Ada kalanya diam justru menjadi bahasa yang paling sulit diterjemahkan. Dalam hubungan, pria mungkin memilih mendiamkan wanita bukan karena ada masalah besar, melainkan karena cara mereka memproses emosi berbeda. Beberapa teman cowokku bilang, mereka butuh ruang untuk berpikir tanpa tekanan, seperti 'reboot' otak setelah hari yang melelahkan. Aku pernah baca di sebuah artikel psikologi populer bahwa laki-laki cenderung 'menyimpan' emosi di 'kotak mental' terpisah – saat satu kotak dibuka, yang lain harus ditutup. Bedanya dengan perempuan yang lebih multitasking dalam mengolah perasaan.
Di lain sisi, diam juga bisa jadi bentuk pertahanan diri pasif. Misalnya nih, dari pengalaman temanku yang pacaran 5 tahun, cowoknya sering silent treatment ketika merasa dikritik terlalu langsung. Daripada konfrontasi, mereka memilih mundur sementara. Tapi jangan salah, ini bukan berarti mereka nggak peduli. Justru kadang mereka terlalu peduli sampai takut salah bicara dan memperburuk keadaan. Lucunya, menurutku ini seperti plot twist di drama romantis – di mana miskomunikasi jadi bumbu cerita yang bikin penonton geleng-geleng kepala.