Aku selalu tertarik bagaimana sebuah kalimat sederhana bisa jadi judul yang melekat — dan itu juga terjadi pada 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Ungkapan ini pada dasarnya lebih seperti pepatah: maknanya universal, menggambarkan keluarnya harapan setelah masa sulit, jadi banyak penulis dan tokoh menggunakan atau merujuknya dalam karya mereka. Karena itu, sulit menunjuk satu pengarang tunggal untuk helaian kata itu; ada beberapa buku, esai, dan bahkan kumpulan sajak yang memakai frasa ini sebagai judul di berbagai periode.
Dari sudut pandang historis, kalimat semacam ini sering muncul dalam konteks perjuangan kemerdekaan dan kebangkitan nasional—orang-orang seperti tokoh pergerakan atau penyair kebangsaan kerap memakai metafora cahaya setelah gelap untuk menggambarkan akhir penjajahan dan harapan baru. Jadi, bila kamu lihat judul 'Habis Gelap Terbitlah Terang' pada sebuah buku atau pamflet, biasanya latar belakang penulisnya berkaitan dengan pengalaman politik, sosial, atau religi yang mendalam. Aku merasa frasa ini punya kekuatan universal itu: dia bisa jadi judul memoar, koleksi puisi, atau pamflet perjuangan, tergantung siapa yang memakainya.