Dikta dan Hukum' karya Dhia'an Farah adalah novel yang menggabungkan elemen romansa, drama, dan konflik sosial dengan latar belakang dunia hukum yang kompleks. Ceritanya mengikuti perjalanan dua karakter utama, Dikta dan Hukum, yang memiliki latar belakang berbeda namun terjebak dalam situasi yang memaksa mereka untuk saling memahami dan tumbuh bersama. Dikta, seorang perempuan muda dengan masa lalu kelam, bertemu Hukum, seorang pengacara idealis yang percaya pada keadilan. Dinamika hubungan mereka tidak hanya tentang percintaan, tetapi juga tentang perjuangan melawan ketidakadilan sistem.
Novel ini unik karena menggali sisi humanis di balik dunia hukum yang sering kali terlihat kaku. Dhia'an Farah berhasil menyelipkan kritik sosial halus tentang bagaimana hukum bisa menjadi alat bagi mereka yang berkuasa, sementara orang kecil sering menjadi korban. Konflik batin Dikta sebagai korban kekerasan dan perjuangan Hukum untuk tetap memegang prinsipnya di tengah tekanan menciptakan ketegangan yang menarik dari awal hingga akhir.
Yang bikin buku ini memorable adalah cara penulis membangun chemistry antara dua karakter utamanya. Dialog-dialog mereka kadang pedas, kadang lembut, tapi selalu terasa autentik. Ada scene dimana Hukum harus memilih antara membantu Dikta atau mengikuti aturan hukum secara kaku yang bikin pembaca ikut dilema. Detail kecil seperti cara Dikta menggigit bibir bawahnya saat nervous atau kebiasaan Hukum merapikan kacamata saat grogi bikin karakter terasa hidup.
Setting cerita juga dikemas dengan detail yang memperkaya narasi. Mulai dari ruang pengadilan yang dingin sampai warung kopi tempat mereka sering bertemu, semuanya digambarkan dengan vivid. Novel ini bukan cuma sekedar cerita cinta biasa, tapi lebih seperti cermin tentang bagaimana hubungan manusia bisa tumbuh di tempat yang paling tidak terduga, bahkan di tengah sistem yang bobrok.
Terakhir, endingnya nggak cliché kayak kebanyakan novel romansa. Dhia'an Farah memberi resolusi yang realistis tapi tetap memuaskan, meninggalkan sedikit ruang bagi pembaca untuk berimajinasi tentang kelanjutan hubungan mereka. Setelah menutup buku, yang tersisa adalah rasa penasaran sekaligus kepuasan telah menyelesaikan kisah yang emosional dan thought-provoking.