Membaca 'Aroma Karsa' seperti menyelami samudra kata-kata yang memukau, dan Dee Lestari-lah sang penyihir di baliknya. Karya ini bukan sekadar novel biasa, melainkan eksperimen sastra yang memadukan mitologi, sains, dan filsafat dengan gemilang. Dee sudah lama menjadi favoritku sejak 'Supernova', trilogi yang membuka mataku pada bagaimana sastra bisa bermain dengan fisika kuantum. Gaya penulisannya selalu berani, seringkali mengangkat tema-tema kompleks tapi dikemas dengan cerita yang memikat.
Selain 'Aroma Karsa', ada 'Rectoverso' yang memukau dengan kolaborasi musik dan cerita, atau 'Madre' yang mendalami hubungan ibu-anak dengan sangat emosional. Yang kusukai dari Dee adalah konsistensinya menantang diri sendiri – setiap bukunya terasa seperti petualangan baru, baik dari segi tema maupun struktur penulisan.