Bias Cinta
Kemudian, ia mengatur napas, agar debaran jantungnya tidak terlalu kacau.
Felix geleng-geleng. “Percaya sama aku, kamu nggak akan nemu celah sama sekali, karena restu ibumu sudah kukantongi. Dan itu yang paling utama. The power of orang dalam.”
“Jadi begitu cara mainnya?”
“Yap!” Felix tersenyum miring. “Langsung di jalur yang resmi. Dan itu menandakan kalau aku serius.”
“Kenapa rasanya kayak … too good to be true,” gumam Dinda meletakkan garpu, lalu memangku wajah dengan satu tangan, “Kayak … Cinderella yang nikah dengan pangeran.”