Pesugihan Kandang Bubrah
Setiap kali sinar lampu menyinari cermin, sebagian refleksi wajahnya hilang, terpotong oleh bayangan kabur.
Ia tahu, itu tandanya. Ada yang menyelubungi rumah mereka.
Dimas telah menaburkan pasir hitam di tiap sudut rumah. Ia mengikuti instruksi Pak Arwan dengan saksama: satu genggam untuk setiap pojok, satu garis tipis di sepanjang kusen pintu dan jendela. Di dekat ranjang Jatinegara, ia menggambar simbol sederhana dari daun lontar: lingkaran yang dilingkari titik-titik kecil, lambang pemisah antara dunia nyata dan celah yang tak terlihat.