LOGINMargareta mengalami nasib sial berturut-turut. Dirinya tak hanya dipecat dari pekerjaannya sebagai seorang arsitek muda. Dia juga mengalami sebuah kecelakaan. Gara-gara itu, dia menjadi lumpuh. Suatu hal yang membuat dia frustasi karena dirinya menjadi cacat dan pengangguran. Padahal, ibunya mengalami depresi karena perceraian dan butuh banyak biaya untuk terapi di RSJ. Margareta tetap berjuang. Dia mengirimkan banyak lamaran kerja di berbagai perusahaan dalam keadaan lumpuh karena tabungannya sudah hampir ludes. Di saat itulah, lamaran kerjanya diterima di sebuah perusahaan konstruksi. Margareta bertemu dengan CEO perusahaan High Level. Di luar dugaan, sang CEO tak hanya menawarkan gaji fantastis tapi juga sebuah pernikahan dan hidup mewah. Margareta mau menerimanya dengan syarat tambahan, yakni membantunya menangkap dan menghukum orang yang melakukan tabrak lari pada dirinya. Instagram penulis: @bonanzalalala
View More“Bajingan!” teriak Rangga, suaranya ketahan angin.
Angin kencang menyapu lereng gunung. Seng tua di atap pos tiga berisik, kebanting tiap diterpa angin, bunyinya nyeret—kraaang, kraaang—membuat kuping tidak nyaman. Rangga duduk di dalam bilik kecil yang sudah setengah miring, punggungnya menempel ke dinding kayu yang dingin. Di tangannya, HP menyala. Sebuah foto—dia dan seorang cewek. Sekarang… mantan. Orang yang bikin dia ada di sini. Naik gunung sendirian, bawa tas berat, niatnya healing… malah kena badai. Rangga menatap foto itu beberapa detik, lalu menarik napas pelan. “Besok-besok,” gumamnya, “gue gak mau pacaran sama anak fakultas seni.” “Apalagi jurusan seni elektro.” Rangga berhenti sebentar, lalu mengernyit. “Seni tapi listrik… itu gimana? Instalasi stop kontak tapi penuh makna?” Dia geleng pelan. “Gue diputusin sama orang yang mungkin nangis liat kabel kusut.” Jempolnya berhenti di layar, sebelum akhirnya menekan delete. Foto itu hilang. Gak ada lagi backup perasaan. Rangga mematikan layar, menyandarkan kepala ke dinding, mencoba tenang—meski angin di luar justru makin jadi. Pintu pos tiba-tiba kebanting keras. DUAK. Rangga menoleh, ekspresinya datar. “Gue mau healing…” katanya pelan, “…malah kena badai di pos tiga.” Dia melirik keluar. Gelap total. “Apes banget, anjing.” HP dimasukkan ke kantong. Resleting jaket ditarik sampai mentok ke leher, tubuhnya dirapatkan menahan dingin yang mulai menusuk. Di luar, angin berputar aneh. Tidak hanya kencang tetapi arahnya juga berubah-ubah, seperti berkumpul di satu titik. Hujan turun makin deras, lalu—aneh—sepersekian detik semua suara seperti hilang. KRAAAK! Petir menyambar tak jauh dari pos. Dalam kilatan itu, bayangan pepohonan terlihat jelas—terlalu jelas. Dan di antaranya… ada sesuatu atau seseorang. Duduk di atas batu besar, beberapa meter dari pos. Diam. Telanjang. Gelap lagi dan Rangga menyipit. “…Itu apaan.” Dia mengucek mata cepat. “Jangan bilang… orang?” Suara hujan kembali, lebih keras dari sebelumnya. Angin menggila, pintu pos kebanting berkali-kali sampai kayunya mulai berderak. Lalu, tanpa alasan yang masuk akal, pintu itu justru terbuka perlahan. Padahal arah angin berlawanan. Dingin langsung masuk bersama kabut tipis yang merayap ke dalam. Dari luar, terdengar langkah kaki. Pelan, berat, teratur—menginjak tanah basah tanpa tergesa. Sosok itu muncul di ambang pintu. Basah kuyup, tubuhnya penuh bekas gosong tipis. Tapi tatapannya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri di tengah badai seperti itu. Dia tidak masuk. Hanya berdiri di sana, diguyur hujan. “Ini wilayah siapa?” Suaranya datar. “Aku melanggar batas tanpa izin.” Anehnya, air hujan seperti sedikit menghindari tubuhnya. Rangga langsung berdiri. “Woi! Monyet! Jomok! Babi!” Carrier ditarik ke depan seperti perisai. “Mau ngapain lu, anjing?! Mau perkosa gue, ya?!” Tangannya merogoh tas, menemukan palang tenda, lalu mengarahkannya ke depan—gemetar tapi nekat. “Pergi! Pergi, woi!” Pria itu tidak bereaksi seperti yang diharapkan. Tidak marah dan Ttdak mundur. Dia hanya memperhatikan—carrier, besi di tangan Rangga, semuanya—dengan tenang, seperti sedang menilai. Lalu dia melangkah masuk. Satu langkah saja, pelan, hati-hati. “Jika aku berniat mencelakaimu,” katanya datar, “kau tidak akan sempat berdiri.” Rangga makin emosi. “Lu siapa, anjing?! Dari mana?! Setan lu, ya?!” Besi itu diarahkan lurus ke wajahnya. Pria itu mendekat lagi. Tangannya terangkat pelan, lalu menyentuh ujung besi itu. Rangga masih menggenggam kuat—tapi besi itu berhenti. Tidak bisa maju, seolah menabrak sesuatu yang tak terlihat. “Ini bukan senjata,” kata pria itu. Dia melepaskannya, dan tiba-tiba besi itu kembali ringan. “Aku bukan setan.” Dia menatap langsung ke mata Rangga. “Aku manusia. Namaku Wira.” Angin di luar mereda sesaat, seolah memberi ruang. “Aku tidak mengenali tempat ini,” lanjutnya. “Dan aku tidak mengenali cara bicaramu.” Rangga masih terpaku, tapi mulutnya tetap jalan. “Lu dari mana?! Ngapain telanjang?! Lu gila, ya?!” Lalu dia berhenti sendiri, bergumam pelan, “Goblok… gue anak psikologi. Mana mungkin orang gila bisa setenang ini…” Dia menatap lagi. “Lu… Wira, kan? Mau ngapain?” Wira memperhatikannya lebih fokus sekarang. “Kau berubah cara bicara. Tadi kau mengusir. Sekarang kau bertanya.” Dia melangkah masuk sepenuhnya. Pintu di belakangnya menutup pelan. Wira berdiri tegak, air masih menetes dari tubuhnya, tapi napasnya stabil—seolah dingin tidak berpengaruh. “Namaku Wira,” ulangnya. “Aku bertapa di puncak.” Dia menunjuk ke arah luar, ke atas gunung. “Aku hampir menembus tahap Dharmasraya. Lalu petir datang. Aku tidak menghindar—seharusnya itu ujian.” Dia melihat tangannya sendiri sejenak. “Saat aku sadar… aku sudah di sini.” Tatapannya kembali ke Rangga. “Pakaianku terbakar." “Ini wilayah siapa?” tanyanya lagi, kini sedikit lebih tegas. “Aku harus meminta izin.” Rangga menatap pria itu sebentar, lalu menjawab, “Izin ada di bawah, di pos simaksi. Lu orang sini apa pendaki nyasar sih?” Wira diam sejenak, mencerna. “Simaksi…” ulangnya pelan, seolah itu nama sesuatu yang penting. Lalu dia menggeleng. “Aku tidak mengenal itu.” Dia menoleh ke arah bawah gunung, mengikuti arah yang dimaksud Rangga. “Kalau begitu, penjaga wilayah ada di sana.” Tatapannya kembali ke Rangga, turun sebentar ke jaket, ke tas, lalu naik lagi. “Kau penghuni sini… atau juga tamu?” Rangga mengernyit. “Lu gak mau ngapa-ngapain gue, kan?” Nada suaranya masih waspada. Wira menatapnya dan tidak langsung menjawab. Seolah pertanyaan itu sendiri terasa aneh baginya. “Ngapa-ngapain?” Dia mengulang pelan, lalu melirik posisi Rangga—badan tegang, besi masih terangkat. “Jika aku ingin mencelakaimu, aku tidak perlu bertanya sejak awal.” Nada suaranya tetap datar. Dia lalu bergeser sedikit, memberi ruang dari jalur pintu. “Aku tidak punya urusan denganmu.” “Aku hanya perlu memahami tempat ini.” Rangga akhirnya menurunkan besinya. Dia masih menatap Wira beberapa detik, memastikan pria itu tidak bergerak aneh, sebelum membuka carrier-nya. Dari dalam, dia mengambil kaos dan celana, lalu menyodorkannya. “Pake baju dulu, nih. Baru ngobrol. Gak enak gue liat lu telanjang gini.” Wira melihat pakaian itu. Tatapannya berpindah dari baju ke wajah Rangga. “Kau memberiku ini?” Dia menerimanya pelan, lalu membolak-balik kain itu seperti sedang mempelajari benda asing. “Ini pakaian… milikmu?” Tanpa banyak komentar, dia mulai memakainya. Gerakannya kaku karena tidak terbiasa. Kaos masuk agak miring. Celana berhasil dipakai, tapi dia berhenti sebentar di bagian pinggang. “Kenapa harus diikat sekuat ini?” Beberapa detik kemudian, selesai. Tidak rapi, tapi cukup. Dia berdiri lagi. Kini, setidaknya secara kasat mata, dia tampak seperti manusia normal. Wira menatap Rangga. “Lebih pantas begini?” Nada suaranya tetap datar, tapi ada sedikit penerimaan. Hujan di luar mulai mereda. Angin masih ada, tapi tidak seganas tadi. “Sekarang kita bisa bicara,” lanjutnya. “Kau belum menjawab. Kau penghuni wilayah ini… atau hanya lewat seperti aku?” Rangga menghela napas pendek. “Gue? Ya lewat. Pendaki.” Dia menatap Wira, masih curiga. “Lu dari mana? Naik dari jalur mana? Dan kenapa bisa telanjang? Jangan bilang kesamber petir—orang gak mungkin selamet abis kesamber petir.” Wira mendengarkan tanpa menyela. “Pendaki…” ulangnya pelan, seperti menyesuaikan istilah. “Aku dari atas.” Dia menunjuk ke arah puncak. “Aku tidak berjalan melalui jalur seperti yang kau maksud.” Dia berhenti sebentar. “Dan aku memang tersambar petir.” Dia mengatakannya tanpa ragu. Tanpa dramatis. Seolah itu hal biasa. Tatapannya kembali ke Rangga. “Kenapa menurutmu manusia tidak bisa selamat?” Di luar, petir menyambar lagi. Cahaya sesaat masuk ke dalam pos. Bayangan Wira terlihat jelas di dinding—tegak, tenang, tidak gemetar sama sekali. “Tubuh bisa hancur,” lanjutnya, “jika tidak dilatih.” Dia melirik jaket Rangga. “Kau menahan dingin dengan benda.” Tatapannya kembali. “Aku menahannya dari dalam.” “Jadi… kenapa tidak mungkin?” Rangga menganga. “Cara ngomong lu aneh banget.” Dia menggeleng. “Dan jelas lah, jutaan volt itu gak mungkin ditahan tubuh manusia. Lu gak pernah sekolah apa gimana sih?” Wira diam beberapa detik, benar-benar memproses. “Sekolah…” ulangnya. “Tempat belajar?” “Aku belajar dari guruku,” katanya tenang. “Dan dari tubuhku sendiri.” Dia lalu duduk di lantai kayu, bersila, seolah itu hal paling wajar. “Kau bilang jutaan volt. Aku tidak tahu itu apa.” Tatapannya naik lagi. “Tapi aku tahu batas tubuhku.” “Dan saat itu… aku belum hancur.” Dia memiringkan kepala sedikit. “Berarti aku masih hidup. Itu cukup bukti.” Rangga akhirnya ikut duduk, meski matanya masih waspada. “Dih… ini orang kayaknya kena skizo ringan,” gumamnya. Lalu dia berkata lebih jelas, “Gini aja deh, Wira. Abis hujan reda, gue temenin lu turun ke pos simaksi. Ntar lu tanya-tanya sama ranger sana.” Wira mendengarkan. Istilah itu lewat begitu saja tanpa reaksi. “Ranger…” ulangnya. “Penjaga wilayah?” Dia mengangguk pelan. “Baik. Jika itu cara di tempat ini, aku akan ikut.” Wira menatap ke luar pos. Hujan masih turun deras, angin nyeret air sampai masuk ke lantai kayu. Dia berdiri, lalu jalan keluar. “Woi, ngapain lu—” kata Rangga, ikut berdiri. Wira tidak menjawab. Dia hanya lihat ke langit sebentar, lalu menghentakkan kakinya ke tanah tiga kali. Duk. Duk. Duk. Rangga mengernyit. “Lu lagi ngapain sih?” Setengah detik tidak terjadi apa-apa. Lalu… anginnya hilang. Hujan yang tadi deras langsung berhenti. Tiba-tiba saja tidak ada air yang jatuh di sekitar mereka. Rangga langsung nengok ke atas. Awan masih ada, gelap masih sama. “…Hah?” Dia nengok ke depan, ke samping, terus balik lagi ke Wira. “Lu barusan… apaan itu?” Wira berdiri santai. “Biar gak basah. Kita bisa langsung ke penjaga wilayah itu.” jawabnya datar. Rangga bengong beberapa detik. “…Anjing.”Melihat interaksi Reta dan Doni membuat hati Rumi terasa tentam, ini yang sebenarnya ingin ia rasakan ketika melihat Reta bersama dengan Dirga.Dirga bukan suami yang buruk, namun dari beberapa sisi tak disadari justru itulah yang membuat siapapun sakit termasuk Reta sendiri.Lihat kedekatan Reta dan Doni saat ini tanpa sadar sekelebat ide gila muncul dalam otak Rumi, dan entah setan apa yang merasukinya saat ini ia mulai mengeluarkannya ponsel miliknya.‘Dirga harus tahu, aku juga perlu menguji rasa cintanya pada Reta,’ ucap Rumi dalam hati.Jprettt.Rumi menangkap gambar Reta dan Doni secara diam-diam.Dari tangkapan gambarnya Rumi berhasil menangkap potret Reta dan Doni yang nampak sangat dekat, lalu tanpa ragu ia langsung mengirim foto itu ke nomor Dirga.‘Sesekali Dirga memang pantas dapatkan hal ini,’ ucap Rumi dalam hati.Pesan singkat berisi beberapa foto bahkan video kedekatan Reta dan Doni telah terkirim namun belum dibaca oleh CEO kaya raya itu.‘Mungkin dia masih sibuk, ta
Dirga berdecak usai menonton video kiriman sang mama. Dia masih berada di Jepang sekarang. Selain memang ingin lari dari situasi pernikahan yang tidak dia inginkan sejak awal, dia memang memiliki beberapa tender proyek pembangunan gedung milik orang Indonesia yang dikembangkan di Jepang.Tentu saja Dirga tak bisa semudah itu bepergian. Dia harus bertanggung jawab mengecek harian proses pembangunannya dan mengawasi rancang bangunan sesuai dengan desain dan kekokohan bangunan atau tidak.“Dia terlihat lebih sehat,” gumam Dirga. Telunjuknya mengusap tepat di bagian wajah Reta tampak di layar ponselnya. Dalam hati, Dirga turut berbahagia karena Reta menunjukkan hasil pengobatan yang positif.Sebuah ketukan terdengar dari luar ruang kerja Dirga. Segera Dirga berhenti menatap ponselnya. Dia menaruh ponselnya di meja dan mempersilakan tamunya masuk.Tampak asistennya datang dengan setumpuk laporan progres pembangunan yang memang Dirga inginkan. Dirga termasuk tipe orang yang ketat dalam hal
Reta mengikuti pemeriksaan awal ke rumah sakit untuk melihat saraf kaki dan punggungnya. Dia mengikuti rangkaian pemeriksaan dan hasilnya keluar sekitar satu jam kemudian.“Dok, bagaimana dengan kondisi saya? Apa masih ada kemungkinan bagi saya untuk berjalan?” tanya Reta penuh harap. Dia termasuk sudah telat untuk menjalani terapi saraf dan jalan karena tak memiliki biaya. Namun, dia tetap berharap bahwa dia bisa kembali jalan kaki.“Ada beberapa saraf yang terjepit tapi masih bisa dikembalikan ke posisi semula dengan operasi dan terapi,” tutur si dokter. “Setidaknya Anda harus melakukan operasi dan terapi. Butuh waktu lama untuk penyembuhan. Sekitaran satu atau dua tahun.”Reta terkesiap dalam kebingungan. Ada harapan besar bagi dia untuk kembali sembuh. Namun, dia butuh waktu maksimal dua tahun agar bisa sembuh.Sebuah sentuhan lembut jatuh di kedua pundak Reta. Reta tersentak dan tersadar dari lamunan kebingungannya.“Reta, Mama nggak masalah soal biaya pengobatanmu kok,” bisik Ru
“Ga, mau ke mana?” tegur Zidan saat acara makan siang untuk merayakan pernikahan Dirga dan Reta selesai digelar.Langkah Dirga terhenti sebentar. Dia menoleh ke arah papanya yang sedang mengobrol bersama dengan adik-adik Dirga.“Ke kantor. Ada rapat dan sore nanti aku harus ke Jepang,” jawab Dirga. Dia menunjukkan koper biru tua yang ada di tangannya itu.“Ini hari pertama pernikahanmu, Ga. Di rumah dulu saja,” suruh Zidan. “Kamu nggak menghargai Reta sebagai istrimu.”“Aku sudah menuruti keinginan Papa dan Mama buat menikah. Sekarang terserah aku dong mau ngapain. Yang penting aku udah nikah, kan?” timpal Dirga. Dia mengingatkan kembali perjanjiannya dengan Zidan dulu. “Udah ya, Pa. Aku ada kerjaan menumpuk dan belum aku urusi gara-gara sibuk menyiapkan pernikahan ini.”“Reta bagaimana?” tanya Zidan. Dia mencoba bersabar menghadapi anak sulungnya yang memang terlampau bandel sejak kecil itu.“Reta kan harus pengobatan. Mendingan langsung bawa ke Singapura aja,” tutur Dirga. “Aku suda
"Kamu ngapain di sini?" hardik Dirga. Dia menatap kesal ke arah Reta yang ada di dalam kamarnya."Ka-kata Mama ini kamar buatku," jawab Reta terbata. Dia sama sekali tak tahu jika kamar itu akan digunakan oleh Dirga."Ini kamarku tahu!" ujar Dirga ngegas. Pria itu mendekati Reta. "Sana pergi!""Nggak m
“Kak Doni?” Reta terkaget melihat kakak laki-laki Ninda yang datang.Dia menggerakakn kursi rodanya ke arah Doni. Dia menatap heran kedatangan Doni yang mendadak.“Kenapa ke sini, Kak? Ninda nggak kasih kabar sama aku kalau Kak Doni ke sini,” tutur Reta dengan sedikit antusias.Dirga menatap jutek ke a
“NINDA!” seru Reta riang saat tiba di rumah Ninda.Ninda yang menunggui Reta di ruang tamu langsung berlari keluar dan membukakan pintu rumah. Dia tersenyum melihat Reta yang berteriak senang hingga kedua tangannya diangkat ke atas semua.“Gimana, Ret? Kabar baik nih pasti,” Ninda menghampiri Reta.
Baru saja keluar dari lokasi tes wawancara, ponsel Reta sudah berdering. Reta merogoh saku roknya. Dia bisa melihat nama Rumi ada di layar ponselnya.Reta menggerakkan kursi rodanya ke pinggiran. Dia menerima telepon di tepian lorong tempat dirinya tes wawancara tadi.“Iya. Apa kabar, Bu Rumi,” sap












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews