi Paman Nipir dan Paman Randu, atau langsung saja kita menuju Pasir dan ceritakan ini semua pada Pangeran Wiratmaka.”