ANAK TUKANG CUCI PIRING
tanyanya, raut wajahnya nampak begitu heran.
“Saya sedang bekerja.”
“Bekerja? Kerja apa?”
“Saya merias pengantin wanita,” jawabku sesopan mungkin.
“Oh, kamu jadi tukang make up?” katanya lagi, aku hanya mengangguk.
“Banyak uang, dong. Kapan bayar utangmu pada Abi?”
“Utang?” ulangku tak mengerti.
“Loh, loh, loh. Kan rumahmu itu dibuat sama uang Abi. Sekarang ‘kan kalian sudah bukan suami istri,” tandasnya membuat hatiku terasa dihujam ribuan duri.