SUAMIKU MATI DI TANGANKU
Tidak ada pilihan, aku menjawab telepon Ibu seperti apa yang diperintahkan.
“Hello, ibu,” jawabku setenang mungkin agar Ibu tidak mendengar suaraku yang gemetaran.
“Jana, kenapa ngga angkat telepon Ibu dari tadi?” Suara ibu cemas di seberang telepon.
“Maaf, Ibu. Sinyal di sini sangat jelek.”
“Apa kalian sudah sampai?”
“Sudah, buk.”
“Bagus villanya?”
“Iya, bagus.”