Cinta Cita
tanyanya pada pria yang berdiri di belakang kursi roda dan baru saja mengunci rodanya.
“Mbak Cita bisa sendiri, kok, Mas.”
“Bisa sendiri?” Mungkin benar, Cita bisa berpindah sendiri ke kursi rodanya. Namun, tetap saja Duta tidak tega melihatnya.
“Bisa,” jawab Cita dengan senyuman pada Duta. “Tanganku kuat, kok, buat nyangga badan. Udah biasa. Kalau di Singapur, mobilnya papa sudah dimodif jadi lebih enak naik turun. Terus—”
Hot Chapters