Pendekar Tombak Matahari
Amarah, kesedihan, kekecewaan, berpadu menjadi satu.
“Den Bagus... Gendon sayang sama Den Bagus kayak saudara sendiri,” Gendon berkata pelan, suaranya sangat dingin. “Tapi darah keluarga Gendon nggak bisa dibayar pakai apa pun. Kalau surat ini bener ... Gendon harus ngapain?”
Surya Yudha mematung. Tombak Surya Buntala di tangannya terasa ribuan kali lebih berat. Markas Tedung Sukma memang sudah hancur, tapi badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.