Bias Cinta
Aura kebahagiaan terlihat jelas dan hal itu berbanding terbalik dengan pernikahannya dahulu kala.
“Nggak ada foto-foto juga, kan?” Cinta menunduk dengan helaan panjang. Ia sadar, semua yang telah terjadi adalah karena ulahnya sendiri. Jadi, mau tidak mau ia harus menerimanya dengan lapang dada. “Udahlah, nggak usah diingat lagi.”
“Nanti kita foto sendiri,” ucap Bias mengusap pelan lengan Cinta, “kapan maunya? Minggu depan? Nanti aku tanya fotografernya Dinda, siapa tau kosong minggu depan.”