Membicarakan karya Edgar Allan Poe selalu membuat bulu kuduk merinding. Dari semua karyanya, 'The Fall of the House of Usher' benar-benar menancap di memori karena atmosfernya yang suram dan psikologis yang menggerogoti. Poe membangun ketegangan lewat detail arsitektur rumah yang sekarat, lalu perlahan-lahan mengungkap kegilaan keluarga Usher. Adegan Madeline yang bangkit dari kuburannya sendiri—dengan deskripsi suara gesekan peti mati dan jeritan—masih sering kuhubungkan dengan mimpi burukku. Unsur supernaturalnya mungkin tidak seberapa dibanding cerita modern, tapi justru kesederhanaan narasinya yang membuatnya begitu mengganggu.
Yang membuatnya lebih menakutkan adalah bagaimana Poe bermain dengan konsep keturunan dan takdir. Roderick Usher bukan hanya takut pada kematian adiknya, tapi pada 'keturunan keluarga' yang ia yakini akan menghancurkannya. Ini seperti membaca slow-motion car crash: kita tahu rumah (dan keluarga) itu akan hancur, tapi Poe membuat kita tidak bisa berhenti menyaksikannya. Setelah membaca, aku sempat terganggu dengan bayangan rumah-rumah tua selama seminggu!