Mengejar Cinta Suami Dinginku
Clara memijat pelipisnya sejenak, lalu berkata sabar, “Enggak cukup, Qia. Di analisis kompetitor itu, gak cuma sebut nama sama deskripsi. Harus ada pembanding—keunggulan dan kelemahan masing-masing brand dibanding konsep bisnis kamu.”
Qiana melongo. “Pembanding?”
“Contoh,” Clara mengetik cepat di laptopnya, lalu membalik layar menghadap Qiana. “Kamu bisnisnya kafe modern, kan? Nah, pesaing kamu misalnya Coffee House dan Dusk Café. Kamu jelasin, Coffee House unggul di lokasi strategis, tapi harga mereka di atas rata-rata mahasiswa. Dusk Café tempatnya cozy, tapi pelayanan mereka lambat. Bandingin itu sama konsep bisnismu. Paham?”
Hot Chapters