Putriku Kelaparan di Rumah Mewah Suaminya
Aku tertawa sekilas.
“Ingat umur, Pak. Dulu Bapak memang jawara kampung, disegani para pemuda dan disayang para orang tua. Tapi sekarang, kamu aja sering mengeluh sakit pinggang,” kekehku. “Yang ada, Bapak yang kepleset sebelum menyentuh lawan. Bisa-bisa satu minggu kita bau balsem, Pak. Haduh ampun, Pak”
Suamiku tertawa terpingkal-pingkal sampai dia mengurut perut. “Ibu hapal aja kesalahan suami sendiri,” gelaknya.
Hot Chapters