Diantara Dua Cincin
Ia cuma butuh sendiri.
Di dalam, lampu meja jadi satu-satunya cahaya. Nadira duduk, lalu membuka lagi berkas dari Maya. Kertas-kertas itu rapi, tapi isinya bikin dada sesak—angka, tanggal, nama, semuanya jelas.
Nadira nggak nangis.
Tangannya pelan membalik halaman. Dibaca lagi dari awal, seolah berharap ada yang salah. Tapi makin dibaca, makin jelas semuanya.