Qolbu Quddus
Fikri hanya diam menatap sendok tepat didepanya mulutnya, tanpa mau membuka mulutnya.
“Ayo, buka mulutnya. Biar saya yang suapin, saya tau pasti jari jemari anda sangat lelah seharian didepan komputer. Makanya saya berinisitif mengistirahatkan jari-jari itu, biar jari-jariku yang menyuapinmu. Jika tidak mau, aku tinggal telpon sekretarismu, memberitahukan bahwa aku adalah istrimu.” Lagi-lagi ancaman itu, mampu membuat Fikri mati kutu, dengan geram dia membiarkan tangan mungil itu menyuapinnya. Terkadang Safira juga merasa sedih bercampur bahagia, bahagia karena Fikri mau memakan masakannya dan menuruti kemauannya, disisi lain dirinya sedih, karena Fikri tidak mengangap dirinya istri, bahkan
Hot Chapters