Gairah Liar Perselingkuhan
Gairah itu terasa lebih membakar daripada sebelumnya, api yang tak pernah ku tahu bisa sepanas ini.
“Ah… ah… Tuan… ah…” rintihnya, pinggulnya bergerak, mengikuti ritme yang kubuat. “Ya… lagi… lagi, Tuan…”
Aku membawanya ke ruang kerja, ke perpustakaan, ke kolam renang di belakang rumah. Setiap ruangan menjadi saksi bisu dari nafsu yang tak terkendali. Di kamar mandi, di bawah guyuran air hangat, kami kembali bercinta. Tubuh kami yang basah saling bergesekan, licin, dan gerakan kami menjadi lebih eksplosif. Siti memelukku erat, matanya terpejam, air mengalir membasahi wajahnya, bercampur dengan keringat dan air mata kenikmatan. Aku membawanya ke puncak berkali-kali, menguras setiap ons tenaga