ENAK, PAK DOSEN!
“Maafkan ibu, Nak. Ibu belum siap bertemu ayahmu. Ibu tahu kamu rindu, tapi tahan dulu. Kita hanya bisa melihatnya dari kejauhan.”
Bulir bening yang ditahannya kini runtuh seketika. Bak air hujan yang mengguyur deras, anak mata Diana tak hentinya mengalir.
Terkadang yang terindah memang tidak diciptakan untuk dimiliki. Cukup dipandangi dari jauh, bahwa dia ada di sana untuk dikagumi dalam diam.
Diana segera menyenderkan kepala ke arah jendela. Anak matanya kemudian memandang keluar. Hari sudah beranjak siang. Entah kemana lagi dia akan pergi saat ini.
ตอนยอดนิยม