Ada satu momen dalam hidup di mana aku merasa segala usaha tak cukup jika hanya mengandalkan diri sendiri. Doa, ikhtiar, dan tawakal bukan sekadar ritual, tapi seperti napas yang mengalir dalam keseharian. Aku biasa memulai pagi dengan merencanakan target harian sambil berbisik, 'Aku akan berusaha maksimal, tapi hasilnya aku serahkan pada-Mu.' Misalnya, saat mengerjakan proyek kantor, aku fokus menyelesaikan bagian terbaik yang bisa kubuat, lalu menghela napas lega sembari berkata, 'Ini batas kemampuanku, sisanya biar Yang Maha Kuasa yang menentukan.'
Di tengah kegagalan, aku belajar melihatnya sebagai bentuk 'jawaban' dari doa—bukan penolakan, tapi redirection. Ketika nilai ujian anakku jeblok, alih-alih marah, kami duduk bersama merancang strategi belajar baru sambil berdoa agar diberi kemudahan. Justru di situlah tawakal terasa nyata: ketika kita bisa tenang meski hasil belum sesuai harapan, karena percaya ada rencana lebih baik yang sedang dipersiapkan.