ISTRIKU BUKAN ISTRIKU
“Jangan Em, dosa. Yang kalian lakukan sudah dosa, jangan nambahin deretan dosa lagi.”
“He! Hidup kami memang sudah berlumpur dosa. Gak ingat apa, aku sudah banyak bunuh orang. Tidak masalah kan kalau tambah satu lagi. Lagi pula di belum punya nyawa, pasti belum ada bentuknya juga. Aku tinggal minum pil aborsi, beres. Lagian, aku dipaksa, aku diperkosa. Apa aku salah jika aku tidak terima kalau aku hamil anak si brengsek itu!” Emma berucap keras. Menumpahkan segala rasa yang memenuhi dadanya.