Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran
Ia mengenal Reis cukup lama untuk tahu bahwa setiap keputusan yang diambilnya tidak pernah sederhana, tetapi kali ini ia benar-benar tidak bisa membaca apa yang ada di balik ketenangan itu.
Reis sendiri tidak terlihat tergesa. Ia berdiri di depan meja kerjanya, jari-jarinya menyentuh ringan permukaan kayu di samping dua surat yang masih terbuka. Tatapannya jatuh pada segel-segel itu sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
“Kalau begitu… izinkan mereka.”
Keputusan itu keluar dengan tenang, tanpa tekanan, seolah bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan lebih jauh.